Analisis Struktural Murni Novel “Meniti di Atas Kabut” Karya Abu Umar Basyier


Apakah benar novel Islami adalah buku agama yang hanya berisi norma agama sebagai dakwah tanpa mengindahkan segi keestetikaannya? Novel Meniti di Atas Kabut  karya Abu Umar Basyier berhasil menepis harapan para pecinta sastra sekuler tersebut yang menganggap novel Islami kehilangan nilai sastranya. Novel Meniti di Atas Kabut merupakan sebuah novel Islami sekaligus novel pembangun jiwa yang di dalamnya terkandung ajaran yang terbungkus rapi tanpa meninggalkan segi keestetikaannya. Kisah cinta yang indah dibangun jauh dari kevulgaran dan keerotisan. Nilai-nilai syariat agama yang terdalam sebagai alat dakwah terbungkus secara rapi, dengan ajaran-ajaran moral. Tema pokok karangannya yang bermanfaat bagi penyempurnaan manusia, yaitu tema cinta dalam arti luas. Perkembangan novel di Indonesia dari zaman dulu sampai sekarang banyak yang bertemakan masalah-masalah yang berhubungan dengan keagamaan, karena agama merupakan hal yang sangat penting dalam kehidupan. Berkaitan dengan hal ini, dalam novel Meniti di Atas Kabut digambarkan terutama tentang kehidupan tokoh utama yang sangat mulanya anak nakal, berasal dari keluarga yang tidak mengenal agama, kemudian bertemu dengan lingkungan yang membawanya ke jalan yang benar, sehingga menguatkan imannya, selalu taat kepada aturan agama. Mengetahui bagaimana berinteraksi dengan sesama manusia, muhrim dan bukan muhrim.
Novel ini dapat dikatakan berisi parabel kehidupan menuju yang mutlak, selain itu juga mengandung aspek religius. Permasalahan yang menarik untuk dikaji dalam penelitian ini adalah aspek religius yang terdapat dalam novel Meniti di Atas Kabut ini, religius selalu berkaitan dengan hal yang berhubungan dengan transedental. Transedental diperlukan karena manusia hanya mungkin diselamatkan dengan iman. Selain itu transedental dalam arti spiritual akan membantu manusia menyelesaikan masalah-masalah modern.

Alur atau Plot
Fakta cerita  adalah unsur dalam yang membentuk penciptaan karya sastra. Unsur ini berupa plot, tokoh, dan latar. Ketiga unsur yang terdapat dalam cerpen jangan main-main dengan perempuan dan yang pertama akan saya analisis adalah plot atau alur.
Alur adalah struktur naratif bagi seluruh cerita dan harus dapat menjalankan tugasnya dalam menyelesaikan gagasan hingga menjadi satu kesatuan cerita yang utuh di dalam pengesahan cerita (sudjirman, 1991: 31). Strukturnya itu terdiri dari tiga bagian, yaitu bagian awal, bagian tengah, dan bagian akhir.
Penggunaan alur merupakan salah satu hal yang sangat menentukan apakah cerita itu menarik atau tidak. Cerita-cerita yang menarik biasanya menggunakan alur yang beragam dan posisinya acak. Sehingga pembaca harus memutar otak kembali untuk mengait-kaitkan antara konflik yang satu dengan konflik yang lain, antara penyebab konflik dengan penyelesaiannya, dan sebaginya. Hal tersebut biasanya menjadikan pembaca merasa bingung jika pengarang tidak pintar-pintar meramunya menjadi sesuatu yang menarik tapi mudah dicerna. Karena bagaimanapun juga karya sastra dinilai bagus atau tidak tergantung penilaian pembaca dan penikmatnya.. Didalam novel ini, struktur plot itu dapat diuraikan seperti berikut:
Bagian Awal
Bagian awal dari sebuah alur biasanya merupakan bagian pengenalan cerita. Biasanya berisikan mengenai pengenalan watak tokoh dan setting cerita yang bersifat Eksposisi dan element instabilitas (Sayuti, 2009:7.8). Sepertihalnya potongan cerita dalam sebuah karya fiksi di bawah ini:
“Maasya Allah, hidup ini sungguh mengagumkan, di sekitar rumahku berjejer rumah-rumah pager (gedeg) dengan lantai dan atap yang kumuh. Tapi aku hidup dalam keluarga yang sangat berkecukupan. Rumah kami cukup megah, berlantai traso, berdinding beton, dan bata-bata kokoh, berpagar besi dengan halaman luas. Rumah kami memuat tak kurang dari 9 kamar tidur, sebuah ruang tamu yang luas, 1 kamar makan, 2 kamar mandi, dan sebuah gudang besar di bagian belakang rumah. (Abu Umar Basyier. Meniti di Atas Kabut. Hlm. 17)
Dari kutipan cerita di atas sangat jelas sekali bahwa pengarang membuka cerita dengan terlebih dahulu memaparkan setting yang ada pada cerita tersebut. Pengarang memberikan informasi kepada pembaca bahwasannya seperti itulah keadaan rumah Abbas. Karena pembuka cerita tersebut hanya bersifat memaparkan sesuatu yang pasti, tentunya tidak memiliki kemungkinan-kemungkinan lain yang akan terjadi.
Bagian Tengah
            Tengah cerita berisikan konflik di dalamnya. Dari penyebab konflik sampai puncak dari konflik tersebut. Akan tetapi, penyebab konflik juga terkadang ditempatkan diawal cerita bagian akhir. Hal tersebut digunakan untuk memberi kesan keterikatan antara awal cerita dengan bagian tengahnya, sehingga tidak berkesan tidak nyambung. Konflik dibagi menjadi tiga jenis, yaitu konflik batin (tokoh dengan dirinya sendiri), konflik sosial (tokoh dengan tokoh lain), dan konflik alamiah (tokoh dengan alam dan lingkungan sekitar) (Sayuti, 2009:7.10). Akan tetapi, tidak menutup kemungkinan tengah cerita berisikan pengenalan mengenai setting, watak tokoh, dan penyebab konflik utama. Semua itu tergantung bagaimana cara pengarang memainkan alur.
Berikut adalah  kutipan cerita yang merupakan  isi pada cerita bagian tengahnya:
“Pakaian istrimu itu berlebihan, tak cocok diterapkan di negeri kita…” (Abu Umar Basyier. Meniti di Atas Kabut. Halaman 136)
Data konflik ini kemudian diperkuat dengan pemunculan tokoh alur yang tidak suka dengan penampilan Azizah istrinya Abbas.
Ah, abang, bagaimana sih. Pertama, soal ia memakai cadar itu. Mana ada ustadz kita yang mengajarkan demikian? Kedua, soal sudut pandangnya yang sempit dalam masalah pergaulan itu. Masa, bersalaman saja dengan keluarga sendiri gak mau. Apa kita diajarkan begitu waktu mengaji dulu? Enggak kan?.” (Abu Umar Basyier. Meniti di Atas Kabut. Halaman 142)
Pada kutipan di atas, berisikan mengenai konflik yang terjadi antara tokoh Harun dan Sari dengan Abbas mengenai istrinya Azizah. Konflik ini terjadi ketika Abbas menikahi Azizah yang sangat mengenal ajaran agama berbeda dengan Harun dan Sari yang tidak mendukung cara pandang Azizah mengenai agama dalam kehidupannya sehari-hari dengan keluarga dan masyarakat luar. Penjelasan singkat itu kemudian menjadi awal untuk masuk ke dalam konflik yang ada di dalamnya.
Bagian Akhir
 Akhir cerita merupakan bagian penyelesaian semua konflik yang ada di dalam karya fiksi. Pada bagian akhir pula biasanya dapat disimpulkan sebuah karya fiksi tersebut merupakan karya yang bersifat happy ending atau tidak. Selain itu, pada akhir juga biasanya pengarang memberikan penggambaran kembali mengenai settingnya, yang tentunya telah mengalami perubahan akibat konflik yang ada. Atau terkadang berisi kesimpulan mengenai tema yang diceritakan. Bagian akhir ini yang sangat menarik, karena pada bagian akhir ini terdapat beberapa kejutan. Kejutan ini terletak pada kejutan permasalahannya, kadang berisi penyelesaian yang menyedihkan atau juga menyenangkan. Data berikut menggambarkan hal tentang akhir cerita dari beberapa konflik yang sudah terjadi.
