LANDASAN NEUROLOGIS PADA BAHASA


Perkembangan bahasa manusia terkait erat dengan perkembangan biologinya. Pertumbuhan bahasa pada manusia mengikuti jadwal perkembangan genetiknya sehingga munculnya suatu unsur bahasa tidak dapat dipaksakan. Selain faktor biologis, faktor yang juga sangat penting dalam penguasaan bahasa adalah faktor neurologis yang membahas tentang kaitan antara otak manusia dengan bahasa. Neurologi mempunyai kaitan erat dengan bahasa karena kemampuan manusia berbahasa ternyata bukan hanya karena lingkungan tetapi karena kodrat neurologis yang dibawanya sejak lahir. Betapa besar peranan otak kita di dalam pemerolehan, pemahaman dan pemakaian bahasa. Proses bahasa itu dimulai dari enkode semantik, enkode gramatika, dan enkode fonologi, lalu dilanjutkan dengan dekode fonologi, dekode gramatikal, dan diakhiri dengan dekode semantik. Semua proses ini dikendalikan oleh otak yang merupakan alat pengatur dan pengendali gerak semua aktifitas manusia (Chaer, Psikolinguistik Kajian Teoritik 2003) tanpa otak dengan fungsi-fungsinya yang kita miliki sekarang ini, mustahillah manusia dapat berbahasa. Pada bahasan ini akan disajikan struktur dan organisasi otak manusia untuk memberikan jawaban terhadap masalah pemerolehan, pemahaman,dan pemakaian bahasa, serta akibat-akibat yang akan timbul bila ada gangguan pada otak.
1.      Evolusi Otak Manusia
Manusia tumbuh secara gradual dari suatu bentuk ke bentuk lain selama berjuta-juta tahun. Salah satu pertumbuhan yang telah diselidiki oleh para ahli Palaeneurologi menunjukkan bahwa evolusi otak dari primat Austrolopithecus sampai dengan manusia pada masa kini telah berlangsung sekitar 3 juta tahun. Hal ini tampak paling tidak pada ukuran otak yang membesar dari 400 miligram menjadi 1400 miligram pada kurun waktu 3-4 juta tahun yang lalu. Perkembangan otak ini dapat dibagi menjadi empat tahap. Tahap pertama adalah tahap perkembangan. Tahap kedua adalah adanya perubahan reorganisasi pada otak. Tahap ketiga adalah munculnya sistem fiber yang berbeda-beda pada daerah-daerah tertentu melalui corpus callosum. Tahap terakhir adalah munculnya dua hemisfir yang asimitris. Otak manusia merupakan pusat dari sistem saraf manusia dan merupakan organ yang sangat kompleks. Terlampir di tempurung kepala, ia memiliki struktur umum yang sama dengan otak mamalia lain, tetapi tiga kali lebih besar sebagai otak mamalia khas dengan ukuran tubuh setara. Sebagian besar ekspansi berasal dari korteks serebral, berbelit-belit lapisan jaringan saraf yang menutupi permukaan otak bagian depan. Terutama diperluas adalah lobus frontalis, yang terlibat dalam fungsi eksekutif seperti pengendalian diri, perencanaan, penalaran, dan berpikir abstrak. Satu diantara teori terdapat perbedaan kualitatif antara otak manusia seperti saat ini dan otak manusia dalam bentuk pra-manusia. Spink dan Cole (2006) menyebut apa yang diistilahkan sebagai transformasi neurologi dengan lompatan besar pada otak manusia, yang bisa menghasilkan transformasi dramatis pada bentuk kognitif manusia serta memperkuat kerja memori. Peristiwa ini terjadi mulai dari 40.000 sampai 75.000 tahun lampau.
Perbedaan antara otak manusia saat ini dan otak manusia prasejarah serta nenek moyang primata dapat dijelaskan dengan ukuran otak itu sendiri yang semakin meningkat. Terdapat peningkatan relatif sebanyak tujuh kali lipat pada ukuran otak dibanding massa tubuh mulai dari jaman kera sampai manusia hari ini (Jerison, 1973). Keadaan ini sering disebut dengan “bentuk terkuat dari hipotesa ensefalization” atau hipotesa unitari. Menurut hipotesa ini, hanya terdapat satu adaptasi evolusi pada evolusi manusia, yaitu ukuran otak, dengan ukurannya semakin lama semakin meningkat. Dalam evolusi manusia dari primata ke Homo sapiens, otak manusia berubah karena Homo sapiens mengembangkan kemampuan sosio-kognitif dan bekerja sama sehingga sukses bersaing. Otak manusia terus meningkat ukuran dan fungsinya; faktanya, peningkatan ukuran dan fungsi ini sangatlah cepat. Berkembangnya otak manusia ini disebabkan karena kebutuhan manusia untuk bekerja sama dalam kelompok demi mempertahankan persaingan melawan kelompok Homo sapiens lainnya. Hipotesa “kerja sama untuk bersaing” berarti hanya dikalangan manusia dan diantara diri mereka sendirilah yang dapat mengembangkan tantangan cukup besar sehingga menimbulkan proses adaptasi manusia. Oleh sebab itu diri manusia sendirilah yang menjadi kekuatan alam.
