Analisis Struktur dan Fungsi Cerita Putri Kepala Babi Asal Kabupaten Sambas


Struktur Cerita Putri Kepala Babi Asal Kabupaten Sambas

Cerita fiksi berupa dongeng terdapat unsur-unsur pembangun teks seperti alur, penokohan, tokoh, dan latar. Unsur-unsur tersebut merupakan struktur yang dibentuk untuk keutuhan cerita. Keutuhan cerita ini berkaitan satu sama lain untuk menghasilkan cerita yang dapat dinilai baik atau buruk dan juga dapat mengarahkan kepada tema cerita tersebut. Begitu pula dengan cerita berbahasa Melayu Sambas Putri Kepala Babi yang penulis cerita mempunyai unsur-unsur teks yang dimaksud. Unsur-unsur teks akan dibahas secara berstruktur mulai dari pembahasan tokoh, alur, penokohan dan latar.

Tokoh

Tokoh merupakan salah satu  unsur penting pembangun cerita selain alur dan latar. Tokoh sangat memegang peranan penting di dalam sebuah dongeng.

Tokoh di dalam dongeng memiliki fungsinya masing-masing. Tokoh berdasarkan fungsinya dibagi menjadi yaitu tokoh utama dan tokoh bawahan. Dalam analisis unsur-unsur teks cerita Putri Kepala Babi, ditemukan tokoh utama dan tokoh bawahan. Menentukan tokoh di dalam novel langkah untuk menemukannya penulis melakukan analisis tokoh tersebut melalui ciri-ciri yang menggambarkan tokoh itu berperan di dalam cerita dengan melacak intensitas kemunculan tokoh tersebut. Penulis menentukan peranan tokoh berdasarkan peranannya masing-masing di dalam cerita Putri Kepala Babi.

Tokoh Utama

Tokoh utama ditentukan berdasarkan intensitasnya di dalam cerita tersebut dan lakuannya paling banyak dalam cerita tersebut. Hal ini terlihat pada tokoh Putri Kepala Babi bahwa dia adalah tokoh utama di dalam cerita Putri Kepala Babi.

Putri Kepala Babi

Putri Kepala Babi adalah putri yang dilahirkan seorang istri raja yang berbentuk kepala babi dan akhirnya kepala babi itu pecah mengeluarkan Putri Kepala Babi yang cantik sebagai istri Raja Tunggal.

Sampailah Tunggal ke rumah bibinya, lalu keluar bibinya dari rumahnya “ Oh rupanya kamu Tunggal, ayo masuk.” Kata bibinya. “ Iya bi, aku disuruh ibu menjenguk bibi. Kata ibu, dulu bibi dan ibu pernah berjanji untuk berbesan.” Kata Tunggal. “ Oh iya, tapi dia bukan seperti manusia, dia berbentuk kepala babi.”

Putri Kepala Babi mendapat halangan saat berada di kapal bersama Raja Tunggal, dia dibuang oleh monyet raksasa yang ingin mendapatkan Raja Tunggal sebagai suaminya.

Putri babi ditinggalkan di kapal, lalu datanglah monyet besar “ Wahai tuan putri, maukah kamu kita saling membersihkan badan  di laut?” Kata monyet besar itu, mereka pun sama-sama membersihkan badan, sehingga air laut pun menjadi keruh karena daki monyet besar itu. Ketika giliran tuan putri untuk digosok oleh monyet itu, tiba-tiba putri dibuang ke laut.

Namun pada akhirnya Putri Kepala Babi bertemu kembali dengan Raja Tunggal yang sudah menjadi suaminya setelah sekian lama dia berpisah karena ulah monyet raksasa.

Raja mengikuti anak itu pulang ke rumahnya, sesampai di rumah anak itu raja melihat ada putri babi di sana yang tidak lain adalah istri aslinya, dipeluk erat istrinya itu karena sudah terlalu lama tidak bersama.

Tokoh Bawahan

Di dalam cerita Putri Kepala Babi selain terdapat tokoh utama ada pula tokoh bawahan. Tokoh bawahan berfungsi sebagai pendukung keberadaan tokoh utama. Hal ini sangat penting karena tanpa tokoh bawahan maka cerita yang dibuat akan mempunyai kekurangan dan bagi pembaca hal ini berkaitan dengan isi cerita terdapat di dalam rekaan tersebut baik atau buruknya sangat ditentukan oleh penempatan fungsi tokoh di dalam cerita. Tokoh bawahan yang terdapat di dalam cerita Putri Kepala Babi adalah Raja Tunggal, Ibunda Raja Tunggal, Ibunda Putri Kepala Babi, Kebayan, anak Putri Kepala Babi, monyet raksasa, ibu monyet raksasa.