“kudekati lagi wajahnya, tak kudapati desahnya. Kupegang pergelangan tangannya, tak kudapati detak nadinya. Kusentuh dada di bawah mushaf yang di dekap dengan erat, tak juga kudapatkan detak jantungnya. Akhirnya, kugoyang-goyang tubuhnya dengan keras. Azizah, azizah……azizaaaaaaah…..kamu dengar suaraku, azizah?” (Abu Umar Basyier. Meniti di Atas Kabut. Halaman 270)
Tahap akhir dari bagian ini adalah perpisahan antara Abbas dan Azizah yang berakhir menyedihkan. Penyelesaian yang berakhir dengan kesedihan bagi Abbas ini tidak dapat dihindarinya, namun Abbas menyadari bahwa akhir dari semua ini merupakan ujian dan cobaan dari Tuhan yang selama ini hanya meminjamkan kehidupan kepada makhluknya agar bisa belajar bersyukur dan beriman, hal ini dapat dilihat dari kutipan yang terakhir yaitu:
“Ya, tiba-tiba aku menyadari banyak hal yang tak terpikir olehku sebelumnya. Bukankah sudah kulihat, bagaimana Azizah baru saja menghembuskan nafas terakhir dalam hidupnya dalam kondisi yang sedemikian rupa. Hal itu menitipkan sebuah pesan kepadaku:’ tak usah menangisi kepergianku ini. Aku telah menghabiskan jatah hidupku di dunia ini. Mushaf Al-Quran ini menemaniku hingga ajal menjemputku. Tinggal kamu pikirkan, bagaimana kamu akan menjalani sisa hidupmu, suamiku. Sudikah engkau menjadikan Al-Quran ini sebagi panduanmu hingga ajal menjemputmu?’ (Abu Umar Basyier. Meniti di Atas Kabut. Halaman 271)
Melihat kutipan di atas jelaslah bahwa  bagian akhir pada novel ini berakhir kesedihan. Jadi, alur dalam novel “Meniti di Atas Kabut” ini mengguanakan alur maju, karena penulis  menceritakan cerita ini dari Abbas masa kecil yang belum mengerti arti sebuah kehidupan hingga Abbas menikah yang sudah mendalami ajaran agama dan menempuh liku-liku kehidupan hingga ajal menjemput istrinya.

Tokoh
Jones dalam Nurgiyantoro mengemukakan bahwa penokohan adalah gambaran yang jelas tentang seseorang yang ditampilkan dalam sebuah cerita (1998: 165). Yang dimaksud dengan penokohan yakni bagaimana pengarang menampilkan perilaku tokoh-tokohnya berikut wataknya. Terdapat dua macam jenis tokoh dalam setiap karya fiksi menurut keterlibatannya terhadap karya fiksi itu sendiri, yaitu tokoh utama (sentral) dan tokoh penunjang (periferal) (Sayuti, 2009:6.6). Cara menentukan yang mana tokoh utama dan yang mana tokoh penunjang adalah dengan membandingkan setiap tokoh di dalam cerita. Adapun kriteria tokoh utama adalah: bertindak sebagai pusat pembicaraan dan sering diceritakan, sebagai pihak yang paling dekat kaitannya dengan tema cerita, dan lebih sering melakukan interaksi dengan tokoh lain dalam cerita (Sayuti, 2009:6.6). Tokoh adalah unsur cerita yang mengemban watak tertentu. Tokohlah yang menggerakkan jalan cerita. Dengan adanya tokoh, maka jalan cerita terasa hidup. Tokoh merupakan satu di antara tiga fakta cerita. Cara mengetahui watak tokoh dalam sebuah cerita:
 
Melalui apa yang diperbuatnya
Melalui ucapan-ucapannya
Melalui penggambaran fisik tokoh
Melalui pikiran-pikirannya
Melalui penerangan langsung
Melalui pembicaraan tokoh yang lain
Pada bagian ini penulis akan mencoba menganalisis tokoh dan penokohannya yang ada di dalam novel “Meniti di Atas Kabut” karya Abu Umar Basyier. Analisis ini dinilai sangat penting, sebab sebagai salah satu unsur instrinsik novel, analisis tokoh dan penokohan sangat berperan terhadap pemunculan perspektif pengarang, dalam hal ini yaitu Abu Umar Basyier. Berikut  ini tokoh-tokoh yang ada dalam novel “Meniti di Atas Kabut” beserta penokohannya.
Abbas
Tokoh Abbas ini  sebagai tokoh utama dalam novel “Meniti di Atas Kabut” karya Abu Umar Basyier, kedudukan tokoh  Abbas sangat sentral dan digolongkan ke dalam tokoh protagonist. Ia digambarkan sebagai anak laki-laki dari orang kaya di kampungnya yang hidup serba berkecukupan dan mewah, namun memiliki hati yang cukup baik untuk menghargai orang sekitarnya. Berikut kutipan yang menggambarkan tokoh Abbas dalam novel “Meniti di Atas Kabut” karya Abu Umar Basyier.
“kadang aku merasa iri melihat mereka bisa makan begitu lahap, dengan lauk pauk yang tidak karuan itu. Sementara dengan lauk pauk enak dan tergolong mewah, aku jarang bisa makan dengan lahap, selahap mereka. (Abu Umar Basyier. Meniti di Atas Kabut. Hlm 18).
Abbas juga tak hanya digambarkan seorang anak orang kaya yang baik hati, namun juga kadang-kadang Abbas bersifat emosian karena tidak senang mendengarkan atau melihat perilaku orang yang tidak baik mengenainya atau keluarganya sehingga pernah suatu hari Abbas memukul temannya dikarenakan temannya itu mengejek orang tuanya Abbas. Berikut kutipan yang mengggambarkan Abbas adalah seseorang  yang emosian.
“. . . . karena ucapan itu, hidungnya kutonjok hingga mengeluarkan darah. Ia menangis meraung-raung.”  (Abu Umar Basyier. Meniti di Atas Kabut. Hlm 33)
Melihat dari kutipan di atas kita bisa mengetahui, di waktu remajanya Abbas dia juga emosian. Banyak penokohan yang ditampakkan oleh tokoh Abbas dalam novel “Meniti di Atas Kabut” karya Abu Umar Basyier ini, dalam novel ini tokoh Abbas juga bersifat penyabar dalam menghadapi cobaan hidup, berikut kutipan mengenai sifat penyabar Abbas.
“aku hanya bisa berkata dengan ungkapan yang sesantun mungkin, menjelaskan tentang prinsip kami, dan bahwa mencari rizki itu memang perlu hati-hati, agar halal dan penuh berkah.” (Abu Umar Basyier. Meniti di Atas Kabut. Hlm 186)
Banyak kutipan yang menggambarkan penokohan Abbas dalam novel ini, berikut penokohan yang terakhir yaitu tokoh Abba situ juga penyedih, yang digambarkan oleh tokoh Abbas dalam novel “Meniti di Atas Kabut” karya Abu Umar Basyier.
“aku menangis tersedu-sedu. Segera kusadari bahwa Azizah telah pergi meninggalkanku. Ya Allah, secepat inikah? Azizah, isteriku, guru mengajiku. (Abu Umar Basyier. Meniti di Atas Kabut. Hlm 270).
 
Azizah
Tokoh Azizah digolongkan sebagai tokoh utama dan sekaligus digolongkan ke dalam tokoh protagonis. Azizah ini memiliki kepribadian yang sang baik, wanita berkerudung, dan bercadar. Hal ini yang membuat Abbas mempersunting Azizah sebagai istrinya. Azizah yang memiliki kepribadian baik di mata Abbas ini, penokohannya dalam novel “Meniti di Atas Kabut” karya Abu Umar Basyier digambarkan sebagai istri yang muslimah, berikut kutipan yang menjelaskan hal tersebut.
“shalat malam adalah kegemaran Azizah. Itu ibarat ‘candu’ bagi orang-orang shalih,Mas . . . .” (Abu Umar Basyier. Meniti di Atas Kabut. Hlm 161)
Setelah Abbas menikahi Azizah, banyak hal-hal yang ia ketahui dari diri Azizah, satu diantaranya bahwa Azizah merupakan wanita yang penyedih, penokohan tersebut dapat kita lihat dari penokohan yang digambarkan Azizah dalam novel “Meniti di Atas Kabut” karya Abu Umar Basyier.
“saat mendengar kabar itu, Azizah pun turut menangis. Itulah pertama kali aku melihatnya menangis. . . .” (Abu Umar Basyier. Meniti di Atas Kabut. Hlm 159)
Azizah yang memiliki kepribadian yang hampir sempurna itu membuat Abbas semakin cinta kepadanya, namun banyak keluarga Abbas yang tidak suka dengan Azizah, sehingga dari sini tampak bahwa Azizah itu seorang yang penyabar ketika harus berhadapan dengan keluarga Abbas yang selalu menghinanya, berikut kutipan yang dapat kita lihat dalam novel “Meniti di Atas Kabut” karya Abu Umar Basyier.
“gak usah terlalu dipikirkan, Mas, aku juga gak merasa dianaktirikan kog. Bagiku, mereka semua baik-baik terhadapku. Kalau sekarang kurang akrab, mungkin belum saatnya saja.” (Abu Umar Basyier. Meniti di Atas Kabut. Hlm  139).
Menyikapi berbagai hal dengan sabar merupakan hal yang menjadi diri Azizah lebih dibandingkan tokoh tokoh lain yang menjadi antagonis. Dalam hal lain digambarkan bahwa Azizah juga menggambarkan penokohan yang berwatak pengertian, berikut kutipan dalam novel “meniti di Atas Kabut” karya Abu Umar Basyier yang menggambarkan Azizah sebagai wanita yang pengertian.