Otak seorang bayi ketika baru dilahirkan beratnya hanyalah kira-kira 40% dari berat otak orang dewasa; sedangkan makhluk primata lain, seperti kera adalah 70% dari otak dewasanya (Menyuk, 1971:31). Dari perbandingan tersebut tampak bahwa manusia kiranya telah dikodratkan secara biologis untuk mengembangkan otak dan kemampuannya secara cepat. Dalam waktu tidak terlalu lama otak itu telah berkembang menuju kesempurnaannya. Sewaktu dewasa manusia mempunyai otak seberat 1350 gram, sedangkan simpanse dewasa hanya 450 gram (Slobin, 1971: 118). Memang ada manusia kerdil yang termasuk nanocephalic yang berat otaknya hanya 450 gram waktu dewasa, tetapi masih dapat berbicara seperti manusia lainnya, sedangkan makhluk lain tidak (Lenneberg 1964). Perkembangan atau pertumbuhan otak manusia menurut Volpe (1987) terdiri atas enam tahap, yaitu:
Pembentukan tabung neural.
Profilerasi selular untuk membentuk calon sel neuron dan glia.
Perpindahan selular dari germinal subependemal ke korteks.
Deferensiasi selular menjadi beuron spesifik.
Perkembangan akson dan dendrit yang menyebabkan bertambahnya sinaps (perkembangan dendrit tergantung fungsi daerah tersebut).
Elimenisi selektif neuron, sinaps, dan sebagainya untuk spesifikasi.
Perkembangan tahap 1 sampai 4 pada masa kandungan, dan tidak dipengaruhi oleh dunia luar; sedangkan tahap 5 dan 6 berlangsung terus setelah lahir, dan dipengaruhi oleh dunia luar atau keadaan sekitarnya (Goodman, 1987). Pada tahap perkembangan ini ada dua masa yang merupakan masa terjadinya laju perkembangan pesat dalam otak, yaitu antara bulan kedua dan bulan keempat masa kandungan (yakni terjadinya pebelahan sel) dan antara bulan kelima kandungan sampai usia 18 bulan sesudah lahir (yakni terjadinya pertambahan oligodendroglia). Oleh karena itu, dua tahun pertama kehidupan disebut juga sebagai masa kritis perkembangan karena stimulasi dan intervensi pada masa ini memberikan perkembangan yang paling maksimal.
Meskipun sel otak dapat tumbuh dengan cepat pada saat bayi dalam kandungan, dan juga mampu memperbaharui diri ketika mengalami luka, namun adanya pertumbuhan dianggap tidak masuk akal, yang dianggap masuk akal justru kemerosotan mental secara gradual ketika seseorang bertambah tua. Hal ini terjadi karena ada beberapa sel otak yang mati dan tidak dapat diperbaharui lagi karena itu, pendapat yang mengatakan bahwa sel otak manusia terus berkembang sepanjang usia manusia sulit diterima oleh sejumlah pakar. Stroke (kerusakan pada pembuluh darah otak) dan berbagai penyakit yang disebabkan oleh kerusakan otak menjadi bukti bahwa tidak ada lagi pertubuhan sel otak pada manusia dewasa.
1.    Otak Manusia Vs Otak Binatang
Di samping bentuk tubuh dan ciri-ciri fisikal yang lainnya,yang membedakan manusia dari binatang adalah terutama otaknya. Dibandingkan dengan binatang lain seperti monyet dan anjing, volume otak manusia memang lebih besar. Akan tetapi yang memisahkan manusia dari kelompok binatang, khususnya dalam hal penggunaan bahasa, bukanlah ukuran dan bobot otaknya. Manusia berbeda dari  binatang karena struktur dan organisasi otaknya berbeda sehingga fungsi dan penggunaannya berbeda pula dalam hal bahasa.