Raja Tunggal

Raja Tunggal merupakan saudara tiri Putri Kepala Babi dan juga sekaligus suami dari Putri Kepala Babi. Raja Tunggal sudah dari kecil dijodohkan dengan Putri Kepala Babi.

Kata ibu, dulu bibi dan ibu pernah berjanji untuk berbesan.” Kata Tunggal. “ Oh iya, tapi dia bukan seperti manusia, dia berbentuk kepala babi.” Kata bibinya. Tunggal pun merasa kecewa mendengar hal itu, namun tetap dibawanya kepala babi itu. Tunggal pun pulang setelah berpamitan dengan bibinya, di simpannya kepala babi itu di lambung kapal yang tak beratap, sehingga terkena hujan, ribut, dan panas kepala babi itu.

Ibunda Raja Tunggal

Ibunda Raja Tunggal yang ingin sekali menikahkan anaknya kelak dengan anak saudara perempuannya.

Dua orang raja memiliki istri yang bersaudara, saat itu istri mereka sedang hamil bersamaan. Ketika itu mereka berbincang sambil mencari kutu rambut. “ Dek, nanti kalau kita melahirkan kita berbesan ya?” Kata kakaknya, “Iya kak, “ Jawab adiknya.

Ibunda Putri Kepala Babi

Ibunda Putri Kepala Babi juga ingin menjodohkan anaknya dengan anak kakaknya.

Sampailah Tunggal ke rumah bibinya, lalu keluar bibinya dari rumahnya “ Oh rupanya kamu Tunggal, ayo masuk.” Kata bibinya. “ Iya bi, aku disuruh ibu menjenguk bibi. Kata ibu, dulu bibi dan ibu pernah berjanji untuk berbesan.” Kata Tunggal. “ Oh iya, tapi dia bukan seperti manusia, dia berbentuk kepala babi.” Kata bibinya.

Kebayan

Kebayan merupakan orang yang telah membantu Putri Kepala Babi lepas dari dalam perut ikan paus.

Ikan hiu itu pun terdampar di jembatan milik kebayan. Pagi itu Kebayan mendengar suara burung, didengarkannya bunyi suara burung itu rupanya burung itu menyampaikan pesan bahwa ada ikan hiu yang menelan putri terdampar di jembatan Kebayan, akan tetapi Kebayan harus menggunakan daun lalang untuk membelah perut ikan hiu itu agar putri babi tidak terluka.

Anak Putri Kepala Babi

Anak Putri Kepala Babi lahir di rumah Kebayan, dia tumbuh besar dengan ibunya saja, dia sudah bertahun-tahun berpisah dengan ayahnya hingga akhirnya dipertemukan.

Putri babi memberitahu anaknya agar anaknya dan anak raja itu dibuatkan ayunan untuk bermain sambil bernyanyi. “Bagaimana nyanyiannya Bu?” Kata anaknya. “ Pong ketipong mandi, mandi di balik batu. Ibuku putri babi, ayahku raja tunggal.” Lalu pergilah anaknya itu untuk bermain ti tempat raja dan dia dibuatkan ayunan di sana…..

Monyet Raksasa

Monyet Raksasa merupakan pemeran antagonis dicerita ini, karena gara-gara dia Putri Kepala Babi berpisah dengan suaminya dan dia berpura-pura menjadi Putri Kepala Babi.

Monyet itu pun berpura-pura menjadi putri babi lalu dia masuk ke dalam kapal, ketika dia ingin masuk ke kamar, badannya tidak muat dan terjepit di pintu. Raja Tunggal pun datang dari mengambil kayu dari daratan, ketika ditemuinya putri babi di dalam kapal dia terkejut….

Ibu Monyet Raksasa

Ibu monyet raksasa ini sangat murka saat tahu anaknya telah mati dibunuh oleh Raja Tunggal dan dia berniat untuk menyerang negeri raja.

“ Kita harus menyerang negeri raja kita jadikan luluh lantak,” Kata Ibu monyet itu.

Penokohan

Di dalam sebuah cerita dapat ditemukan pula mengenai penokohan. Penokohan ini sangat penting keberadaannya di dalam cerita, melalui penokohan maka kita dapat mengenal satu persatu tokoh yang berperan di dalam cerita tersebut.

