Pendekatan Integratif dan Komunikatif Terhadap Pembelajaran Bahasa


Pendekatan Komunikatif

Pendekatan komunikatif merupakan pendekatan yang dilandasi oleh pemikiran bahwa kemampuan menggunakan Bahasa dalam komunikasi merupakan tujuan yang harus dicapai dalam pembelajaran Bahasa (Zuchdi, 1997).

Menurut Dell Hymes, pendekatan komunikatif merupakan Penguasaan secara naluri yang dipunyai seorang penutur asli untuk menggunakan dan memahami bahasa secara wajar dalam proses berkomunikasi atau berinteraksi dan dalam hubungannya dengan konteks sosial.

Pendekatan yang mengintegrasikan pengajaran fungsi-fungsi bahasa dan tata bahasa (Little Wood, 1981).

Pendekatan yang mendasarkan pandangannya terhadap penggunaan bahasa sehari-hari secara nyata (M. Soenardi Dwiwandono, 1996). Beberapa pendapat para ahli tersebut dapat kita tarik kesimpulannya bahwa pendekatan komunikatif merupakan suatu pendekatan yang bertujuan untuk membuat kompetensi komunikatif sebagai tujuan pembelajaran bahasa dan mengembangkan prosedur-prosedur bagi empat keterampilan berbahasa, yang mencakup menyimak, membaca, menulis, dan berbicara dan mengakui saling ketergantungan bahasa dan komunikasi, dan bahasa yang dimaksud dalam konteks ini tentu saja bahasa Indonesia.

Tampak bahwa Bahasa tidak hanya dipandang sebagai seperangkat kaidah, tetapi lebih luas lagi, yakni sebagai sarana untuk berkomunikasi. Ini berarti, Bahasa ditempatkan sesuai dengan fungsinya, yaitu fungsi komunikatif.

Menurut Littelwood (1981), pendekatan komunikatif didasarkan pada pemikiran, bahwa (1) pendekatan komunikatif membuka diri bagi pandangan yang lebih luas tentang Bahasa. Hal ini terutama menyebabkan orang melihat bahwa Bahasa tidak terbatas pada tata Bahasa dan kosakata, tetapi juga pada fungsi komunikasi Bahasa; (2) Pendekatan komunikatif membuka diri bagi pandangan yang luas dalam pembelajaran Bahasa. Hal itu menimbulkan kesadaran bahwa mengajarkan Bahasa, tidak cukup dengan memberikan kepada siswa bagaimana bentuk Bahasa, tetapi siswa harus mampu mengembangkan cara-cara menerapkan bentuk-bentuk itu sesuai dengan fungsi Bahasa sebagai sarana komunikasi dalam situasi dan waktu yang tepat.

Munculnya pendekatan komunikatif dalam pembelajaran bahasa bermula dari adanya perubahan-perubahan dalam tradisi pembelajaran bahasa di Inggris pada tahun 1960-an menggunakan pendekatan situasional (Tarigan, 1989:270). Dalam pembelajaran bahasa secara situasional, bahasa diajarkan dengan cara mempraktikkan/melatihkan struktur-struktur dasar dalam berbagai kegiatan berdasarkan situasi yang bermakna. Namun, dalam perkembangan selanjutnya, seperti halnya teori linguistik yang mendasari audiolingualisme, ditolak di Amerika Serikat pada pertengahan tahun 1960-an dan para pakar linguistik terapan Inggris pun mulai mempermasalahkan asumsi-asumsi yang mendasari pengajaran bahasa situasional. Menurut mereka, tidak ada harapan/masa depan untuk meneruskan mengajar gagasan yang tidak masuk akal terhadap peramalan bahasa berdasarkan peristiwa-peristiwa situasional. Apa yang dibutuhkan adalah suatu studi yang lebih cermat mengenai bahasa itu sendiri dan kembali kepada konsep tradisional bahwa ucapan-ucapan mengandung makna dalam dirinya dan mengekspresikan makna serta maksud-maksud pembicara dan penulis yang menciptakannya (Howatt, 1984:280, dalam Tarigan, 1989:270).