Dari segi ukurannya berat otak manusia adalah 1 sampai 1,5 kilogram dengan rata-rata 1330 gram. Untuk ukuran orang barat, ini adalah 2% dari berat badannya;untuk manusia Indonesia bahkan mungkin kurang dari itu.Akan tetapi ukuran sekecil ini menyedot 15% dari seluruh peredaran darah dari jantung dan memerlukan 20% dari sumber daya metabolic manusia. Dengan demikian dari data di atas bahwa otak memerlukan perhatian khusus dari badan kita. Seluruh sistem saraf kita terdiri dari dua bagian utama: tulang punggung yang terdiri dari sederetan tulang punggung yang bersambung-sambungan dan otak itu sendiri terdiri dari dua bagian yaitu batang otak dan korteks selebral. Tulang punggung dan korteks selebral ini merupakan sistem saraf sentral untuk manusia. Segala yang dilakukan manusia baik berupa kegiatan fisik maupun mental itu dikendalikan oleh sistem saraf ini. Batang otak terdiri dari bagian-bagian yang dinamakan Medulla, Pons, Otak tengah, dan Cerebellum. Bagian-bagian ini terutama berkaitan dengan fungsi fisikal tubuh, termasuk pernapasan, detak jantung , gerakan , reflex , pencernaan dan pemunculan emosi. Korteks selebral menangani fungsi-fungsi intelektual dan bahasa.
Evolusi otak pada manusia dan pada makhluk lain berbeda. Pada makhluk seperti ikan , tikus , dan burung misalnya korteks selebral boleh dikatakan tidak tampak padahal korteks inilah yang sangat berkembang pada manusia. Pada makhluk lain seperti simpanse dan juga gorilla juga tidak terdapat daerah-daerrah yang dipakai untuk memproses bahasa. Korteks serebral pada binatang boleh dikatakan tiadak tampak, padahal korteks inilah yang sangat berkembang pada manusia. Manusia memakai sebagian besar otaknya untuk proses mental, termasuk proses kebahasaan, tetapi binatang lebih banyak memakai otaknya untuk kebutuhan-kebutuhan fisik.
Secara sederhana, perbedaan yang mendasar antara otak binatang dan manusia terdapat pada lapisan terluar otaknya. Inilah yang disebut sebagai Cortex Cerebri, atau sering disebut Cortex saja. Disinilah pusat aktifitas ’pikiran’ manusia berada dan ternyata seluruh peradaban manusia dihasilkan oleh aktifitas kulit otak ini. Itu pula, kenapa dunia binatang tidak memiliki peradaban seperti manusia – tidak punya sains, teknologi, seni budaya, bahkan agama – karena mereka tidak mempunyai cortex tersebut di otaknya. Lebih jauh, adalah menarik mendapati kenyataan bahwa pusat penglihatan dan pendengaran manusia ternyata juga terdapat di cortex-nya. Pusat penglihatan berada di kulit otak bagian belakang, sedangkan pusat pendengaran berada di bagian samping. Berarti, proses ‘melihat’ dan ‘mendengar’ itu sebenarnya identik dengan proses berpikir. Orang yang melamun, meskipun bisa melihat dengan mata dan mendengar dengan telinga, dia tidak bisa ’memahami’ apa yang sedang dilihat dan didengarnya. Pada saat demikian, dia tidak sedang mengaktifkan daya pikir cortexnya secara utuh, sehingga bisa disebut setara dengan ’binatang’. Pada kenyataannya, Hipocampus merupakan pusat memori yang menyimpan ’kesimpulan’ proses-proses rasional yang terjadi di Cortex. Secara fisiologis, Hipocampus terbentuk dari perluasan kulit otak yang melipat ke bagian dalam otak tengah. Bentuknya seperti huruf C. Dengan demikian, meskipun hipocampus berada di bagian dalam otak, sebenarnya ia adalah bagian dari cortex yang bekerja secara rasional, logis, dan analitis pula.
Mengerti bahasa dengan dapat berbahasa adalah dua hal yang berbeda. Hewan-hewan yang dilatih, seperti dalam sirkus memang mengerti bahasa karena dia dapat melakukan perbuatan yang diperintahkan kepadanya. Namun, kemengertiannya itu sebenarnya bukanlah karena dia mengerti bahasa, melainkan sebagai hasil dari respon yang dikondisikan, kemudian kalau brung beo dan burung nuri dapat “ngomong” bukanlah karena burung-burung itu dapat berbahasa, melainkan karena alat artikulasinya memungkinkan dia untuk dapat menirukan ujaran manusia yang dapat didengar atau dilatihkan. Kalau kita mengacu kepada teori generatif transformasi Chomsky yang mengatakan bahwa kemampuan berbahasa adalah kemampuan untuk menghasilkan kalimat-kalimat baru yang belum belum pernah didengar atau diucapkan orang, maka bisa disimpulkan bahwa hewan-hewan itu tidak dapat berbahasa, burung beo dan burung nuri itu hanya bisa mengucapkan kalimat yang pernah didengarnya, tetapi tidak dapat membuat kalimat-kalimat baru.