“aku menyukai sikapmu itu, Mas. Tapi, segala sesuatu gak boleh berlebihan kan? Karena takut godaan wanita, maka tak mau kawin. Takut tergoda nafsu, lalu setiap hari berpuasa. Takut mimpi buruk, lalu tak pernah tidur. Semua itu tak benar kan?” (Abu Umar Basyier. Meniti di Atas Kabut. Hlm 122)
Doni
      Tokoh Doni ini digolongkan sebagai tokoh utama di dalam novel “Meniti di Atas Kabut” karya Abu Umar Basyier dan sekaligus juga digolongkan sebagai tokoh protagonis di novel ini. Doni ini digambarkan sebagai abang Abbas yang bertubuh kekar, besar, dan berotot, karena di antara mereka empat saudara hanya Doni yang memiliki tubuh seperti itu sehingga membuat para adiknya takut dengan dia. Berikut kutipan di dalam novel “Meniti di Atas Kabut” karya Abu Umar Basyier yang menggambarkan tokoh Doni itu memiliki tubuh yang atletis.
“saat itu pula kakakku Doni yang bertubuh besar, kekar, dan berotot, dan hanya dia di antara kami berempat yang memiliki nyali besar, berlari keluar rumah, menyambut remaja nahas yang ternyata dia kenal sebagai salah seorang temannya dari kampung ‘M’.” (Abu Umar Basyier. Meniti di Atas Kabut. Hlm 39).
Selain dari hal yang telah kita ketahui dari teks di atas, Doni memiliki watak yang bijaksana dalam menanggapi segala hal yang terjadi pada keluarga mereka, seperti saat Harun membahas Aziazah yang tidak mau bersalaman dengan karib kerabatnya yang bukan uhrim baginya . Berikut kutipan yang dapat penulis ambil dari novel “Meniti di Atas Kabut” karya Abu Umar Basyier.
“itu juga soal amalan run. Artinya, bukan mereka menganggap itu boleh, tapi karena mereka tak mampu menolak untuk bersalaman. Kamu bisa Tanya mereka satu persatu. Bila jujur, para ustadz itu, insyaallah akan menjawab bahwa hakikat bersentuhan dengan pria yang bukan mahram, meskipun masuk dalam kategori kerabat sekalipun, hukumnya haram dalam islam.” (Abu Umar Basyier. Meniti di Atas Kabut. Hlm 144).
Kebijaksanaan Doni dalam keluarganya itu tidak begitu dipandang baik juga oleh istri Harun dan Sari kakaknya Abbas. Selain memiliki watak yang bijaksana, Doni juga orang yang berwatak pandai bersyukur terhadap kehidupan yang sudah didapatkannya, seperti yang dapat kita lihat ketika istrinya belajar agama lebih dalam. Berikut kutipan yang dapat kita lihat dari novel karya Abu Bakar Basier tersebut.
“bas, terlalu banyak kendala dalam keluarga kita dan lingkungan kita. Bisa mengajipun, kami sudah bersyukur.” (Abu Umar Basyier. Meniti di Atas Kabut. Hlm 229).
Kendati demikian, Doni juga banyak memiliki cobaan hidup ketika hendak berubah ke jalan yang lebih baik oleh keluarganya yang lain. Setelah Harun dan Sari bertambah dewasa, mereka sudah tidak lagi menghormati Doni sebagai Abangnya, mereka memandang sebelah mata terhadap Doni yang mereka anggap pengecut.
Harun
Dalam novel “Meniti di Atas Kabut” karya Abu Umar Basyier ini, tokoh Harun digolongkan ke dalam tokoh utama juga namun penokohan yang dibawanya bersifat antagonis. Harun yang merupakan abang Abbas nomor dua setelah Doni ini berwatak yang sangat bersimpangan dengan Doni maupun Abbas saudara kandungnya, dalam novel ini, Harun memiliki watak yang bersifat pemarah, dalam novel “Meniti di Atas Kabut” dapat kita lihat kutipannya yang menggambarkan bahwa Harun bersifat pemarah.
“Oo ya, Bang. Aku piker, sebaiknya abang gak usah ikut lah pengajian-pengajian si Abbas dan si Azizah itu…” (Abu Umar Basyier. Meniti di Atas Kabut. Hlm 141) . Sifat pemarah Harun itu sangat lah kuat, dia tidak suka melihat saudaranya berubah ke dalam kebaikan dalam ajaran agama, karena dia merasa dalam kehidupan mereka yang dulu keluarga tidak ada mengajarkan agama yang seperti itu, sehingga perubahan yang terjadi pada saudaranya itu tidak didukungnya. Namun, Harun yang memiliki sifat pemarah itu, dia memiliki keunggulan yaitu, Harun ulet dalam bekerja, sifat ulet yang ada dalam diri Harun ini lah yang membuat bisnisnya lebih baik dari saudaranya yang lain, meskipun pada akhirnya Harun harus mengalami kebangkrutan besar-besaran. Melihat sifat ulet Harun dalam bekerja dapat kita lihat dari kutipan novel “Meniti di Atas Kabut” karya Abu Umar Basyier ini.
“ Hanya Harun yang bisnisnya merambah perkebunan sawit dan karet di wilayah Sumatra, bisnis jual beli saham, juga sedikit bisnis sampingan batu bara di Kalimantan Barat.” (Abu Umar Basyier. Meniti di Atas Kabut. Hlm 149).
Keuletan Harun itu yang membuat dia sukses sementara dan pada akhirnya dia pun dibohongi oleh rekan kerjanya juga. Harun juga memiliki sifat yang suka mempengaruhi orang lain, terutama dia suka mempengaruhi Doni agar tidak ikut-ikutan denga perubahan yang terjadi pada diri Abbas. Berikut kutipan yang dapat Penulis tuliskan ke dalam teks di bawah ini.
“keluarga kita gak terbiasa dengan peahaman Islam ekstrim seperti itu. Yang biasa-biasa aja lah, yang kita dapat dulu dari guru-guru mengaji kita…” (Abu Umar Basyier. Meniti di Atas Kabut. Hlm 141). Namun, perkataan Harun seperti itu tidak lah menggoyahkan iman Doni untuk terus berubah ke jalan kebenaran menurut ajaran agama.
Sari
Tokoh Sari merupakan tokoh utama dalam novel “Meniti di Atas Kabut” karya Abu Umar Basyier ini sekaligus tokoh antagonis dalam novel ini. Perwatakan Sari dalam novel ini, Sari memiliki sifat pemarah. Sifat pemarah Sari ini tak jarang diberikannya kepada adiknya Abbas dan Azizah istrinya Abbas. Sari tidak menyukai kepribadian Azizah yang begitu fanatiknya dengan ajaran agama di mata Sari sehingga Sari tidak bisa menjaga emosinya ketika bertemu Abbas atau Azizah. Kutipan yang dapat kita lihat dalam novel “Meniti di Atas Kabut” karya Abu Umar Basyier  mengenai penokohan Azizah yaitu.
“pakaian istrimu itu berlebihan, tak cocok diterapkan di negeri kita…” (Abu Umar Basyier. Meniti di Atas Kabut. Hlm 136).
Sikap pemarah Sari yang itu tak hanya dilontarkannya kepada Azizah dan Abbas, namun dia juga berani memarahi Doni yaitu abangnya yang paling tua karena tidak menjalankan bisnis ayahnya dengan baik.
Monah
Monah dalam novel “Meniti di Atas KAbut” karya Abu Umar Basyier digolongkan sebagai tokoh tambahan dan sekaligus tokoh antagonis. Dikatakan tokoh tambahan karena pemunculan tokoh Monah dalam novel ini sangat sedikit, tidak terlalu dipentingkan, dan kehadirannya dimunculkan hanya jika ada keterkaitan dengan tokoh utama. Monah merupakan istri dari Harun, saudara Abbas nomor dua. Dalam novel ini Monah memiliki watak yang pemarah, Monah tidak begitu suka dengan Azizah karena bagi pandangan dia Azizah adalah biang kerok yang menghanyutkan Abbas ke dalam kehidupan yang seperti itu, sehingga Abbas tidak begitu menekuni kehidupan berbisnis padahal Abbas merupakan Sarjana ekonomi. Berikut ada beberapa kutipan yang menjelaskan bahwa Monah itu memiliki sifat yang pemarah yang dapat kita lihat dalam novel “Meniti di Atas Kabut” karya Abu Umar Basyier.
“heh, perempuan sok alim. Kamu kan, yang tadi malam mendesak-desak bang Harun pergi menjemput suamimu itu:” (Abu Umar Basyier. Meniti di Atas Kabut. Hlm 219).
Sifat pemarah yang dimiliki tokoh Monah itu tak jarang ia lontarkan kata-kata kasar kepada tokoh Azizah yang penyabar dalam menghadapi situasi seperti itu. Berikut kutipannya yang dapat kita lihat dalam novel “Meniti di Atas Kabut” karya Abu Umar Basyier.