Pendekatan komunikatif adalah suatu pendekatan yang bertujuan untuk membuat kompetensi komunikatif sebagai tujuan pembelajaran bahasa, juga mengembangkan prosedur-prosedur bagi pembelajaran 4 keterampilan berbahasa (menyimak, membaca, berbicara, dan menulis), mengakui dan menghargai saling ketergantungan bahasa.

Ciri-ciri Pendekatan Komunikatif

Brumfit dan Finocchiaro mengungkapkan ciri-ciri pendekatan komunikatif adalah

  1. makna merupakan yang terpenting,
  2. percakapan harus berpusat di sekitar fungsi komunikatif dan tidak dihafalkan secara normal,
  3. kontekstualisasi merupakan premis pertama,
  4. belajar bahasa berarti belajar berkomunikasi,
  5. komunikasi efektif dianjurkan,
  6. latihan penubihan atau drill diperbolehkan, tetapi tidak memberatkan,
  7. ucapan yang dapat dipahami diutamakan,
  8. setiap alat bantu peserta didik diterima dengan baik,
  9. segala upaya untuk berkomunikasi dapat didorong sejak awal,
  10. penggunaan bahasa secara bijaksana dapat diterima bila memang layak,
  11. terjemahan digunakan jika diperlukan peserta didik,
  12. membaca dan menulis dapat dimulai sejak awal,
  13. sistem bahasa dipelajari melalui kegiatan berkomunikasi,
  14. komunikasi komunikatif merupakan tujuan,
  15. variasi linguistic merupakan konsep inti dalam materi dan metodologi,
  16. urutan ditentukan berdasarkan pertimbangan isi, fungsi, atau makna untuk memperkuat minat belajar,
  17. guru mendorong peserta didik agar dapat bekerja sama dengan menggunakan bahasa itu,
  18. bahasa diciptakan oleh peserta didik melalui mencoba dan mencoba,
  19. kefasihan dan bahasa yang berterim merupakan tujuan utama, ketepatan dinilai dalam konteks bukan dalam keabstrakan,
  20. peserta didik diharapkan berinteraksi dengan orang lain melalui kelompok atau pasangan, lisan dan tulis,
  21. guru tidak bisa meramal bahasa apa yang akan digunakan peserta didiknya, dan
  22. motivasi intrinsik akan timbul melalui minat terhadap hal-hal yang dikomunikasikan.

Menurut Alan Maley, (1986), pengajaran bahasa yang mempergunakan Pendekatan Komunikatif mempunyai ciri pokok sebagai berikut:

  1. Lebih mengonsentrasikan diri pada penggunaan dan kelayakan bahasa daripada bentuk bahasa.
  2. Lebih cenderung menfokuskan diri pada kefasihan bahasa daripada akurasi bahasa.
  3. lebih mengutamakan perhatian pada tugas komunikasi daripada bentuk latihan.
  4. Lebih mengutamakan inisiatif pelajar dan interaksi mereka daripada peran guru.

Ciri-ciri Pendekatan komunikatif dalam Pembelajaran Bahasa yaitu:

  1. Adanya kegiatan komunikasi fungsional dan interaksi sosial yang saling berkaitan erat
  2. Pembelajaran berorientasi pada pemerolehan kompetensi komunikatif, bukan ketepatan gramatikal
  3. Pembelajaran diarahkan pada modifikasi dan peningkatan murid dalam menemukan kaidah bahasa lewat kegiatan berbahasa
  4. Materi pembelajaran berangkat dari analisis kebutuhan berbahasa pembelajar
  5. Pentingnya faktor afektif dalam belajar bahasa.