2.        Kaitan Otak dengan Bahasa
        Otak memegang peranan yang sangat penting dalam berbahasa. Telah diutarakan sebelumnya bahwa saraf-saraf tertentu dalam otak berkaitan dengan fungsi berbahasa baik lisan maupun tulisan. Ini dapat dibuktikan bahwa terdapat gangguan berbahasa bagi orang yang mengalami kerusakan otak atau kecelakaan yang mengenai kepala, selain itu juga dilakukan eksperimen terhadap saraf-saraf diotak bagi orang yang sehat. Saraf-saraf dalam otak berkaitan dengan fungsi berbahasa adalah daerah broca, daerah wernicke, dan daerah korteks ujaran superior atau daerah motorsuplementer. Berdasarkan tiga daerah saraf tersebut dapat dikatakan bahwa terdapat bagian-bagian tertentu pada saraf-saraf di otak kiri manusia yang mempengaruhi manusia untuk menghasilkan ujaran untuk berbahasa dan berkomunikasi dengan sesama.
3.        Hemisfer Kiri dan Hemisfer Kanan
Kedua hemisfer otak memunyai peranan yang berbeda bagi fungsikortikal. Fungsi bicara-bahasa dipusatkan pada hemisfer kiri bagi orang yang tidak kidal. Hemisfer kiri juga disebut juga hemisfer dominan bagi bahasa dan korteksnya dinamakan korteks bahasa. Hemisfer dominan atau superior secara morfologis memang agak berbeda dari hemisfer yang tidak dominan atau inferior. Hemisfer dominan lebih berat dan girusnya lebih besar serta panjang. Hemisfer kiri juga berperan untuk fungsi memori yang bersifat verbal (verbal memory).Sebaliknya hemisfer kanan memunyai fungsi emosi, lagu isyarat (gestrure), baik yang emosional maupun verbal.
Hemisfer kiri memang dominan untuk fungsi bicara bahasa, namun tanpa adanya peranan hemisfer kanan pembicaraan seseorang menjadi monoton, tak ada prosodi, tak ada lagu kalimat (tanpa menampilkan emosi atau mimik), dan tanpa disertai isyarat-isyarat bahasa.
1.       Hemisfer Kiri
Hemisfer kiri lebih aktif ketika seseorang terlibat dalam beberapa tugas yang bersifat logis, simbolik, dan berangkai, seperti memecahkan persoalan matematika dan memahami materi yang bersifat teknis. Hemisfer kiri mengatur kemampuan untuk mengekspresikan diri dalam bahasa. Ia melakukan banyak aktivitas logika dan analitik yang rumit dan mampu mengerjakan komputasi (perhitungan) matematika.
2.      Hemisfer Kanan
Hemisfer kanan memiliki kemampuan lebih dalam memecahkan persoalan-persoalan yang menuntut kemampuan visual-spatial, kemampuan menggunakan peta, meniru cara berpakaian, mengenali wajah, dan membaca ekspresi wajah. Hemisfer kanan aktif ketika, seseorang mencoba berkreasi dan memberikan apresiasi terhadap seni dan musik. Hemisfer kanan juga memiliki beberapa kemampuan bahasa. Hemisfer kanan dapat memahami bahasa yang sangat sederhana. Ia dapat berespon terhadap kata benda sederhana dengan memilih benda seperti mur atau sisir, dan bahkan ia dapat berespon terhadap asosiasi objek tersebut.
Dalam aktivitas hidup yang paling nyata, secara alamiah kedua sisi otak ini saling kerjasama. Masing-masing memberikan kontribusi yang saling bekerja sama. Sebagai contoh, kemampuan matematika tidak hanya melibatkan area-area lobus frontal kiri, namun juga area lobus parietal kiri dan kanan. Lobus parietal kiri diperlukan untuk menghitung jumlah yang pasti dengan menggunakan bahasa (“2 kali 5 sama dengan 10”). Lobus parietal kanan diperlukan untuk melakukan pembayangan secara visual atau spatial, seperti “garis angka” jarak mental, yang menghitung kuantitas atau besarnya jarak (“6 lebih deket ke 9 daripada ke 2”). (Deehaene dkk, 1999).
4.      Gangguan Wicara
Kelainan bicara atau wicara adalah adanya masalah dalam komunikasi dan bagian-bagian yang berhubungan dengannya seperti fungsi organ bicara. Keterlambatan dan kelainan mungkin bervariasi dari yang ringan tahu tidak ada pengaruhnya berhadap kehidupan sehari-hari dan sosialisasi, sampai yang tidak mampu untuk mengeluarkan suara atau memahami dan mempergunakan bahasa. Gangguan bicara berhubungan dengan kesulitan menghasilkan bunyi yang spesifik untuk bicara atau dengan gangguan dalam kualitas suara. Berikut penyebab gangguan atau keterlambatan bicara adalah sebagai berikut:
GANGGUAN PENDENGARAN.