Di dalam cerita Putri Kepala Babi ini penulis menemukan tokoh-tokoh yang berperan dalam cerita tersebut. Tokoh utamanya adalah Putri Kepala Babi, tokoh bawahan yang mendukung tokoh utama adalah Raja Tunggal, istri pertama raja, isti kedua raja, anak putri babi, kebayan, monyet besar, dan ibu monyet besar.

Penulis mendeskripsikan penokohan masing-masing perilaku tokoh-tokoh cerita dengan tujuan untuk dapat diketahui wataknya dan dampak bagi tokoh lain.

Putri Kepala Babi

Putri Kepala Babi di dalam cerita ini diceritakan sebagai tokoh protagonis yang memiliki wajah yang cantik, baik hati, dan penyabar. Hal ini terlihat pada kutipan cerita bereikut ini.

Tiba-tiba pecah kepala babi itu dan keluarlah seorang putri yang cantik, diambilnya putri itu sehingga lama kelamaan mereka pun menikah.

Raja Tunggal

Raja tunggal merupakan raja yang penyayang tapi tidak bijaksana, karena dalam hal ini dia bisa dibohongi oleh monyet besar yang mengaku sebagai Putri Kepala Babi, padahal rupanya saja tidak sama. Hal ini tampak pada kutipan dibawah ini.

Raja Tunggal masih tetap menikahi monyet itu karena janji ibunya, Raja Tunggal tidak tahu kalau yang sebenarnya itu bukanlah tuan puti. Sudah lama kejadian itu berlalu, monyet itu pun melahirkan anak laki-laki.


 

Ibunda Raja Tunggal

Ibunda Raja Tunggal merupakan wanita yang baik dan menepati janji, dia pernah berjanji dengan istri kedua raja untuk menjodohkan anaknya kelak jika sudah besar, hal ini tampak pada potongan cerita di bawah ini.

Istri raja menyuruh anaknya si Tunggal yang kini sudah menjadi raja untuk melihat keadaan bibinya, “ Tunggal, coba kamu kunjungi bibimu. Dulu kami pernah berjanji untuk berbesan, dia sudah melahirkan juga.

Ibunda Putri Kepala Babi

Ibunda Putri Kepala Babi merupakan orang yang memiliki sifat yang sama dengan ibu Raja Tunggal, dia memilki sifat tepat janji dan pengertian. Hal ini dapat dilihat pada potongan cerita berikut ini.

Sampailah Tunggal ke rumah bibinya, lalu keluar bibinya dari rumahnya “ Oh rupanya kamu Tunggal, ayo masuk.” Kata bibinya. “ Iya bi, aku disuruh ibu menjenguk bibi. Kata ibu, dulu bibi dan ibu pernah berjanji untuk berbesan.” Kata Tunggal. “ Oh iya, tapi dia bukan seperti manusia, dia berbentuk kepala babi.” Kata bibinya.

Kebayan

Kebayan merupakan orang yang baik hati, karena berkat bantuannya Putri Kepala Babi bisa keluar dari perut ikan paus, setelah itu dia merawat Putri Kepala Babi sampai dia benar-benar sembuh.

….Kebayan harus menggunakan daun lalang untuk membelah perut ikan hiu itu agar putri babi tidak terluka. Keluarlah putri babi dari perut ikan hiu itu dalam keadaan pingsan, Kebayan membawa putri itu pulang ke rumahnya dan diobatinya.

Anak Putri Kepala Babi

Anak Putri Kepala Babi terlahir di rumah Kebayan, dia suka bermain di istana raja dan tidak lain adalah istana ayahnya yang masih belum diketahuinya. Anak Putri Kepala babi memiliki sifat yang polos, sehingga waktu bernyanyi dia tidak ragu-ragu menyebutkan nama ibu dan ayahnya yang diajarkan oleh Putri Kepala Babi.

Putri babi memberitahu anaknya agar anaknya dan anak raja itu dibuatkan ayunan untuk bermain sambil bernyanyi. “Bagaimana nyanyiannya Bu?” Kata anaknya. “ Pong ketipong mandi, mandi di balik batu. Ibuku putri babi, ayahku raja tunggal.”

Monyet Raksasa

Monyet raksasa di sini adalah pemeran antagonis, dia memiliki sifat yang buruk sekali. Dia berani membuang Putri Kepala Babi ke sungai hanya untuk merebut Raja Tunggal.

Ketika giliran tuan putri untuk digosok oleh monyet itu, tiba-tiba putri dibuang ke laut. Monyet itu pun berpura-pura menjadi putri babi lalu dia masuk ke dalam kapal, ketika dia ingin masuk ke kamar, badannya tidak muat dan terjepit di pintu.