“buka saja jilbab dan cadar palsumu itu ….wanita lacur, gila….” (Abu Umar Basyier. Meniti di Atas Kabut. Hlm 220). Seperti itulah kata-kata kasar dari mulut Monah yang sering dilontarkannya kepada Azizah, selain Azizah, Monah sering menghina Sarah istrinya Doni. Setelah kepergian Harun, sifat asli Monah pun muncul yaitu wanita bejat yang sering melakukan kumpul-kumpul, merokok, dan membawa laki-laki bukan mahram ke dalam kamar, padahal saat itu Monah masih masa iddah, karena Harun meninggal baru saja 2 bulan , sedangkan masa iddah itu selama 4 bulan 10 hari. Berikut kutipan yang dapat kita lihat mengenai sifat Monah yang memiliki sifat bejat dan tidak setia kepada suami.
“monah makin menjadi-jadi. Rasa malunya bagai lenyap ditelan bumi. Pria tetangganya sering ia bawa ke rumahnya, lalu mendekam berduaan dalam kamar seharian. Terkadang mereka pergi ke luar kota, dan 2 hari kemudian baru pulang kembali ke rumah” (Abu Umar Basyier. Meniti di Atas Kabut. Hlm 235)
Sifat Monah seperti itu pun membuat Sari menjadi terpukul, karena bagi dia Monah itu tidak bersikap setia terhadap Harun yang merupakan abangnya Sari.
Sarah
Tokoh Sarah di dalam novel “Meniti di Atas Kabut” karya Abu Umar Basyier ini digolongkan tokoh tambahan sekaligus tokoh protagonis. Dikatakan sebagai tokoh tambahan dikarenakan pemunculannya dalm novel ini sangat sedikit, tidak terlalu dipentingkan, dan pemunculannya dalam novel ini hanyalah jika ada keterkaitan dengan tokoh utama. Tokoh Sarah ini merupakan istri dari saudara Abbas yang paling tua yaitu Doni. Sari ini merupakan anak yatim piatu yang membuat dia harus hidup mandiri dari sejak kecil dan berkepribadian yang bersahaja. Karakter yang ada dalam tokoh Sarah ini adalah baik hati. Berikut kutipan yang mengenai tokoh Sarah dalam novel “Meniti di Atas Kabut” karya Abu Umar Basyier.
“…sarah sangat senang menyambut kedatangan kami. Seringkali kami ditahan untuk tidak pulang dan menginap dirumahnya. (Abu Umar Basyier. Meniti di Atas Kabut. Hlm 168).
Kebaikan yang ada dalam diri Sarah itulah yang membuat Abbas dan Azizah senang dengan dia dan membuat mereka sangat akrab. Sarah juga sering bermain ke rumah Abbas sekedar mengajar Azizah memasak, karena Azizah bukanlah tipikal wanita yang pandai memasak. Selain berkepribadian baik, Sarah juga wanita soleha yang ingin melakukan perubahan baik dalam tuntunan ajaran agama. Berikut kutipan yang dapat kita lihat mengenai kepribadian Sarah yang soleha dan ingin berubah menjadi wanita yang beriman itu.
Pagi ini, aku dan Azizah melihat keajaiban yang serupa. Bang Doni datang bersama mbak Sarah, berkunjung seperti biasanya. Hal yang lumrah-lumrah saja, karena soal kunjung-mengunjung di antara kami sudah menjadi kebiasaan yang berlangsung lama. Namun yang membuat kami tersentak, mbak Sarah datang dengan berjilbab besar dan bercadar!!” (Abu Umar Basyier. Meniti di Atas Kabut. Hlm 228). Perubahan inilah yang membuat hubungan antara Abbas, Doni, Sarah, dan Azizah semakin erat.
Ustadz Ferry
Tokoh ustadz Ferry dalam novel “Meniti di Atas Kabut” karya Abu Umar Basyier ini digolongkan sebagai tokoh tambahan sekaligus merupakan tokoh protagonis. Dikatakan sebagai tokoh tambahan dikarenakan pemunculannnya dalam novel ini yang sedikit, tidak terlalu dipentingkan, dan kehadirannya dimunculkan hanya jika ada keterkaitan dengan tokoh utama. Dalam novel ini, tokoh Ustadz Ferry ini digambarkan sebagai orang alim, berkepribadian luhur dan merupakan teman kecil Abbas, sekaligus ustadz dikampungnya setelah ustadz Ferry mondok di pesantren selama 1 tahun lebih. Dia lah orang yang memberikan Abbas semangat hidup dan mendalami ajaran agama dengan lebih lagi untuk kebaikan dirinya sendiri. Berikut ada beberapa kutipan yang menjelaskan bahwa tokoh Ustadz Ferry ini merupakan teman dan guru yang memotivasi Abbas dalam hidup. Guru dalam artian orang yang mengajarkan agama meskipun sedikit.
”kita hidup di dunia ini kan ibarat perantau, atau pengembara yang melintas jalan….perantau, berarti tinggal sementara di negeri orang. Kita tinggal di dunia hanya seperti perantau yang berniat berdiam sementara di satu tempat. Mencari, lalu mengumpulkan perbekalan untuk dibawa ke kampung halamannya. Saat mencari segala sesuatu ia tak boleh terpancang pada sesuatu tersebut, terlenakan olehnya untuk kemudian enggan berpisah dengannya. Bila demikian, ia akan gagal membawa hasil saat harus pulang ke kampung halaman.” (Abu Umar Basyier. Meniti di Atas Kabut. Hlm 68).
“siapa ya? Sepertinya aku kenal ! wajahmu terasa tidak asing,” (Abu Umar Basyier. Meniti di Atas Kabut. Hlm 65).  
Kutipan tersebut menerangkan penrjumpaan pertama kali Ustadz Ferry dengan Abbas setelah lama tidak bertemu. Mulai dari sinilah akhirnya Abbas mulai belajar agama denga lebih baik lagi.
Pak Jasmin
Pak Jasmin dalam novel “Meniti di Atas Kabut” karya Abu Umar Basyier ini merupakan tokoh tambahan dan sekaigus sebagai tokoh protagonis. Dikatakan sebagai tokoh tambahan dikarenakan pemunculannya yang sedikit, tidak terlalu dipentingkan, dan kehadirannya dimunculkan hanya jika ada keterkaitan dengan tokoh utama. Dalam novel ini, pak Jasmin digambarkan sebagai tokoh yang berperilaku baik, tergolong orang yang mengenal ajaran agama, sosok orang tua yang sudah tua berumur kira-kira di atas 60 tahun.. Pak Jasmin ini merupakan ayah kandung dari isrinya Abbas yaitu Azizah dan tak lain Pak Jasmin ini adalah mertua Abbas. Berikut kutipan yang dapat kita lihat mengenai penokohan Pak Jasmin dalam novel “meniti di Atas Kabut” karya Abu Umar Basyier.
“silakan kalian mengobrol, dan berta’aruf dulu di sini, biar kami duduk di pojok sana. Biar kalian lebih beba saling bertanya-tanya..” (Abu Umar Basyier. Meniti di Atas Kabut. Hlm 106).
“sebelum mempersunting seorang gadis, masing-masing harus saling melihat, apakah ada kecocokan secara pisik. Itu anjuran dalam As-sunah. Ibaratnya, agar seseorang tak membeli kucing dalam karung” (Abu Umar Basyier. Meniti di Atas Kabut. Hlm 109).
Kutipan di atas merupakan kebijaksanaan yang dilakukan pak Jasmin ketika memperkenalkan anak gadisnya kepada Abbas sebelum Abbas menikahi Azizah.
 
Bapak
Tokoh bapak dalam novel yang berjudul “Meniti di Atas Kabut” karya Abu Umar Basyier ini merupakan tokoh tambahan dan sekaligus tokoh protagonis. Dikatakan sebagai tokoh tambahan dikarenakan pemunculannya yang sedikit, tidak terlalu dipentingkan, kehadirannya dimunculkan hanya jika ada keterkaitan dengan tokoh utama. Tokoh bapak ini merupakan orang tua laki-laki dari Abbas, Doni, Harun, dan Sari. Tokoh bapak ini merupakan seseorang yang memiliki karakter yang disiplin, ulet dalam bekerja, garang, dan bijaksana serta tidak begitu mengenal agama. Beriku ada beberapa kutipan yang menjelaskan karakteristik bapak.
“ untuk bisa hidup berhasil di dunia dagang, kita harus mengenal disiplin, melatih dan membiasakannya dalam kehidupan kita” (Abu Umar Basyier. Meniti di Atas Kabut. Hlm 28)
“ia pekerja ulet luar biasa. Benar-benar workaholic. Jam setengah empat dini hari, saat kebanyakan orang di kampung kami berselimut ksarung di kamar tidurnya, ia sudah bangun, menyiapkan semua hal yang ia anggap punya kaitan dengan kegiatan bisnisnya.” (Abu Umar Basyier. Meniti di Atas Kabut. Hlm 27)
Keuletan dan kebijaksanaan bapaknya itulah yang membuat Abbas bangga terhadap bapaknya, namun di sisi lain Abbas juga kadang merasa tidak suka denga sifat bapaknya yang terlalu disiplin dan garang, berikut beberapa kutipan yang dapat kita lihat.