Anak yang mengalami gangguan pendengaran kurang mendengar pembicaraan disekitarnya. Gangguan pendengaran selalu harus dipikirkan bila ada keterlambatan bicara. Terdapat beberapa penyebab gangguan pendengaran, bisa karena infeksi, trauma atau kelainan bawaan. Infeksi bisa terjadi bila mengalami infeksi yang berulang pada organ dalam sistem pendengaran. Kelainan bawaan biasanya karena kelainan genetik, infeksi ibu saat kehamilan, obat-obatan yang dikonsumsi ibu saat hamil, atau bila terdapat keluarga yang mempunyai riwayat ketulian. Gangguan pendengaran bisa juga saat bayi bila terjadi infeksi berat, infeksi otak, pemakaian obat-obatan tertentu atau kuning yang berat (hiperbilirubin). Pengobatan dengan pemasangan alat bantu dengar akan sangat membantu bila kelainan ini dideteksi sejak awal. Pada anak yang mengalami gangguan pendengaran tetapi kepandaian normal, perkembangan berbahasa sampai 6-9 bulan tampaknya normal dan tidak ada kemunduran. Kemudian menggumam akan hilang disusul hilangnya suara lain dan anak tampaknya sangat pendiam. Adanya kemunduran ini juga seringkali dicurigai sebagai kelainan saraf degeneratif.

KELAINAN ORGAN BICARA.
Kelainan ini meliputi lidah pendek, kelainan bentuk gigi dan mandibula (rahang bawah), kelainan bibir sumbing (palatoschizis/cleft palate), deviasi septum nasi, adenoid atau kelainan laring. Pada lidah pendek terjadi kesulitan menjulurkan lidah sehingga kesulitan mengucapkan huruf ”t”, ”n” dan ”l”. Kelainan bentuk gigi dan mandibula mengakibatkan suara desah seperti ”f”, ”v”, ”s”, ”z” dan ”th”. Kelainan bibir sumbing bisa mengakibatkan penyimpangan resonansi berupa rinolaliaaperta, yaitu terjadi suara hidung  pada huruf bertekanan tinggi seperti ”s”, ”k”, dan ”g”.

RETARDASI MENTAL
Redartasi mental adalah kurangnya kepandaian seorang anak dibandingkan anak lain seusianya. Redartasi mental merupakan penyebab terbanyak dari gangguan bahasa. Pada kasus redartasi mental, keterlambatan berbahasa selalu disertai keterlambatan dalam bidang pemecahan masalah visuo-motor.

GENETIK HERIDITER DAN KELAINAN KROMOSOM
Gangguan karena kelainan genetik yang menurun dari orang tua. Biasanya juga terjadi pada satu diantara atau ke dua orang tua saat kecil.  Menurut Mery GL anak yang lahir dengan  kromosom 47 XXX  terdapat keterlambatan bicara sebelum usia 2 tahun dan membutuhkan terapi bicara sebelum usia prasekolah sedangkan Bruce Bender berpendapat bahwa kromosom 47 XXY mengalami kelainan  bicara ekpresif dan reseptif lebih berat dibandingkan kelainan kromosom 47 XXX.

KELAINAN SENTRAL  (OTAK)
Gangguan berbahasa sentral adalah ketidaksanggupan untuk menggabungkan kemampuan pemecahan masalah dengan kemampuan berbahasa yang selalu lebih rendah. Ia sering menggunakan mimik untuk menyatakan kehendaknya seperti pada pantomim. Pada usia sekolah, terlihat dalam bentuk kesulitan belajar.
AUTISME
Gangguan bicara dan bahasa yang berat dapat disebabkan karena autism. Autisme adalah gangguan perkembangan pervasif pada anak yang ditandai dengan adanya gangguan dan keterlambatan dalam bidang kognitif, bahasa, perilaku, komunikasi dan interaksi sosial.
MUTISM SELEKTIF
Mutisme selektif  biasanya terlihat pada anak berumur 3-5 tahun, yang tidak mau bicara pada keadaan tertentu, misalnya di sekolah atau bila ada orang tertentu atau kadang-kadang ia hanya mau bicara pada orang tertentu, biasanya anak yang lebih tua. Keadaan ini lebih banyak dihubungkan dengan kelainan yang disebut sebagai neurosis atau gangguan motivasi. Keadaan ini juga ditemukan pada anak dengan gangguan komunikasi sentral dengan intelegensi yang normal atau sedikit rendah.
GANGGUAN EMOSI DAN PERILAKU LAINNYA
Gangguan bicara biasanya menyerta pada gangguan disfungsi otak minimal, gejala yang terjadi sangat minimal sehingga tidak mudah untuk dikenali. Biasanya diserta kesulitan belajar, hiperaktif, tidak terampil dan gejala tersamar lainnya.