Ibu Monyet Raksasa

Ibu monyet raksasa merupakan tokoh yang pemarah dan bodoh karena saat mendengar berita tentang anaknya dia marah sampai-sampai perahunya dirusakkan dan masih tetap memakai perahu yang rusak itu saat ingin menyerang negeri raja hingga akhirnya dia tenggelam di sungai. Hal ini tampak pada potongan cerita berikut ini.

“ Kita harus menyerang negeri raja kita jadikan luluh lantak,” Kata Ibu monyet itu. Lalu berangkatlah kedua monyet itu dengan perahu yang bocor, mereka berangkat dengan lesung sebagai tiang layar dan nyiru jadi layarnya.

 

Setting atau Latar

Di dalam sebuah novel unsur-unsur teks selain terdapat tokoh dan penokohan, terdapat pula latar. Latar pada umumnya biasa dikenal dengan tempat berlangsungnya yang ada di dalam cerita. Latar merupakan salah satu unsur yang terpenting di dalam cerita dan kehadirannya diperlukan untuk keutuhan sebuah cerita. Latar pada cerita ini dibagi menjadi dua, yaitu latar tempat dan latar suasana.

Latar Tempat

Latar tempat ini mengarah pada lokasi terjadinya peristiwa yang diceritakan pada sebuah karya fiksi. unsur tempat yang digunakan munkin berupa tempat-tempat dengan nama tertentu, inisial tertentu, mungkin lokasi tertentu tanpa nama jelas. Latar tempat yang ada pada dongeng Putri Kepala Babi diantaranya adalah.

Rumah Ibunda Putri Kepala Babi

Sampailah Tunggal ke rumah bibinya, lalu keluar bibinya dari rumahnya “ Oh rupanya kamu Tunggal, ayo masuk.” Kata bibinya. “ Iya bi, aku disuruh ibu menjenguk bibi.

Jelas tampak pada kutipan cerita di atas bahwa latar tempat yang terjadi pada cerita tersebut berada di rumah istri kedua raja yang tidak lain adalah saudara ibunya Tunggal.

Kapal

Latar tempat selajutnya yang ada pada dongeng Putri Kepala Babi ini adalah di atas kapal. Raja Tunggal berhari-hari berlayar membawa kepala babi pulang ke negerinya akhirnya kehabisan perbekalan di perjalanannya hingga akhirnya mereka memutuskan untuk mencari perbekalan di pulau. Latar tempat pada dongeng ini tampak pada kutipan cerita di bawah ini.

Sudah lama mereka berada di kapal, akhirnya putri itu pun hamil. Kapal Tunggal kehabisan air, kayu bakar, dan makanan sehingga mereka harus mendarat di daratan.

Jembatan Kebayan

Putri Kepala Babi yang jatuh ke laut ditelan ikan hiu, namun Tuhan berkehendak lain, akhirnya ikan hiu itu terdampar di jembatan Kebayan, mendengar kabar dari burung, akhirnya Kebayan dengan segera mengeluarkan Putri Kepala Babi dari perut ikan hiu. Latar tempat pada dongen ini terlihat pada kutipan cerita di bawah ini.

Ikan hiu itu pun terdampar di jembatan milik kebayan. Pagi itu Kebayan mendengar suara burung, didengarkannya bunyi suara burung itu rupanya burung itu menyampaikan pesan bahwa ada ikan hiu yang menelan putri terdampar di jembatan Kebayan, akan tetapi Kebayan harus menggunakan daun lalang untuk membelah perut ikan hiu itu agar putri babi tidak terluka.

Rumah Kebayan

Latar tempat selanjutnya yang ada pada dongeng Putri Kepala Babi adalah rumah Kebayan. Setelah Kebayan mengeluarkan Putri Kepala Babi dari perut ikan hiu itu, Kebayan akhirnya membawa Putri Kepala Babi ke rumahnya untuk dirawat hingga putri benar-benar pulih. Setelah pulih pun Putri Kepala Babi menetap di rumah Keabayan hingga dia melahirkan. Latar tempat tersebut dapat kita lihat pada kutipan dongeng di bawah ini.

Keluarlah putri babi dari perut ikan hiu itu dalam keadaan pingsan, Kebayan membawa putri itu pulang ke rumahnya dan diobatinya. Putri babi pun menceritakan kejadian yang sebenarnya dan menceritakan kepada Kebayan bahwa dia adalah putri babi dari negeri seberang.