Hubungan Pendekatan Komunikatif dengan Pembelajaran Bahasa

Bahasa tidak hanya dipandang sebagai seperangkat kaidah, tetapi lebih luas lagi, yakni sebagai sarana untuk berkomunikasi. Ini berarti, Bahasa ditempatkan sesuai dengan fungsinya, yaitu fungsi komunikatif. Pendekatan komunikatif memandang bahasa sebagai alat komunikasi. Oleh karena itu, kegiatan berbahasa pada dasarnya merupakan kegiatan berkomunikasi. Kemampuan berkomunikasi, baik lisan maupun tertulis, dengan menggunakan bahasa yang dipelajari menjadi tujuan utama pengajaran bahasa di sekolah-sekolah. Proses belajar-mengajar bahasa berorientasikan fungsi komunikatif bahasa. Inilah konsep dari pendekatan komnikatif dalam pembelajaran bahasa. Pendekatan komunikatif ini berorientasi penuh pada fungsi bahasa sebagai alat komunikasi antar sesama. Untuk mengungkapkan berbagai ungkapan dalam aktifitas komunikasi yang riil, seseorang harus mengetahui sejumlah fungsi bahasa agar ia dapat mengungkapkan tuturan bahasa sesuai dengan siapa, kapan, dan bagaimana bertutur. Lyon mengemukakan ada tiga fungsi bahasa antara lain a) fungsi deskriptif bahasa yaitu untuk menyampaikan informasi faktual. Ini merupakan tipe informasi yang dapat dinyatakan atau disangkal dalam beberapa hal bahkan dapat diuji, contoh: ”dia pasti sudah tidak tidur nyenyak di kamar”, b) fungsi ekspresif bahasa yaitu untuk menyediakan informasi mengenai sang pembicara, perasaannya, pilihannya, prasangkanya, dan pengalaman masa lalunya, contoh ucapan: ”saya tidak akan mengundang mereka lagi”. c) fungsi sosial bahasa yaitu melayani, memantapkan serta memelihara hubungan-hubungan sosial antara orang-orang., contoh: ”cukup, Tuan?” digunakan oleh seorang pelayan suatu restoran untuk menandai hubungan sosial tertentu antara sang pelayan dan tamu. Sang pelayan menempatkan sang tamu dalam hubungan peran yang lebih tinggi.

Pendekatan komunikatif dalam pembelajaran bahasa merupakan suatu pendekatan yang bertujuan untuk membuat kompetensi komunikatif sebagai tujuan pembelajaran bahasa dan mengembangkan prosedur-prosedur bagi empat keterampilan berbahasa, yang mencakup menyimak, membaca, menulis, dan berbicara dan mengakui saling ketergantungan bahasa dan komunikasi, dan bahasa yang dimaksud dalam konteks ini tentu saja bahasa Indonesia. Beberapa hal yang berkait langsung dengan konsep ini adalah latar belakang munculnya pendekatan komunikatif, ciri-ciri utama pendekatan komunikatif, aspek-aspek yang berkaitan erat dengan pendekatan komunikatif, dan penerapan pendekatan komunikatif dalam pembelajaran bahasa Indonesia. Pendekatan komunikatif dipandang sebagai pendekatan yang unggul dalam pengajaran bahasa. Keunggulan ini antara lain karena berdasarkan pada pandangan ilmu bahasa dan teori belajar bahasa yang mengutamakan pemakaian bahasa sesuai dengan fungsinya. Di samping itu, tujuan pengajaran bahasa dengan pendekatan komunikatif adalah membentuk komunikatif siswa. Artinya, melalui berbagai kegiatan pembelajaran diharapkan siswa menguasai kemampuan berkomunikasi yakni kemampuan menggunakan bentuk-bentuk tuturan sesuai dengan fungsi-fungsi bahasa dalam proses pemahaman maupun penggunaan.