ALERGI MAKANAN
Alergi makanan ternyata juga bisa mengganggu fungsi otak, sehingga mengakibatkan gangguan perkembangan satu diantaranya adalah keterlambatan bicara pada anak.  Gangguan  ini biasanya terjadi pada manifestasi alergi pada gangguan pencernaan dan kulit. Bila alergi makanan sebagai penyebab biasanya keterlambatan bicara terjadi usia di bawah 2 tahun, di atas usia 2 tahun anak tampak sangat pesat perkembangan bicaranya.
DEPRIVASI LINGKUNGAN
Dalam keadaan ini anak tidak mendapat rangsang yang cukup dari lingkungannya. Apakah stimulasi yang kurang akan menyebabkan gangguan berbahasa? Penelitian menunjukkan sedikit keterlambatan bicara, tetapi tidak berat. Bilamana anak yang kurang mendapat stimulasi tersebut juga mengalami kurang makan atau child abuse, maka kelainan berbahasa dapat lebih berat karena penyebabnya bukan deprivasi semata-mata tetapi juga kelainan saraf karena kurang gizi atau  penelantaran anak.

5.         Hipotese Umur Kritis
Sebelum mencapai umur belasan bawah, sekitar umur 12 tahunan, anak mempunyai kemampuan untuk memperoleh bahasa mana pun yang disajikan padanya secara natif. Hal ini tampak terutama pada aksesnya. Gejala ini dinyatakan dalam hipotese yang bernama Hipotesis Umur Kritis (Critical Age Hypothesis) yang diajukan oleh Lenneberg (1967). Pada esensinya hipotese ini mengatakan bahwa antara umur 2 tahun sampai dengan 12 tahun seorang anak dapat memperoleh bahasa mana pun dengan kemampuan seorang penutur asli. Jadi, seandainya ada keluarga Amerika yang tinggal di Jakarta dan kemudian mereka melahirkan anak, dan anak itu itu bergaul dengan orang-orang Indonesia sampai dengan, katakanlah umur 5-7 tahun, dia pasti akan dapat berbahasa Indonesia Jakarta seperti anak Jakarta seperti anak Jakarta yang lain. Begitu juga sebaliknya: anak Indonesia  yang lahir dan besar di New York dan bergaul dengan orang-orang New York akan berbicara bahasa Inggris New York seperti orang New York. Hal seperti ini terjadi karena sebelum umur 12 tahun pada anak belum terjadi lateralisasi, yakni hemisfer kiri dan hemisfer kanan belum dipisah unutk diberi tugas sendiri-sendiri. Kedua-duanya masih lentur dan masih dapat menerima tugas apa pun. Itu pulalah sebabnya mengapa orang yang kena stroke pada umur di bawah sekitar 12 tahun akan dapat pulih 100% dalam memperoleh bahasa sedangkan orang dewasa akan kecil kemungkinannya untuk sembuh total.

6.      Kekidalan dan Kekinanan
Ada orang yang kidal dan ada juga yang kinan, bahkan ada pula yang dapat menggunakan kedua tangannya secara berimbang disebut ambidektrus (ambidextrous). Disebutkan bahwa hemisfer kiri adalah sebagai hemisfer dominan bagi bahasa. Untuk kebanyakan orang, bahasa ada pada hemisfer kiri yaitu sekitar 99% dari orang kinan memakai hemisfer kiri untuk berbahasa. Demikian juga orang kidal, yaitu 75% dari mereka juga memakai hemisfer kiri, meskipun kadar dominasi hemisfer ini tidak sekuat seperti pada orang kinan.
Masalah mengenai ada atau tidaknya kolerasi anatara kekidalan dan kekinanan dalam pemakai bahasa ataupun kemampuan intelektual lainnya, ada yang mengatakan bahwa kadar dominasi hemifer kiri pada orang kidal yang tidak sekuat seperti orang kinan membuat orang kidal mempunyai masalah dalam hal baca dan hal tulis (Lamn dan Epstein 1999) namun hal tersebut masih menjadi perdebatan.
Berdasarkan penelitian bahwasannya bagian depan dari otak kita tidak mempengaruhi seseorang untuk berbicara dengan baik dan benar, namun bagian kepala yang disebut dengan Medan Broce (Broca)-lah yang memiliki peranan penting dalam berbahasa, namun yang terjadi dalam masyarakat kita adalah sesuatu yang buruk itu berasal dari kiri dan hal ini sudah menjadi budaya dan dalam masyarakat yang berbudaya seperti ini orang umunya menghalangi anak untuk menjadi kidal padahal masalah kekidalan adalah semata-mata masalah genetik, namun belum ada penelitian yang menyatakan mengenai dampak dari pemaksaan memakai tangan kanan.