Istana Raja

Setelah anak Putri Kepala Babi tumbuh besar kira-kira berumur enam tahun, anaknya sering pergi ke istana raja untuk bermain dengan anak raja yang tidak lain adalah anak hasil raja dan monyet besar yang menyamar menjadi Putri Kepala Babi. Latar tempat yang tampak pada cerita tersebut tampak pada potongan cerita tersebut di bawah ini.

Lalu pergilah anaknya itu untuk bermain di istana raja dan dia dibuatkan ayunan di sana, anak putri babi dan anak monyet yang pura-pura menjadi putri babi itu pun bernyanyi. . .

Rumah Orang Tua Monyet Raksasa

Setelah raja tahu bahwa istrinya yang sebenar bukanlah yang dinikahinya selama beberapa tahun itu, maka dia langsung mencari rumah istrinya dan menghukum monyet raksasa itu dengan memotong anggota tubuhnya dan dikirimkan ke orang tuanya. Pada latar tempat cerita ini terjadi di rumah orang tua monyet raksasa saat hulubalang datang membawa kiriman dari raja, berikut kutipan cerita tersebut.

Sesampai hulubalang itu ke rumah orangtua monyet itu, hulubalang memberitahu bahwa anaknya sudah menjadi raja di negeri sana, dia sudah memerintah orang untuk mengerjakan semua hal.

Di Laut

Latar tempat yang terakhir pada cerita Putri Kepala Babi ini adalah di laut, latar ini tampak pada saat orang tua monyet besar ingin menyerang negeri raja dan berangkat menggunakan jalur air, ketika di dalam perjalanan mereka membawa kumbang dan burung pelatuk yang semuanya adalah pemakan kayu hingga akhirnya perahu mereka bocor dan tenggelam di laut. Latar temapt pada cerita ini tampak pada kutipan di bawah ini.

Lama-kelamaan kapal mereka pun tenggelam di laut karena banyak air yang sudah masuk ke dalam perahu, kumbang dan burung pelatuk pun terbang meninggalkan monyet itu.

Latar Sosial

Latar sosial menyaran pada hal-hal yang berhubungan dengan perilaku kehidupan sosial masyarakat di suatu tempat yang diceritakan ke dalam karya fiksi. Tata cara kehidupan sosial masyarakat mencakup berbagai hal masalah dalam lingkup yang cukup kompleks. Ia dapat berupa kebiasaan hidup, adat istiadat, tradisi, keyakinan, pandangan hidup, dan cara berpikir dan bersikap, dan yang berhubungan dengan status sosial tokoh yang bersangkutan. Latar sosial yang tampak pada cerita Putri Kepala Babi ini diantaranya adalah.

Latar Istana sentris

Latar sosial yang teridentifikasi nampak latar istana sentris. Terutama tampak pada awal cerita diceritakan bahwa dua orang wanita bersaudara yang merupakan masing-masing beristrikan raja sedang membuang kutu dan berbicara mengenai rencana mereka yang ingin berbesan.

Dua orang raja memiliki istri yang bersaudara, saat itu istri mereka sedang hamil bersamaan. Ketika itu mereka berbincang sambil mencari kutu rambut. “ Dek, nanti kalau kita melahirkan kita berbesan ya?” Kata kakaknya, “Iya kak, “ Jawab adiknya. Setelah kejadian itu, beberapa waktu telah berselang lama, mereka melahirkan bersamaan.

Kutipan di atas menunjukkan gambaran bahwa latar yang terdapat di dalam cerita Putri Kepala Babi itu mengindikasikan sebuah lingkungan kehidupan istana yang mana terdapat raja dan istri yang tinggal di dalamnya. Kita ketahui bahwa kehidupan istana hanyalah didiami oleh raja, permaisuri, pangeran, putri, dan anggota keluarga raja yang rajin.

Latar Waktu

Latar waktu berhubungan dengan masalah “kapan” terjadinya peristiwa-peristiwa yang diceritakan dalam sebuah karangan karya fiksi. Masalah “kapan” tersebut biasanya dihubungkan dengan waktu faktual, waktu yang ada kaitannya atau dapat dikaitkan dengan peristiwa sejarah. Latar waktu yang ada pada cerita Putri Kepala Babi ini terdapat satu latar, berikut latar waktu yang ada di dalam cerita tersebut.

Latar Pagi

Latar pagi hari yang ada pada cerita Putri Kepala Babi hanya terjadi pada saat Kebayan keluar dari rumahnya dan mendengar suara burung yang mengatakan bahwa ada seorang manusia di jembatan dia. Latar ini dapat dilihat pada kutipan cerita berikut ini.