“di rumah, bapak mendidikku dengan disiplin keras,. . . .” (Abu Umar Basyier. Meniti di Atas Kabut. Hlm 32).
“ayahku mengganti biaya pengobatannya, lalu memarahiku habis-habisan.” (Abu Umar Basyier. Meniti di Atas Kabut. Hlm 33).
Ibu
Tokoh Ibu dalam novel “Meniti di Atas Kabut” karya Abu Umar Basyier ini tergolong tokoh tambahan dan protagonis. Dikatakan tokoh tambahan dikarenakan pemunculannya dalam novel ini sangat sedikit, tidak terlalu dipentingkan, dan kehadirannya dimunculkan hanya jika ada keterkaitan dengan tokoh utama. Tokoh ibu ini merupakan orang tua permpuan dari Abbas, Doni, Harun,dan Sari. Tokoh ibu ini berwatakkan orang yang disiplin dan hemat. Dalam novel ini ada beberapa ada kutipan yang menjelaskan karakter dari ibu.
“setiap makan, aku tak boleh tambah. Itu aturan dalam rumah kami. Bukan karena kekurangan nasi, tapi ibu ingin aku melakukan segala sesuatu dengan penghitungan cermat.” (Abu Umar Basyier. Meniti di Atas Kabut. Hlm 18).
“…..mungkin tidak mengherankan. Karena, meski kami keluarga kaya, ibuku sangat hemat. Aku tak berani menyebutnya pelit….” (Abu Umar Basyier. Meniti di Atas Kabut. Hlm 18).
Sifat hemat yang ada dalam tokoh ibu itu kadang membuat Abbas merasa risih, karena sifat hemat ibunya itu, dia tidak bisa makan seperti anak orang kaya lain yang bisa makan sepuasnya.

Latar atau Seting
Latar atau setting sering mengarah pada pengertian tempat, waktu, dan lingkungan sosial tempat terjadinya peristiwa yang diceritakan (Abrams dalam Nurgiyantoro, 1998: 216). Latar atau setting berkenaan dengan situasi tempat dan waktu terjadinya peristiwa. Secara sederhana dapat dikatakan bahwa segala keterangan, petunjuk, pengacauan yang berkaitan dengan waktu, ruang, suasana terjadinya peristiwa dalam suatu karya sastra membangun latar cerita. Secara terperinci latar meliputi penggambaran lokasi geografi, termasuk topografi, pemandangan, sampai pada perincian perlengkapan sebuah ruangan pekerjaan atau kesibukan sehari-hari para okoh, waktu berlakunya kejadian, masa sejarahnya, musim terjadinya, lingkungan agama, moral, intelektual, sosial dan emosional para tokoh. Hudson membedakan latar menjadi dua, yaitu  latar sosial dan latar fisik material. Latar sosial mencakup penggambaran keadaan masyarakat, kelompok sosial dan sikapnya, adat kebiasaan, cara hidup, bahasa dan lain-lain yang melatari peristiwa.
Adapun yang dimaksud dengan latar fisik adalah tempat dalam ujud fisiknya yaitu bangunan, daerah dan lain-lain. Abrams (1981:157) menyatakan latar itu (dalam cerita maupun dalam drama) adalah tempat terjadinya sesuatu peristiwa secara umum, waktu berlangsungnya suatu tindakan. pendapat Robert Stanton (1965: 18-19) yang menyatakan latar merupakan lingkungan tentang kejadian, dunia dekat tempat kejadian itu terjadi. Bagian-bagiannya merupakan latar belakang (background) yang bisa kelihatan, tetapi bisa juga faktor waktu, musim, atau periode kesejarahan. Mekipun latar tidak dinyatakan sebagai bagian yang bersifat prinsipsif untuk perwatakan, namun ia bisa menyatakan adanya manusia di dalam latar belakang tersebut. Kadang-kadang latar langsung menjadi bagian dari perwatakan, kadang-kadang menunjukkan tema. Dalam kebanyakan cerita, latar menimbulkan suasana emosional atau mood, yang mengitari perwatakan.
Gene Montague dan Marjoe Henshaw (1966:1) tidak hanya menyebut latar berfungsi untuk tokoh, namun juga menyatakan latar kadang-kadang sebagai faktor yang sangat kuat menentukan terhadap plot. Dengan dasar itulah Montague dan Henshaw merumuskan fungsi latar dalam tiga ciri:
 
Latar dapat menempatkan sesuatu karakter.
Latar dapat merupakan faktor yang menentukan tema, jika fungsinya lebih sebagai latar belakang, tetapi kurang dari karakter.
Latar dapat juga sebagai alat penghubung tema.
Namun, latar jelas berfungsi untu menyempurnakan cerita (Brook dan Warren, 1965:648), dan latar dapat juga membangun suasana (atmosfir) yang diharapkan menghasilkan kualitas keterangan dan efek cerita (Potter, 1967:27). Latar dalam novel “Meniti di Atas Kabut” karya Abu Umar Basyier ini teriri dari latar tempat, latar waktu, dan latar sosial. Pada bagian ini penulis akan membahas satu persatu latar atau setting yang ada dalam novel karya Abu Umar Basyier tersebut.
 
Latar Tempat
Latar tempat yang ada pada novel “Meniti di Atas Kabut” karya Abu Umar Basier ini sangat banyak, latar tempat tersebut di antaranya adalah rumah Abbas, halam rumah Abbas, di tanah lapang, kampung “M” (kampung Makasar), Mushalla, warung nenek, rumah nenek, rumah Pak Jasmin, ruang tamu rumah Pak Jasmin, di kamar, di pondok pesantren, di warung, rumah Harun, rumah sakit, di mesjid, Jakarta, toko roti, kamar mandi, dan di atas ranjang.
Latar tempat yang pertama akan penulis bahas dari dalam novel “Meniti di Atas Kabut” karya AbuUmar Basyier adalah rumah Abbas, di sini lah Abbas menghabiskan masa kecil dan remajanya bersama keluarga, di lingkungan itu, hanya rumah Abbas dan rumah Hendrik yang paling besar. Berikut kutipan yang membahas latar tempat di rumah Abbas
“aku mengajaknya menginap di rumahku. Kebetulan bapakku telah membangun lagi sebuah sumah, 200 meter dari rumah kami. Rumah kedua ini, rencananya dibangun untuk kami juga. Karena kosong, akhirnya aku dan beberpa orang teman hampir setiap malam tidur di situ, terutama di bulan Ramadhan.” (Abu Umar Basyier. Meniti di Atas Kabut. Hlm 66)
Latar selanjutnya adalah latar tempat di halaman rumah Abbas. Di latar ini ketika Abbas masih zaman kanak-kanak, yang harus menjadi saksi atas pemukulan seorang remaja oleh preman kampung yang mengakibatkan kematian. Hal ini membuat Abbas dan saudaranya trauma dengan hal-hal kekerasan. Berikut kutipan yang dapat kita lihat.
“seorang remaja dari kampung seberang kampung M dikejar-kejar serombongan orang mabuk, hingga meringkuk ke depan rumahku. Aku dan saudara-saudaraku panic, karena remaja itu masuk ke pekarangan kami yang luas.” (Abu Umar Basyier. Meniti di Atas Kabut. Hlm 38).
Latar selanjutnya adalah latar tempat di mushalla. Dalam novel “Meniti di Atas Kabut” karya Abu Umar Basyier ini, latar mushalla sangat banyak muncul, dikarenakan aktivitas Abbas yang sering berada di mushalla ketika dia mencari ilmu ajaran agama.
“bulan ramadhan yang penuh berkah, bersama beberapa orang temanku, aku mengikuti shalat tarawih berjamaah di langgar atau mushalla At-Taubah, di kampung ‘M’. (Abu Umar Basyier. Meniti di Atas Kabut. Hlm 63).
Selain di mushalla At-Taubah, Abbas sering berada di mushalla lain yang berada di dekat kampung saat dia tinggal, ketika dia sudah punya istri, Abbas sering pergi ke mushalla yang ada dekat rumah baru nya dengan Azizah.
“harapan-harapan itu muncul seiring dengan semakin gighnya kami melakukan pembinaan di mushalla yang hanya berjarak seratus meter dari rumah kami.” (Abu Umar Basyier. Meniti di Atas Kabut. Hlm 203).
Latar selanjutnya yang akan penulis bahas adalah latar tempat di tanah. Di lokasi ini Abbas sedang berlari-lari dengan temannya dan pergi istirahat, namun ketika itu lah Abbas pernah hilang yang kononnya Abba situ dibawa oleh hantu hutan tersebut, hal itu lah yang memulai hati Abbas tergugah untuk mengenal agama. Berikut kutipan mengenai hal tersebut yang dapat kita lihat.