Pendekatan komunikatif terhadap pembelajaran bahasa ini memang memiliki hubungan, pembelajaran bahasa menggunakan pendekatan komunikatif ini membuka diri bagi pandangan yang lebih luas tentang Bahasa. Hal ini terutama menyebabkan orang melihat bahwa Bahasa tidak terbatas pada tata Bahasa dan kosakata, tetapi juga pada fungsi komunikasi Bahasa. Pendekatan komunikatif membuka diri bagi pandangan yang luas dalam pembelajaran Bahasa. Hal itu menimbulkan kesadaran bahwa mengajarkan Bahasa, tidak cukup dengan memberikan kepada siswa bagaimana bentuk Bahasa, tetapi siswa harus mampu mengembangkan cara-cara menerapkan bentuk-bentuk itu sesuai dengan fungsi Bahasa sebagai sarana komunikasi dalam situasi dan waktu yang tepat. Pembelajaran bahasa menggunakan pendekatan komunikatif memusatkan para siswa untuk mampu berkomunikasi dengan lingkungannya, dalam hal ini, belajar tidak harus dengan membaca buku, namun perlu adanya komunikasi luar yang membantu siswa untuk mendapatkan pelajaran dari lingkungan sekitarnya. Dalam berkomunikasi ini lah bahasa berperan penting sebagai bentuk alat komunikasi.

Pendekatan Integratif

Pendekatan integratif dapat diartikan sebagai penyatuan berbagai aspek ke dalam satu keutuhan yang padu. Salah satu pendekatan yang digunakan untuk melaksanakan kegiatan belajar-mengajar bahasa Indonesia dalam Kurikulum Bahasa Indonesia adalah pendekatan integratif (Imam Syafi’ie, Mam’ur Saadie, Roekhan. 2001: 2.19).

Pendekatan Integratif dapat dimaknakan sebagai pendekatan yang menyatukan beberapa aspek ke dalam satu proses. Integratif terbagi menjadi interbidang studi dan antarbidang studi. Interbidang studi artinya beberapa aspek dalam satu bidang studi diintegrasikan. Misalnya, mendengarkan diintegrasikan dengan berbicara dan menulis. Menulis diintegrasikan dengan berbicara dan membaca. Materi kebahasaan diintegrasikan dengan keterampilan bahasa. Integratif antarbidang studi merupakan pengintegrasian bahan dari beberapa bidang studi. Misalnya, bahasa Indonesia dengan matematika atau dengan bidang studi lainnya.

Dalam pembelajaran bahasa Indonesia, integratif interbidang studi lebih banyak digunakan. Saat mengajarkan kalimat, guru tidak secara langsung menyodorkan materi kalimat ke siswa tetapi diawali dengan membaca atau yang lainnya. Perpindahannya diatur secara tipis. Bahkan, guru yang pandai mengintegrasikan penyampaian materi dapat menyebabkan siswa tidak merasakan perpindahan materi. Integratif sangat diharapkan dalam pembelajaran bahasa Indonesia. Pengintegrasiannya diaplikasikan sesuai dengan kompetensi dasar yang perlu dimiliki siswa. Materi tidak dipisah-pisahkan. Materi ajar justru merupakan kesatuan yang perlu dikemas secara menarik.

Ciri-ciri Pendekatan Integratif

Ciri-ciri pendekatan integrative dalam (Zuchdi, 1997) itu antara lain:

  1. berpusat pada siswa,
  2. memberikan pengalaman langsung pada anak,
  3. pemisahan antarbidang studi tidak begitu jelas,
  4. menyajikan konsep dari berbagai bidang studi dalam satu proses pembelajaran,
  5. bersifat luwes, dan
  6. hasil pembelajaran dapat berkembang sesuai dengan minat dan kebutuhan anak.