Pagi itu Kebayan mendengar suara burung, didengarkannya bunyi suara burung itu rupanya burung itu menyampaikan pesan bahwa ada ikan hiu yang menelan putri terdampar di jembatan Kebayan, akan tetapi Kebayan harus menggunakan daun lalang untuk membelah perut ikan hiu itu agar putri babi tidak terluka.

Alur

Di dalam sebuah cerita alur merupakan bagian terpenting, tentu saja di dalam cerita terdapat peristiwa yang sangat berperan dalam keutuhan cerita itu sendiri. Dalam menganalisis alur di dalam cerita Putri Kepala Babi, penulis mengurutkan rangkaian peristiwa-peristiwa di dalam cerita tersebut berdasarkan tuntutan peristiwa yang mengandung sebab dan akibat untuk menentukan jalan cerita dari cerita Putri Kepala Babi.

Bagian Awal

Bagian awal dari sebuah alur biasanya merupakan bagian pengenalan cerita. Biasanya berisikan mengenai pengenalan watak tokoh dan setting cerita yang bersifat Eksposisi dan element instabilitas (Sayuti, 2009:7.8). Seperti halnya potongan cerita di bawah ini:

Dua orang raja memiliki istri yang bersaudara, saat itu istri mereka sedang hamil bersamaan. Ketika itu mereka berbincang sambil mencari kutu rambut. “ Dek, nanti kalau kita melahirkan kita berbesan ya?” Kata kakaknya, “Iya kak, “ Jawab adiknya.

Dari kutipan cerita di atas sangat jelas sekali bahwa pengarang membuka cerita dengan terlebih dahulu memaparkan keadaan yang ada pada cerita tersebut. Pengarang memberikan informasi kepada pembaca bahwasannya seperti itulah keadaan keadaan sebelum Raja Tunggal dan Putri Kepala Babi lahir dan dinikahkan. Karena pembuka cerita tersebut hanya bersifat memaparkan sesuatu yang pasti, tentunya tidak memiliki kemungkinan-kemungkinan lain yang akan terjadi.

Bagian Tengah

Tengah cerita berisikan konflik di dalamnya. Dari penyebab konflik sampai puncak dari konflik tersebut. Akan tetapi, penyebab konflik juga terkadang ditempatkan diawal cerita bagian akhir. Hal tersebut digunakan untuk memberi kesan keterikatan antara awal cerita dengan bagian tengahnya, sehingga tidak menimbulkan kesan yang tidak nyambung. Berikut adalah  kutipan cerita yang merupakan  isi pada cerita bagian tengahnya:

Sampailah Tunggal ke rumah bibinya, lalu keluar bibinya dari rumahnya “ Oh rupanya kamu Tunggal, ayo masuk.” Kata bibinya. “ Iya bi, aku disuruh ibu menjenguk bibi. Kata ibu, dulu bibi dan ibu pernah berjanji untuk berbesan.” Kata Tunggal. “ Oh iya, tapi dia bukan seperti manusia, dia berbentuk kepala babi.” Kata bibinya.

Dari kutipan di atas telah dimulai konflik awal yang menceritakan bahwa istri yang kelak menjadi milik Raja Tunggal terlahir dengan tidak normal. Namun konflik terus terjadi pada bagian tengah cerita ketika seorang putri keluar dari dalam kepala babi itu dan hingga akhirnya ada seekor monyet raksasa yang dengki dan membuang dia ke laut dan menyamar menjadi Putri Kepala Babi.

Ketika giliran tuan putri untuk digosok oleh monyet itu, tiba-tiba putri dibuang ke laut. Monyet itu pun berpura-pura menjadi putri babi lalu dia masuk ke dalam kapal, ketika dia ingin masuk ke kamar, badannya tidak muat dan terjepit di pintu.

Bagian Akhir

Akhir cerita merupakan bagian penyelesaian semua konflik yang ada di dalam karya fiksi. Pada bagian akhir pula biasanya dapat disimpulkan sebuah karya fiksi tersebut merupakan karya yang bersifat happy ending atau tidak. Selain itu, pada akhir juga biasanya pengarang memberikan penggambaran kembali mengenai settingnya, yang tentunya telah mengalami perubahan akibat konflik yang ada. Atau terkadang berisi kesimpulan mengenai tema yang diceritakan. Bagian akhir ini yang sangat menarik, karena pada bagian akhir ini terdapat beberapa kejutan. Kejutan ini terletak pada kejutan permasalahannya, kadang berisi penyelesaian yang menyedihkan atau juga menyenangkan. Data berikut menggambarkan hal tentang akhir cerita dari beberapa konflik yang sudah terjadi.