“perlahan-lahan, masing-masing kami berusaha bangkit dan duduk di atas tanah. Tempat yang kami tuju sebagai garis finis itu adalah sebuah lapangan kecil yang dibelakangnya ada semacam hutan atau pohon-pohon liar yang sangat lebat, namun bukan jenis pohon-pohon besar.” (Abu Umar Basyier. Meniti di Atas Kabut. Hlm 43).
Latar selanjutnya adalah kampung ‘M’, kampung ‘M’ ini merupakan kampung yang berada di dekat kampung Abbas, tempat tinggal Abbas ketika kecil bersama keluarganya. Kejadian atau peristiwa yang terjadi pada latar ini adalah peristiwa Abbas menghabiskan masa kecilnya dengan teman-teman, tempat Abbas pergi shalat di mushalla,  dan banyak peristiwa yang terjadi di latar ini.
“aku mengikuti shalat tarawih berjamaah di langgar atau mushalla At-Taubah, di kampung ‘M’.” (Abu Umar Basyier. Meniti di Atas Kabut. Hlm 63).
Di kampung M ini Abbas banyak mengenal orang luar dan para ustadz yang berceramah di mushalla tersebut.
Latar tempat selanjutnya yang akan penulis bahas adalah latar warung nenek tua, di latar ini lah Abbas pergi beristirahat sejenak untuk membeli minuman karena kehausan satelah berlari sprint dengan teman-temannya, namun pada latar ini peristiwa Abbas ditinggalkan temannya gara-gara melamun pun pernah terjadi. Berikut kutipan yang ada dalam novel tersebut yang dapat penulis tuliskan.
“maka, kami pun berhamburan ke warung itu, untuk menjadi yang pertama dilayani. Lagi-lagi, Beki yang beruntung.” (Abu Umar Basyier. Meniti di Atas Kabut. Hlm 44).
Selajutnya latar yang akan dibahas adalah latar tempat di rumah atau gubuk kecil nenek. Peristiwa yang terjadi di latar ini adalah Abbas menginap di rumah nenek tua itu yang menggunakan lampu petromak.
“jaraknya hanya sekitar 100 meter dari pinggir jalan, dari gubuk tempat nenek itu berjualan. Sehingga hanya beberapa menit, aku sudah duduk kembali di atas sebuah kursi, di ruang tamu rumah itu yang cukup luas.” (Abu Umar Basyier. Meniti di Atas Kabut. Hlm 48).
Latar selanjutnta adalah latar tempat rumah pak Jamin. Di tempat ini lah Abbas pertama kali pergi bermain ke rumah Pak Jasmin untuk berkenalan dengan Azizah yang akan menjadi istrinya kelak.
“aku merasa tidak sedang berada di rumah orang lain yang belum pernah kukenal sama sekali. Kami bahkan mengobrol seperti dengan keluarga sendiri.” (Abu Umar Basyier. Meniti di Atas Kabut. Hlm 104)
Latar selajutnya adalah latar tempat ruang tamu rumah pak Jasmin. Peristiwa ini terjadi saat Abbas sudah masuk ke dalam rumah pak Jasmin dan mengobrol dengan pak Jasmin dan Azizah.
“mungkin sekitar 5 menit, aku hanya duduk menunduk, memandangi lantai ruang tamu itu, tanpa mampu mengucapkan sepatah katapun.” (Abu Umar Basyier. Meniti di Atas Kabut. Hlm 106).
Latar selanjutnya adalah di kamar. Dalam novel “Meniti di Atas Kabut” karya AbuUmar Basyier ini terjadi banyak peristiwa pada latar kamar, namun penulis akan menyebutkan satu di antaranya.
“di kamar, kutemui Azizah sudah tertidur lelap. Mushaf Al-Quran ia dekap di dadanya.” (Abu Umar Basyier. Meniti di Atas Kabut. Hlm 267)
Pada latar ini, Abbas menghabiskan waktunya dengan Azizah untuk berduaan. Mereka selalu bahagia dengan kehidupan yang mereka jalani meskipun beberapa rintangan mereka lewati.
 
Latar selanjutnya pada novel “Meniti di Atas Kabut” karya Abu Umar Basyier adalah latar di pondok pesantren. Pada latar ini, Azizah mengingat masa lalunya ketika mondok di pesantren. Berikut kutipan yang dapat penulis tuliskan mengenai hal latar ini.
“ilmu di pondokku dulu, jauh dari sempurna, itu sebabny, wawasanku bagai terbuka luas sebegitu cepat, justru setelah aku menghadiri beberapa majelis ilmu para ustadz di luar pesantren.” (Abu Umar Basyier. Meniti di Atas Kabut. Hlm 170).
Latar selanjutnya yang ada dalam novel “Meniti di Atas Kabut” karya Abu Umar Basyier ini adalah latar di warung, warung ini milik ibu Darso yang juga tetangga Abbas dan istrinya. Di latar ini, Abbas sering membeli sarapan dengan istrinya, kira-kira 5 kali dalam sepekan. Berikut kutipan yang ada dalam novel tersebut yang membahas latar tempat di warung tersebut.
“aku sampai berhenti mendadak, saat tiba-tiba aku sudah sampai di sebua warung yang memang sudah lama menadi langgananku di masa lajang.” (Abu Umar Basyier. Meniti di Atas Kabut. Hlm 129).
Latar selanjutnya adalah latar tempat di rumah Harun. Pada latar ini banyak peristiwa-peristiwa yang tidak menyenangkan hati bagi Abbas dan istrinya, terutama sikap Monah istri Harun itu. Monah tidak negitu suka dengan penampilan Azizah seperti itu ketika bertandang ke rumahnya. Berikut kutipan mengenai latar tersebut yang dapat penulis tuliskan.
“berkali-kali Harun masuk ke rumahnya, dan duduk kembali menemani kami. Itu terjadi berulang-ulang hingga mendekati waktu Zhuhur.” (Abu Umar Basyier. Meniti di Atas Kabut. Hlm 140).
Latar selanjutnya adalah latar di rumah sakit islam Cempaka Putih. Pada latar ini Azizah di bawa ke rumah sakit karena mengidap penyakit hepatitis, hal ini diketahui setelah Azizah diperiksa ke dokter. Di mulai dari sini kesehatan Azizah sudah semakin berkurang karena terlalu lelah mengurus rumah tangga dan aktivitas luarnya yaitu menjaga toko dan melakukan pengajian di mushalla. Berikut kutipan yang ada dalam novel “Meniti di Atas Kabut” karya Abu Umar Basyier mengenai latar tersebut.
“aku membawanya ke rumah sakit Islam Cempaka Putih. Dokter wanita yang memeriksa Azizah memastikan bahwa Azizah terserang penyakit hepatitis, sejenis penyakit lever, akibat terlalu lelah.” (Abu Umar Basyier. Meniti di Atas Kabut. Hlm 262).
Latar selanjutnya adalah latar di Jakarta. Peristiwa yang terjadi pada latar ini adalah Abbas pergi ke desa terpencil untuk menyelesaikan urusan bisnisnya dengan rekan bisnis di sana, namun peristiwa lain pun terjadi pada saat yang sama ketika Abbas tidak bisa pulang dan meminta Harun menjemputnya di daerah tersebut, Harun mengalami kecelakaan yang mengakibatkan kematian bagi dia. Berikut kutipan yang dapat kita lihat dalam novel “Meniti di Atas Kabut”  karya Abu Umar Basyier.
“sampai di rumah, matahari sudah agak meninggi. Kemacetan kota Jakarta di pagi hari, memaksaku untuk terlambat ke rumah hingga pukul 09.00.” (Abu Umar Basyier. Meniti di Atas Kabut. Hlm 215).
Latar selanjutnya adalah latar di kamar mandi, dalam novel “Meniti di Atas Kabut” karya Abu Umar Basyier ini, latar tersebut menjelaskan peristiwa yang terjadi ketika Abbas meminta izin kepada istrinya untuk membersihkan tubuh dan mengganti pakaian. Saat itu Azizah sedang sakit yang hanya terbaring di Atas ranjang, pada saat itu Azizah sedang membaca Al-Quran yang tadinya didampingi oleh Abbas. Berikut kutipan yang menjelaskan latar yang ada dalam novel tersebut.
“di kamar manid, aku tak berlama-lama seperti kebiasaanku. Kali ini mandi dengan cepat, bersuci, berganti pakaian dan kembali ke kamar, menemui Azizahku.” (Abu Umar Basyier. Meniti di Atas Kabut. Hlm 269).
Latar seterusnya dan merupakan latar tempat yang terakhir adalah latar tempat di mesjid. Pada latar ini terjadi peristiwa yaitu Abbas mendatangi sebuah acara tabligh akbar bersama istrinya. Setelah keluar dari mesjid ketika Azizah meminta izin menjumpai temannya di depan teras mesjid, Abbas sempat bergurau kepada istrinya kalau dia meminta dicarikan seseorang lagi, padahal Abbas hanya bergurau dan tak ada niat sekalipun. Berikut kutipan yang menjelaskan bahawa Abbas berada di Mesjid pada saat itu adalah.