7.        Otak Pria dan Otak Wanita
Steinberg dkk dalam Dardjowidjojo (2010:221) memuat pendapat tentang perbedaan antara otak pria dengan otak wanita terletak pada bentuknya, hemisfer kiri pada wanita lebih tebal daripada hemisfer kanan. Keadaan inilah yang menyebabkan kelas bahasa umumnya didominasi oleh wanita tetapi temuan Philip dkk dalam Dardjowidjojo (2010:221) menunjukkan bahwa meskipun ada perbedaan dalam pemrosesan bahasa antara pria dan wanita, perbedaan ini hanya mengarah pada pengaruh budaya daripada pengaruh genetik.
Pada laki-laki otak cenderung berkembang dan memiliki spasial yang lebih kompleks seperti kemampuan perancangan mekanis, pengukuran penentuan arah abstraksi, dan manipulasi benda-benda fisik. Tak heran jika laki-laki suka sekali mengutak-atik kendaraan. Daerah korteks otak pria lebih banyak tersedot untuk melakukan fungsi-fungsi spasial dan cenderung memberi porsi sedikit pada daerah korteksnya untuk memproduksi dan menggunakan kata-kata. Kumpulan saraf yang menghubungkan otak kiri-kanan atau corpus collosum otak laki-laki lebih kecil seperempat ketimbang otak perempuan.
Bila otak pria hanya menggunakan belahan otak kanan, otak perempuan bisa memaksimalkan keduanya. Itulah mengapa perempuan lebih banyak bicara ketimbang pria. Dalam sebuah penelitian disebutkan, perempuan menggunakan sekitar 20.000 kata per hari, sementara pria hanya 7.000 kata!
Termasuk perempuan bisa memaksimalkan multi tasking-nya, menggendong si kecil, sembari memasak dan menyaksikan sinetron favorit di televisi. Sementara kaum pria, jangan heran kalau mereka tidak mendengarkan panggilan anda ketika tengah menyimak pertandingan bola dari klub favorit atau tengah menyaksikan film kesayangan di televisi. Otak perempuan lebih banyak mengandung serotonin yang membuatnya bersikap tenang. Tak aneh jika wanita lebih kalem ketika menanggapi ancaman yang melibatkan fisik, sedangkan laki-laki lebih cepat naik pitam. Selain itu, otak perempuan juga memiliki oksitosin, yaitu zat yang mengikat manusia dengan manusia lain atau dengan benda lebih banyak. Dua hal ini mempengaruhi kecenderungan biologis otak pria untuk tidak bertindak lebih dahulu ketimbang bicara. Ini berbeda dengan perempuan. Pusat memori (hippocampus) pada otak perempuan lebih besar ketimbang pada otak pria. Ini bisa menjawab pertanyaan kenapa bila laki-laki mudah lupa, sementara wanita bisa mengingat segala detail. Selain itu wanita cenderung lebih besar kemungkinan sembuh dari penyakit afasia daripada pria dan afasia lebih sering muncul pada pria daripada wanita saat mereka terkena stroke .Kelebihan otak wanita daripada pria yang lainnya adalah otak wanita lebih seimbang, lebih tajam, dan lebih awet serta selektif.

8.        Bahasa Sinyal
Bahasa sinyal adalah pengganti bahasa verbal. Bahasa sinyal (sign language) digunakan saat bahasa lisan tidak dapat digunakan. Bahasa ini menggunakan tangan dan jari-jari untuk membentuk kata dan kalimat. Bahasa inilah yang sering digunakan oleh para tuna rungu dan tuna wicara. Orang yang tuna rungu dapat mempergunakan bahasa sinyal untuk  berkomunikasi. Hemisfer kanan memang lebih unggul untuk menangani tugas-tugas yang berkaitan dengan desain dan pola-pola visual, tetapi ternyata tetap saja hemisfer kiri yang lebih banyak mendominasi bahasa sinyal. Selain itu ketika seorang tuna rungu ingin berkomunikasi dengan kita, maka seharusnya hemisfer kanannya yang akan memegang peranan penting, namun berdasarkan bukti dari penelitian terhadap tuna rungu yang juga mengalami kerusakan hemisfer kirinya seperti halnya penderita Afasia Broca atau Wernicke, ia tidak dapat menyampaikan bahasa sinyalnya dengan baik. Dalam hal ini kalimat yang diproduksi jadi tidak karuan dan fungsi gramatikalnya kacau. Maka dengan ini dapat diperoleh kesimpulan bahwa hemisfir kiri juga mempengaruhi bahasa sinyal dan jika seseorang mengalami kerusakan hemisfer kanannya maka ia akan tetap dapat menghasilkan sinyal yang benar dengan susunan kalimat serta gramatikalnya juga baik dan benar. Namun pada mereka yang menderita afasia broca terdapat kesukaran dalam mensinyalkan apa yang ingin dinyatakan. Mereka mungkin bisa mensinyalkan kata, tetapi infleksi untuk kata itu, atau fungsi gramatikalnya kacau. Begitu juga dengan orang tuna rungu yang mengalami kerusakan di daerah Wernicke, mereka dapat memberikan sinyal dengan lancar tapi maknanya tidak karuan. Konfigurasi, lokasi, dan gerakan tangan atau jarinya menghasilkan kata-kata yang tidak cocok maknanya sehingga kalimat tadi tidak berarti. Bukti lain bahwa pengguna bahasa sinyal lebih banyak memakai hemisfer kiri untuk bersinyal adalah jika yang rusak hemisfer kanan, pada umumnya tidak terjadi gangguan dalam bersinyal. Tata bahasanya masih utuh dan tidak terbata-bata.