Raja mengikuti anak itu pulang ke rumahnya, sesampai di rumah anak itu raja melihat ada putri babi di sana yang tidak lain adalah istri aslinya, dipeluk erat istrinya itu karena sudah terlalu lama tidak bersama.

Pada tahap akhir cerita ini Raja Tunggal dipertemukan kembali dengan istri aslinya yang telah bertahun-tahun lamanya dipisahkan oleh monyet raksasa. Kemudian pada akhir cerita digambarkan pula dari akibat konflik terjadi yang tampak pada kutipan cerita berikut ini.

Lalu kumbang itu menumpang di perahu ibu monyet sambil melubangi perahunya. Lama-kelamaan kapal mereka pun tenggelam di laut karena banyak air yang sudah masuk ke dalam perahu, kumbang dan burung pelatuk pun terbang meninggalkan monyet itu.

Akibat dari perbuatannya itu akhinya monyet-monyet raksasa itu mendapatkan balasan dari kejahatan dan kebodohan mereka, akhirnya mereka mati tenggelam di laut.

Fungsi Cerita Putri Kepala Babi Asal Kabupaten Sambas

Berbagai bentuk sastra daerah memiliki fungsinya tersendiri berdasarkan isi dalam karya sastra itu sendiri. Beberapa fungsi yang terdapat dalam cerita Putri Kepala Babi diantaranya adalah fungsi sebagai alat penghibur atau fungsi rekreatif, fungsi sebagai alat proyeksi, dan yang terakhir fungsi sebagai alat pendidikan atau fungsi didaktif. Berikut ini akan dijelaskan fungsi yang ada dalam cerita Putri Kepala Babi tersebut.

Alat Hiburan

Bagi seorang pengarang (karya seni atau sastra), kegiatan mengarang dapat menjadi sarana hiburan atau membebaskan diri dari tekanan emosi. Ribot (dalam Wellek dan Warren, 1995:96), seorang psikolog Perancis, menyebut pengarang demikian sebagai sastrawan atau seniman diffluent, yaitu memulai imajinasinya dari emosi atau perasaan, lalu menuangkannya melalui irama dan pencitraan yang didorong oleh stimmung dalam dirinya. Demikian pula bagi seorang yang menikmati karya seni atau sastra akan mengurangi bahkan melegakan emosi atau perasaan yang tertekan. Satu di antara ciri sastra hiburan menurut Darma (dalam Azis, 2008) adalah tokoh-tokoh yang tampan, kaya, dicintai dan dikagumi, serta sanggup mengatasi segala macam masalah dengan mudah.

Dalam folklor Putri Kepala Babi ini terdapat berbagai watak yang diperankan tokoh cerita. Ada watak antagonis dan protagonis. Kalimat-kalimat dalam cerita membuat pendengar/pembaca berimajinasi tentang bagaimana keadaan fisik tokoh, yakni betapa cantiknya sang Putri Kepala Babi. Keadaan ini berbanding terbalik dengan rupa sang Monyet yang jelek, sehingga menyebabkan rasa iri sang Monyet pada sang Putri. Hal ini menimbulkan konflik dalam cerita. Perasaan, emosi, dan pikiran pembaca/pendengar seperti kembali dilibatkan melalui konflik tersebut. Perhatikan kutipan cerita di bawah ini.

Tiba-tiba pecah kepala babi itu dan keluarlah seorang putri yang cantik, diambilnya putri itu sehingga lama kelamaan mereka pun menikah.

Pada kutipan di atas menceritakan bahwa kepala babi yang tadinya dibiarkan saja di lambung kapal, karena terkena hujan dan panas tiba-tiba pecah dan mengeluarkan seorang putri yang sangat cantik. Pada cerita ini imajinasi pembaca menjadi terbawa ke wajah Putri Kepala Babi yang cantik layaknya seorang bidadari yang membuat pembaca menjadi terhibur.

Dari beberapa hal di atas telah tampak bahwa folklor Putri Kepala Babi memiliki fungsi sebagai sarana hiburan. Emosi pendengar/pembaca bisa ikut tereksplorasi melalui cerita ini.

Alat Proyeksi

Proyeksi bisa diartikan sebagai gambaran. Sebuah karya seni dan sastra dapat memproyeksikan kehidupan seseorang atau masyarakat agar seseorang dapat menyadari apa yang bisa terjadi dalam kehidupan seseorang atau masyarakat sesungguhnya. Folklor sebagai satu di antara karya sastra menggambarkan kehidupan atau keadaan seseorang.