“hari itu kami baru keluar dari sebuah masjid, lokasi di mana sebuah tabligh akbar  baru saja selesai disampaikan”. (Abu Umar Basyier. Meniti di Atas Kabut. Hlm 197).
 
Latar Waktu
Latar waktu yang terdapat pada novel “Meniti di Atas Kabut”  karya Abu Umar Basyier ini adalah pagi hari, sore hari, malam hari, dini hari, hari libur, waktu zhuhur, bulan ramadhan, setengah jam, satu pekan, dua pekan, hari ahad, hari sabtu, akhir pekan, pukul 9 malam, pukul 11 malam, tengah malam, dan waktu maghrib.
Latar pagi hari tampak ketika ibu Darso yang datang ke rumah mereka pagi-pagi saat meminta bantuan kepada Abbas dan Azizah karena anak bu Darso masuk ke rumah sakit, dan pada akhirnya Abbas dan Azizah pergi ke rumah sakit untuk membantu anak bu Darso.
“pagi itu, kami kedatangan seorang tetangga. Ia tak lain Bu Darso, langganan sarapan kami.” (Abu Umar Basyier. Meniti di Atas Kabut. Hlm 158).
Latar sore pada novel “Meniti di Atas Kabut” karya Abu Umar Basyier ini tampak pada peristiwa ketika Azizah membantu Abbas mengajar di pengajian remaja, sedangkan pada waktu itu kesehatan Azizah kurang baik sehingga Abbas memutuskan pengajian dilakukan di rumahnya. Berikut kutipan yang dapat kita lihat pada novel tersebut.
“tapi, hanya sore itu saja ia menemaniku di mushalla.” (Abu Umar Basyier. Meniti di Atas Kabut. Hlm 266).
Latar malam hari pada novel “Meniti di Atas Kabut” karya Abu Umar Basyier ini tampak pada peristiwa ketika Abbas mampir di sebuh warung kecil yang seperti gubuk dijaga oleh seorang nenek tua, dan pada saat itu Abbas ditinggalkan oleh teman-temannya. Karena peristiwa itu Abbas diajak oleh si nenek tua untuk menginap di rumahnya yang berada di belakang warung tersebut.
“heh, sudah selesai minumnya apa belum? Ini sudah malam, teman-temanmu sudah sejak tadi pergi…” (Abu Umar Basyier. Meniti di Atas Kabut. Hlm 45).
Latar dini hari pada novel “meniti di Atas Kabut” karya Abu Umar Basyier ini tampak pada ayah Abbas yang merupakan seorang pekerja yang ulet, sebelum menjadi pengusaha ayahnya menjadi pengantar Koran yang mengharuskan dia mengantarkan Koran pukul 4 pagi sampai pukul 9 pagi.
“ia mulai bekerja di Jakarta hanya sebagai penjual Koran keliling. Rumah demi rumah dia datangi mulai dari dini hari, hingga jam 9 pagi.” (Abu Umar Basyier. Meniti di Atas Kabut. Hlm 27).
Latar hari libur, latar hari libur ini tampak pada peristiwa kebiasaan keluarga Abbas pada zaman remaja ketika orang tuanya masih hidup. Mereka sering menghabiskan waktunya dengan kegiatan masing-masing. Pada hari libur ini lah keluarga mereka merasa lega karena lepas dari rutinitas keluarga yang berdisiplin tinggi bagi Abbas.
“hari libur sering menjadi kegembiraan pada banyak anak. Begitu juga kami, anak-anak keluarga bapak Juwardi Supranoto.” (Abu Umar Basyier. Meniti di Atas Kabut. Hlm 33).
Latar waktu zuhur tampak ketika Abbas bertandang ke rumah Harun, ketika itu Abbas tidak begitu disambut baik oleh istrinya Harun, karena istrinya Harun tidak begitu suka dengan penampilan Azizah saat itu yang menggunakan cadar.
“berkali-kali Harun masuk ke rumahnya, dan kembali duduk menemani kami. Itu terjadi berulang-ulang hingga mendekati waktu zhuhur.” (Abu Umar Basyier. Meniti di Atas Kabut. Hlm 140).
Latar bulan ramadhan ini tampak ketika Abbas mulai belajar agama dengan para ustadz. Abbas menyukai ustadz-ustadz yang berceramah di kampung ‘M’. Dia sering ikut shalat tarawih dengan teman-temannya di musholla.
“bulan ramadhan yang penuh berkah. Bersama beberapa teman-temanku, aku mengikuti shalat tarawih berjamaah di langgar atau musholla at-Taubah, di kampung ‘M’. (Abu Umar Basyier. Meniti di Atas Kabut. Hlm 63)
Latar setengah jam pada novel karya Abu Umar Basyier ini terletak ketika nenek tua pemilik warung itu berbicara dengan Abbas kalau temannya Abbas sudah pergi meninggalkannya namun Abbas tidak mendengarkan ajakan dari temannya itu.
“mereka sudah setengah jam yang lalu pergi. Tadi mereka mengajakmu pulang, tapi kamu malah menggeleng saja…” (Abu Umar Basyier. Meniti di Atas Kabut. Hlm 46).
Latar satu pekan pada novel karya Abu Umar Basyier ini terjadi saat Abbas pulang bertamu dari Abbas, Abbas yang pertama kali bertandang ke rumah Azizah dan disambut oleh keluarga Azizah ini merasa gugup ketika bertemu, apalagi saat itu Abbas pergi sendiri, dia tidak ditemani oleh keluargannya yang sibuk dengan aktivitas mereka.
“satu pekan, aku menunggu di rumahku. Azizah menjanjikan waktu satu pekan untuk berfikir, memohon pertimbangan kepada Allah dan melaksanakan shalat istikharah.” (Abu Umar Basyier. Meniti di Atas Kabut. Hlm 109).
Latar dua pekan pada novel “Meniti di Atas Kabut” karya Abu Umar Basyier ini terjadi saat peristiwa Abbas telah melamar Azizah dan melaksanakan acara pernikahan yang sederhana. Setelah dua pekan itu Abbas merasakan romansa kehidupan beristri, apalagi sang istri itu adalah wanita cantik idaman Abbas, dan muslimah.
“dua pekan sejak waktu acara pelamaran tersebut, akhirnya aku resmi menjadi suami Azizah.” (Abu Umar Basyier. Meniti di Atas Kabut. Hlm 115).
Latar hari ahad pada novel ini terletak pada peristiwa Abbas akan pergi melamar Azizah bersama Doni, saat itu Abbas merasa gemetaran, karena takut lamarannya ditolak, padahal dia sangat mengharapkan calon istri seperti Azizah itu.
“di pagi yang sejuk, pada hari Ahad, HPku bordering. Ternyata panggilan dari Pak Jasmin. Kembali dadaku berdegup kencang. Was-was dan prihatin.” (Abu Umar Basyier. Meniti di Atas Kabut. Hlm 110).
Latar waktu hari sabtu ini terletak pada saat Abbas pergi berjalan-jalan dengan istrinya, menemani sang istri untuk berjalan-jalan baginya merupakan sebuah kebahagian yang tak bisa digantikan dengan harga uang.
“hari sabtu itulah yang sering kami pilih untuk berjalan, bersantai-santai.” (Abu Umar Basyier. Meniti di Atas Kabut. Hlm 167).
Latar waktu akhir pekan pada novel ini terdapat pada peristiwa romantisme antara Abbas dan istrinya, mereka menikmati beribadah dengan bersama-sama. Azizah selalu membimbing Abbas mengenal ajaran agama dengan lebih baik.
“romantisme akhir pekan kami di puncak sana, tak seujung kukupun mendekatiindahnya kebersamaan kami dalam beribadah, dalam menghabiskan sebagian besar waktu kami dengan membaca Al-Quran.” (Abu Umar Basyier. Meniti di Atas Kabut. Hlm 172).
Latar waktu yang selanjutnya adalah latar waktu pukul 9 malam. Peristiwa ini terjadi saat Abbas berada di suatu tempat untuk membahas bisnisnya dengan rekan kerjanya.
“saat itu sudah pukul 9 malam, wajar bila tak ada lagi kendaraan yang lewat. Asa kami lenyap sudah.” (Abu Umar Basyier. Meniti di Atas Kabut. Hlm 212).
Latar waktu yang selanjutnya adalah latar waktu pukul 11 malam. Latar ini tampak pada peristiwa Abbas menunggu jemputan dari Harun, saudaranya. Abbas merasa terlalu lama menunggu Harun yang menjemputnya, sampai-sampai obrolannya dengan temannya pun selesai.
“tak terasa, dua jam sudah kami mengobrol panjang. Waktu sudah menunjukkan pukul 11 malam. Kutelepon Azizah, tapi tak diangkat.”. (Abu Umar Basyier. Meniti di Atas Kabut. Hlm 215).
