Cerita Sambas (Putri Kepala Babi)


Putri Kepala Babi

(Cerita Asal Kabupaten Sambas)

Dua orang raja memiliki istri yang bersaudara, saat itu istri mereka sedang hamil bersamaan. Ketika itu mereka berbincang sambil mencari kutu rambut. “ Dek, nanti kalau kita melahirkan kita berbesan ya?” Kata kakaknya, “Iya kak, “ Jawab adiknya. Setelah kejadian itu, beberapa waktu telah berselang lama, mereka melahirkan bersamaan. Kakaknya melahirkan anak laki-laki bernama Raja Tunggal, sedangkan adiknya melahirkan di tempat yang lain dan melahirkan kepala babi, bukan manusia. Istri raja menyuruh anaknya si Tunggal yang kini sudah menjadi raja untuk melihat keadaan bibinya, “ Tunggal, coba kamu kunjungi bibimu. Dulu kami pernah berjanji untuk berbesan, dia sudah melahirkan juga. Apakah laki-laki atau perempuan anaknya, kalau sudah selesai kamu ajak anaknya diam di sini.” Tempat mereka berjauhan, setelah ibunya menyuruh Tunggal tadi, Tunggal pun pergi berlayar dengan anak buahnya, pengikutnya yang ikut sangat ramai sehingga memenuhi kapal.

Sampailah Tunggal ke rumah bibinya, lalu keluar bibinya dari rumahnya “ Oh rupanya kamu Tunggal, ayo masuk.” Kata bibinya. “ Iya bi, aku disuruh ibu menjenguk bibi. Kata ibu, dulu bibi dan ibu pernah berjanji untuk berbesan.” Kata Tunggal. “ Oh iya, tapi dia bukan seperti manusia, dia berbentuk kepala babi.” Kata bibinya. Tunggal pun merasa kecewa mendengar hal itu, namun tetap dibawanya kepala babi itu. Tunggal pun pulang setelah berpamitan dengan bibinya, di simpannya kepala babi itu di lambung kapal yang tak beratap, sehingga terkena hujan, ribut, dan panas kepala babi itu. Tiba-tiba pecah kepala babi itu dan keluarlah seorang putri yang cantik, diambilnya putri itu sehingga lama kelamaan mereka pun menikah. Sudah lama mereka berada di kapal, akhirnya putri itu pun hamil. Kapal Tunggal kehabisan air, kayu bakar, dan makanan sehingga mereka harus mendarat di daratan.

Putri babi ditinggalkan di kapal, lalu datanglah monyet besar “ Wahai tuan putri, maukah kamu kita saling membersihkan badan  di laut?” Kata monyet besar itu, mereka pun sama-sama membersihkan badan, sehingga air laut pun menjadi keruh karena daki monyet besar itu. Ketika giliran tuan putri untuk digosok oleh monyet itu, tiba-tiba putri dibuang ke laut. Monyet itu pun berpura-pura menjadi putri babi lalu dia masuk ke dalam kapal, ketika dia ingin masuk ke kamar, badannya tidak muat dan terjepit di pintu. Raja Tunggal pun datang dari mengambil kayu dari daratan, ketika ditemuinya putri babi di dalam kapal dia terkejut “ Hah? kenapa tuan putri menjadi seperti ini,” kata Raja Tunggal. “itulah, gara-gara Raja tinggalkan saya di kapal, tubuh yang kecil jadi besar, hidung yang mancung pun menjadi besar.” Ungkap monyet besar itu.