9.        Metode Penelitian Otak
     Dalam hal ini banyak sekali peneliti yang kemudian menyelidiki peranan otak dalam memproduksi ujaran atau juga bagian-bagian manakah yang menghasilkan ujaran secara verbal kemudian bahasa sinyal, dan juga hal-hal yang lainnya. Disebutkan bahwa otak manusia itu bila diberi tekanan pada bagian-bagian tertentu dapat mempengaruhi ujaran seseorang. Disini juga dapat kita ketahui bahwa bila inputnya adalah visual maka prosesnya akan berbeda dengan inputnya bunyi (suara) sebelum akhirnya outputnya secara verbal diujarkan. Seiring dengan adanya kemajuan teknologi, manusia dapat meneliti otak manusia untuk mengetahui khususnya dalam hal ini faktor-faktor yang berperan dan mempengaruhi seseorang dalam berbahasa.
Kemajuan teknologi telah membuat penelitian mengenai otak lebih maju. Kini telah terdapat CT atau CTA (Computer–ized Axial Tomography), PET (Positron Emission Tomography), MRI (Magnetic Resonance Imaging), dan ERPs (Event Related Potentials). Berikut ini spesifikasi dari alat-alat yang digunakan untuk meneliti otak tersebut:
1.      CT atau CTA (Computer–ized Axial Tomography)
CT atau CTA scan memanfaatkan sumber sinar-X (X-ray) untuk merekam berbagai imaji (image) dan komputer kemudian membentuk imaji tiga dimensi dari seluruh atau sebagian otak. Menarik untuk diketahui bahwa alat ini telah dipakai untuk meneliti otak Mr. Tan (pasien Broca) yang otaknya disimpan di museum kedokteran Paris selama lebih dari 100 tahun dan terbukti bahwa Broca itu benar.
2.      PET (Positron Emission Tomography)
Berbeda dengan CAT, Positron Emission Tomography dapat mempertunjukan kegiatan otak secara langsung. Pada PET bahan yang berisi radioaktif ringan ini disuntikan ke pembuluh darah dan kemudian pola aliran darah pada otak ditelusuri dengan alat detektor khusus yang diletakkan pada kepala si pasien. Detector ini memberikan imaji yang berwarna-warna. Pada waktu pasien melakukan kegiatan verbal sesuai dengan instruksi dari peneliti, bagian-bagian otak yang melakukan kegiatan ini akan mendapat aliran darah yang lebih banyak dan menyebabkan daerah itu “menyala” dengan cara ini orang lebih pasti tahu untuk menentukan bagian-bagian mana dari otak yang terlibat dalam kegiatan-kegiatan verbal tertentu.

3.      MRI (Magnetic Resonance Imaging)
MRI (Magnetic Resonance Imaging) berfungsi untuk mengukur fungsi untuk otak dengan memanfaatkan jumlah aliran darah pada daerah-daerah otak yang sedang aktif. Aktivitas seluler diukur melalui medan magnetik yang menelusuri proton-proton pada aliran darah. Pada saat suatu daerah di otak melakukan sesuatu tugas kognitif, ada tambahan aliran darah dan aktivitas seluler yang berkaitan dengan tugas tersebut pada daerah itu.
4.      ERPs (Event Related Potentials)
ERPs (Event Related Potentials) berfungsi untuk mengukur perubahan- perubahan voltase pada otak yang berkaitan dengan hal-hal seperti sensori, motorik, atau kognitiif. Pengukuran perubahan voltase ini mempunyai resolusi waktu yang ukurannya milidetik. Rekaman dari ERPs menunjukan sederatan puncak voltase yang positif dan negative yang muncul dengan jeda waktu tertentu sejak stimulus diberikan.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s