Latar waktu yang selanjutnya adalah latar tengah malam, hal ini terjadi ketika peristiwa Abbas menunggu Harun yang semakin lama tak datang-datang dan dia beranggapan pun mungkin Harun terjebak dalam kemacetan sehingga Harun harus pulang ke rumahnya lagi.
“hingga lewat tengah malam tak juga datang, kuputuskan untuk ridur saja di rumah itu.” (Abu Umar Basyier. Meniti di Atas Kabut. Hlm 215).
Latar waktu yang terakhir adalah latar waktu maghrib, peristiwa ini merupakan saat-saat perpisahan antara Abbas dan Azizah untuk selama-lamanya yang mebuah Abbas menjadi sedih sekali.  Kepergian Azizah setelah dia membaca Al-Quran itu membuat Abbas merasa terharu dengan istrinya, dengan memeluk mushaf Al-Quran di dadanya, Azizah aharus pergi dengan tenang dan tersenyum.
“lima menit kemudian, dan saat itu hari sudah mendekati waktu Maghrib, aku pamit sejenak untuk ke kamar mandi.” (Abu Umar Basyier. Meniti di Atas Kabut. Hlm 269).

Latar Suasana
Latar suasana dalam novel “Meniti di Atas Kabut” karya Abu Umar Basyier ini sangat banyak, latar suasana ini menjadi bagian terpenting dalam unsure instrinsik novel. Dalam novel ini, latar suasananya meliputi suasana kesedihan, senang, mencekam, bahagia, menakutkan, marah, kemiskinan, kedisiplinan, kepanikan, dan kedamaian.
Latar suasana pertama yang akan penulis bahas yaitu latar suasana sedih, latar suasana sedih ini terdapat pada novel “Meniti di Atas Kabut” karya Abu Umar Basyier. Peristiwa yang ada dalam hal ini tampak ketika Azizah tidak dapat membantu anak Bu Darso yang sedang sakit, yang mengakibatkan anaknya meninggal, padahal Azizah sudah mendonorkan darahnya, tapi nyawa anak Bu Darso tidak dapat ditolong. Berikut kutipan yang dapat kita lihat pada novel karya Abu Umar Basyier ini.
“saat mendengar kabar itu, Azizah pun turut menangis. Itulah pertama kali aku melihatnya menangis. Biasanya tangis Azizah hanya terdengar disela-sela shalat malam yang dia lakukan.” (Abu Umar Basyier. Meniti di Atas Kabut. Hlm 159).
Latar suasana berikutnya adalah latar suasana mencekam, latar ini terjadi pada peristiwa saat Abbas tidak bisa pulang ke rumahnya di malam hari dari warung nenek tua dikarenakan dia ditinggalkan oleh teman-temannya, sehingga nenek tua melarangnya pulang dan menyuruhnya menginap di rumahnya. Berikut kutipan yang dapat kita lihat mengenai latar suasana yang ada pada novel “Meniti di Atas Kabut” karya Abu Umar Basyier tersebut.
“hari-hari ini kabarnya banyak penculikan. Konon, kepala anak-anak kecil dipenggal, dan dibuat campuran cor beton dan aspal untuk membangun jalan tol….” (Abu Umar Basyier. Meniti di Atas Kabut. Hlm 46).
Latar suasana berikutnya adalah latar suasana menakutkan, latar ini terjadi pada saat peristiwa seorang pemuda dikejar-kejar orang mabuk dan dipukul di depan rumah Abbas, dan pada saat itu Abbas masih kecil, Abbas hanya bisa melihat kejadian itu dari atas rumahnya tingkat dua bersama saudaranya. Berikut kutipan yang dapat kita lihat pada novel tersebut.
“kami ketakuta, aku sendiri bersama kakak lelaki dan kakak perempuanku, hanya berani melihat dari ruang depan, melalui jendela kaca besar di ruang tamu kami.” (Abu Umar Basyier. Meniti di Atas Kabut. Hlm 39).
Latar suasana berikutnya yang akan penulis tulis mengenai novel karya Abu Umar Basyier ini adalah latar suasana bahagia, latar suasana ini terjadi pada saat peristiwa Abbas dan Azizah melihat perubahan yang terjadi pada diri Sarah istrinya Doni pada saat mereka bertandang ke rumah Abbas. Abbas melihat Sarah sudah menggunakan cadar, berjilbab lebar, berkepribadian yang lain dari yang sebelumnya. Berikut kutipan yang penulis tuliskan mengenai suasana tersebut.
“hari ini, kedua wanita itu berpelukan dalam tangis bahagia. Keputusan Mbak Sarah untuk berjilbab secara sempurna berbuah manis. Kami menyambutnya dengan suka cita.” (Abu Umar Basyier. Meniti di Atas Kabut. Hlm 232).
Latar suasana berikutnya adalah latar suasana marah yang penuh emosi. Peristiwa ini pada saat Monah marah-marah dan mencaci maki Azizah disertai tangisan histerisnya karena suaminya telah meninggal yaitu Harun. Dia berpendapat bahwa penyebab kematian suaminya adalah dikarenakan Azizah, yang menyuruh Harun untuk menjemput Abbas hingga di pertengahan jalan Harun kecelakaan.
“ya, kamu yang mendesaknya. Kamu tahu, sudah jam berapa tadi malam? Jam Sembilan. Itu bukan waktunya lagi keluar rumah. Apa kamu gak bisa membiarkan si Abba situ menginap saja di Bogor sana? Kamu takut dia berselingkuh ya? Karena gak puas sama layanan kamu? Kamu korbankan Bang Harun hanya agar Abbasmu itu bisa pulang, dan mengelonimu di rumah….” (Abu Umar Basyier. Meniti di Atas Kabut. Hlm 219).
Latar suasana berikutnya adalah suasana kemiskinan di daerah pemukiman di tempat tinggal Abbas waktu kecil. Abbas tidak tega melihat temannya hidup miskin, sedangkan dirinya adalah anak orang kaya di daerah tersebut.  Berikut kutipan yang menyatakan hal tersebut.
“setiap hari, aku sering menonton anak-anak kecil tetanggaku, juga teman bermainku, makan di luar rumah pager mereka dengan piring kaleng berisi sedikit nasi yang kehitam-hitaman.” (Abu Umar Basyier. Meniti di Atas Kabut. Hlm 17.
Latar suasana selanjutnya adalah suasana kedisiplinan yang ada dalam keluarga Abbas pada saat Abbas masih kecil dan tinggal bersama orang tuanya. Berikut kutipannya yang dapat penulis tuliskan.
“setiap makan, aku tak boleh nambah. Itu aturan dalam rumah kami. Bukan karena kekurangan nasi, tapi ibu ingin aku melakukan segala sesuatu dengan penghitungan cermat.” (Abu Umar Basyier. Meniti di Atas Kabut. Hlm 18).
Latar suasana selanjutnya yang ada pada novel ini adalah latar suasana kepanikan.  Peristiwa ini terjadi pada saat seorang remaja yang yang masuk ke pekarangan rumah Abbas pada saat waktu kecil.
“seorang remaja dari kampung seberang –kampung M- dikejar-kejar serombongan orang mabuk, hingga meringkuk ke depan rumahku. Aku dan saudara-saudaraku panic, karena remaja itu masuk ke pekarangan kami yang luas.” (Abu Umar Basyier. Meniti di Atas Kabut. Hlm 38).
Latar suasana selanjutnya yang ada pada novel “Meniti di Atas Kabut”  karya Abu Umar Basyier ini adalah suasana kedamaian. Suasana ini terjadi pada saat peristiwa Abbas bertemu dengan ustadz Ferry dan mengajaknya menginap di rumahnya. Abbas belajar tentang gama kepada ustadz Ferry, banyak tentang agama yang dapat Abbas tanyaka kepada ustadz Ferry selama beberapa hari. Berikut kutipan yang dapat penulis tuliskan mengenai latar suasana tersebut.
“Alhamdulillah, minyak wanginya lah yang laku di rumahku. Karena selama 4 malam berlimpah di rumahku, aku mendapatkan siraman rohani yang begitu berlimpah, menerpa tubuhku tak ubahnya air terjun, namun mengalirkan kedamaian.” (Abu Umar Basyier. Meniti di Atas Kabut. Hlm 68).
Latar suasana berikutnya yang terakhir pada novel karya Abu Umar Basyier ini adalah latar suasana gembira atau senang. Latar ini terjadi pada saat Abbas belajar shalat tarawih bersama kawan-kawannya di kampung ‘M’. Abbas bisa mendengarkan ceramah dari ustadz-ustadz baru yang berceramah di sana. Berikut kutipan yang menjelaskan hal tersebut.
“aku senang dengan gaya ceramahnya yang rileks, kebapakan, namun tidak mengurai. Pesan-pesannya juga sederhana, namun sangat pas dengan suasana hati kami pada saat itu.” (Abu Umar Basyier. Meniti di Atas Kabut. Hlm 63).

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s