Kehidupan Raja Tunggal menggambarkan bagaimana nasib seorang anak raja. Semenjak masih dalam kandungan ia sudah dijodohkan. Setelah lahir dan tumbuh besar ia harus menerima dan tetap melaksanakan perjodohan itu meskipun jodohnya kelak berbentuk kepala babi.  Hal ini menggambarkan bahwa pilihan pendamping hidup seorang anak raja itu tidak bisa ditentukan oleh dirinya sendiri. Perhatikan kutipan cerita di bawah ini.

Ketika itu mereka berbincang sambil mencari kutu rambut. “ Dek, nanti kalau kita melahirkan kita berbesan ya?” Kata kakaknya, “Iya kak, “ Jawab adiknya. Setelah kejadian itu, beberapa waktu telah berselang lama, mereka melahirkan bersamaan.

Melihat dari kutipan cerita di atas, telah menggambarkan bahwa kehidupan di istana zaman dahulu kala, telah ada perjodohan anak bagi mereka meskipun belum tentu anaknya kelak akan setuju, peristiwa tersebut juga terjadi pada zaman sekarang bahwa masih ada orang yang masih menggunakan paham menjodohkan anaknya sejak kecil atau belum lahir lagi.

Alat Pendidikan

Folklor mengandung nilai-nilai luhur yang berkaitan dengan adat istiadat dalam agama tertentu. Nilai-nilai yang terkandung dalam folklor tersebut yang kemudian menjadi sebagai alat pendidik masyarakat. Hal ini sejalan dengan pendapat para sosiolog, seperti Bronislaw Malinowski (Hutomo dalam Mariana dalam Azis, 2008) yang menyatakan bahwa karya seni atau sastra berfungsi pula untuk mendidik anak. Artinya, dengan belajar melalui kerya seni dan sastra, seperti dongeng dan drama lisan, anak dapat belajar etika, moral, dan agama tanpa merasa dicekoki dengan pelajaran-pelajaran yang abstrak; tetapi ada gambaran yang nyata pada tokoh-tokoh atau pelaku cerita termasuk perilaku-perilakunya, baik yang baik maupun yang buruk.

Folklor Putri Kepala Babi mengandung banyak pesan moral dan pelajaran berharga yang dapat diambil. Pelajaran-pelajaran tersebut dapat diuraikan berikut ini.

a)      Melalui sikap sang Raja Tunggal yang menerima perjodohannya tercermin sikap ikhlas dan patuh pada orang tua. Keikhlasan dan kepatuhan tersebut akhirnya berbuah manis. Raja mendapatkan istri yang cantik jelita, anak yang tampan, dan hidup bahagia. Dari sini masyarakat, khususnya anak, dapat belajar sikap-sikap terpuji tersebut. Hal ini tercermin pada kutipan cerita yang ada di bawah ini.

Istri raja menyuruh anaknya si Tunggal yang kini sudah menjadi raja untuk melihat keadaan bibinya, “ Tunggal, coba kamu kunjungi bibimu. Dulu kami pernah berjanji untuk berbesan, dia sudah melahirkan juga. Apakah laki-laki atau perempuan anaknya, kalau sudah selesai kamu ajak anaknya diam di sini.” Tempat mereka berjauhan, setelah ibunya menyuruh Tunggal tadi, Tunggal pun pergi berlayar dengan anak buahnya, pengikutnya yang ikut sangat ramai sehingga memenuhi kapal.

b)      Melalui sikap sang Putri Kepala Babi yang sabar menjalani hidup setelah dicelakai oleh sang Monyet tercermin sikap sabar. Meskipun ia harus ditelan ikan, mengandung sampai melahirkan anak, dan hidup terpisah dari suaminya karena kejahatan sang Monyet, sang Putri tetap sabar menjalani dan merawat anaknya. Kesabaran sang Putri membawanya kembali bertemu suaminya dan hidup bahagia.

Raja mengikuti anak itu pulang ke rumahnya, sesampai di rumah anak itu raja melihat ada putri babi di sana yang tidak lain adalah istri aslinya, dipeluk erat istrinya itu karena sudah terlalu lama tidak bersama.

c)      Melalui sikap iri yang dimiliki sang Monyet dapat diambil pelajaran yang sangat berharga. Karena rasa iri yang begitu besar pada Putri Kepala Babi membuat sang Monyet tega mencelakai sang Putri dan menipu sang Raja dengan menyamar sebagai Putri Kepala Babi. Akan tetapi, penyamarannya tidak bertahan lama dan menyebabkan kematian dirinya sendiri, bahkan keluarganya pun ikut celaka. Sikap seperti ini sangat tidak patut untuk dicontoh.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s