Hubungan Pendekatan Integratif dengan Pembelajaran Bahasa

Pendekatan integratif memiliki hubungan yang banyak dengan pembelajaran bahasa,  Pembelajaran integratif dalam hal ini adalah upaya pemaduan aspek-aspek pengajaran bahasa. Beberapa  asumsi ada menegaskan bahwa pencipta sastra yang menguasai Bahasa dengan baik akan lebih sukses dibanding yang penguasaan Bahasanya setengah-setengah. Demikian pula orang yang belajar Bahasa, apabila menguasai sastra, bahasa mereka akan semakin halus dan enak didengar, oleh karena dalam setiap aktivitas berbahasa, secara tak sadar manusia telah memerankan sastra dalam komunikasi. Dalam pembelajaran bahasa Indonesia, integratif interbidang studi lebih banyak digunakan. Saat mengajarkan kalimat, guru tidak secara langsung menyodorkan materi kalimat ke siswa tetapi diawali dengan membaca atau yang lainnya. Perpindahannya diatur secara tipis. Bahkan, guru yang pandai mengintegrasikan penyampaian materi dapat menyebabkan siswa tidak merasakan perpindahan materi. Salah satu pendekatan yang digunakan untuk melaksanakan kegiatan belajar-mengajar bahasa Indonesia dalam Kurikulum Bahasa Indonesia adalah pendekatan integratif (Imam Syafi’ie, Mam’ur Saadie, Roekhan. 2001: 2.19), sehingga melalui kurikulum tersebut, pendekatan integratif di dalam pembelajaran bahasa memiliki suatu hubungan. Dalam pembelajaran bahasa sistem pendekatan integratif  berperan penting dalam proses pembelajaran, dalam hal ini hubungan pendekatan integratif dengan bahasa yaitu saling memadukan, melalui pendekatan integratif ini, pembelajaran bahasa dapat dipadukan tanpa dipisah-pisahkan sehingga bisa tampak lebih menarik dalam proses pembelajaran, sehingga siswa dan guru dapat lebih nyaman dalam proses belajar dan mengajar.

Pendekatan integratif memiliki hubungan dengan pembelajaran bahasa, pendekatan integratif ini bertujuan memadukan materi-materi yang ada atau kehidupan sehari-hari yang ada dalam ruang lingkup kehidupan kita diterapkan dalam proses pembelajaran, melalui pendekatan ini, pelajaran bahasa dapat dipadukan dengan pelajaran yang lain namun tidak menghilangkan materi yang akan dibahas. Pembelajaran terpadu atau integratif  menghubungkan berbagai bidang studi yang mencerminkan dunia nyata di sekeliling dan dalam rentang kemampuan dan perkembangan anak. Contoh yang dapat kita lihat hubungan pendekatan integrative melalui pembelajaran bahasa seperti;Bahasa itu merupakan satuan yang utuh, bukan merupakan serpihan-serpihan yang tersebar, meskipun secara struktur Bahasa memang bisa terbagi-bagi dalam fonologi,  morfologi, sintaksis, dan kosakata. Akan tetapi, dalam proses belajar-mengajar bagian-bagian itu harus dipadukan dalam bentuk apapun, seperti dalam bentuk wacana.

Dalam bentuk wacana semua pembelajaran bahasa dalam bentuk struktural itu dipadukan sehingga tampak lebih menarik. Pembelajar Bahasa harus menguasai keempat keterampilan berbahasa, yaitu mendengarkan, membaca, berbicara, dan menulis. Dalam pembelajaran Bahasa, minimal dua keterampilan dari empat keterampilan itu harus dipadukan dalam satu kegiatan berturutan. Berbahasa selalu terpaut dengan tema tertentu, ada “sesuatu” yang dibicarakan dalam berbahasa. Di sekolah “sesuatu” itu bisa tercakup dalam bidang studi Matematika, IPA, IPS, dan sebagainya. Proses pembelajaran terpadu menghendaki antara materi sastra dan Bahasa memiliki kedudukan sejajar. Keduanya saling menunjang dan berhubungan secara simbiosis mutualistis. Yang penting, pengajaran sastra menghendaki situasi pengajaran yang kreatif. Pendekatan delivery system, yang menghendaki sekolah sebagai agen menghafal, sebaiknya diubah menjadi agen mencipta, mencerna, menghayati seluruh persoalan hidup dan berusaha memecahkannya. Itulah sebabnya, diperlukan pengajar yang benar-benar konstruktivistik. Pengajar semacam ini akan mampu memadukan aspek Bahasa dan sastra secara arif. Melihat contoh tersebut dapat kita ketahui bahwa pendekatan integratif itu memiliki hubungan dengan pembelajaran bahasa.

2 thoughts on “Pendekatan Integratif dan Komunikatif Terhadap Pembelajaran Bahasa

  1. Saya mau beli buku tentang pendekatan integratif ini, bisa minta referensi buku yang membahas tentang model ini? Tks.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s