Monyet itu pun dibawanya ke negeri raja, sesampai di sana Tunggal  pun menceritakan kejadian itu kepada ibunya bahwa asal mula kejadian itu putri adalah kepala babi lalu keluar dari kepala babi itu seorang putri yang cantik, ketika ditinggalkannya ke daratan, putri berubah menjadi seperti itu. Raja Tunggal masih tetap menikahi monyet itu karena janji ibunya, Raja Tunggal tidak tahu kalau yang sebenarnya itu bukanlah tuan puti. Sudah lama kejadian itu berlalu, monyet itu pun melahirkan anak laki-laki. Tuan putri yang jatuh ke laut ditelan ikan hiu. Ikan hiu itu pun terdampar di jembatan milik kebayan. Pagi itu Kebayan mendengar suara burung, didengarkannya bunyi suara burung itu rupanya burung itu menyampaikan pesan bahwa ada ikan hiu yang menelan putri terdampar di jembatan Kebayan, akan tetapi Kebayan harus menggunakan daun lalang untuk membelah perut ikan hiu itu agar putri babi tidak terluka. Keluarlah putri babi dari perut ikan hiu itu dalam keadaan pingsan, Kebayan membawa putri itu pulang ke rumahnya dan diobatinya. Putri babi pun menceritakan kejadian yang sebenarnya dan menceritakan kepada Kebayan bahwa dia adalah putri babi dari negeri seberang.

Lama-kelamaan putri babi pun sudah melahirkan anaknya, anaknya pun sudah tumbuh besar kira-kira seumuran dengan anak-anak yang sudah bisa bermain sendiri. Anaknya itu pun pergi ke istana raja, karena raja punya anak laki-laki. Anak monyet yang pura-pura menjadi putri babi itu bermain dengan anak putri babi. Putri babi memberitahu anaknya agar anaknya dan anak raja itu dibuatkan ayunan untuk bermain sambil bernyanyi. “Bagaimana nyanyiannya Bu?” Kata anaknya. “ Pong ketipong mandi, mandi di balik batu. Ibuku putri babi, ayahku raja tunggal.” Lalu pergilah anaknya itu untuk bermain di istana raja dan dia dibuatkan ayunan di sana, anak putri babi dan anak monyet yang pura-pura menjadi putri babi itu pun bernyanyi, saat itu Raja dan istrinya berada di atas rumah memperhatikan anaknya bermain “Pong ketipong mandi, mandi di balik batu. Ibuku putri babi, ayahku raja tunggal.” Kemudian giliran anak anak monyet itu bernyanyi “Pong ketipong mandi, mandi di balik batu. Ibuku putri monyet, ayahku raja tunggal.” Ketika mendengarkan nyanyian itu, istri raja pun marah kepada anak putri babi. Raja pun menjadi tahu kalau anak kecil itu adalah anaknya yang asli.

Raja mengikuti anak itu pulang ke rumahnya, sesampai di rumah anak itu raja melihat ada putri babi di sana yang tidak lain adalah istri aslinya, dipeluk erat istrinya itu karena sudah terlalu lama tidak bersama. Raja pun berpesan kalau dia sedang demam dan minta dijemput, pesan itu pun dia sampaikan lewat hulubalang. Setelah mendengar pesan itu, monyet besar itu pun langsung berangkat ke tempat Raja, sesampai di sana betapa terkejutnya monyet itu melihat Raja dengan putri babi yang asli, tapi putri babi lebih sakit hati lagi dengan perilaku monyet itu selama ini. Putri babi pun mengambil tangan monyet itu yang sudah memegang tangan suaminya dan memotongnya dengan pisau, bukan hanya tangan tapi seluruh anggota tubuh monyet itu dipotongnya dan dimasukkan ke dalam tempayan. Raja menyuruh hulubalang untuk mengantarkannya kepada orangtua monyet itu. Sesampai hulubalang itu ke rumah orangtua monyet itu, hulubalang memberitahu bahwa anaknya sudah menjadi raja di negeri sana, dia sudah memerintah orang untuk mengerjakan semua hal.

Ketika mendengar itu, ibunya monyet itu sedang membuat perahu hingga bocor perahu itu ketika dia mendengar berita itu. “ Mak, aku mau makan,” Kata anak monyet itu. “Ambil lauk yang dikirimkan kakakmu itu di dalam tempayan,” Kata Ibunya. “ Mak, kenapa seperti tangan kakak?” Kata anaknya. “ Heh! Kakakmu sudah jadi raja, pukul orang seenaknya untuk diperintah,” Kata Ibu monyet itu sambil memukul anaknya hingga mati. Lalu suami dari monyet itu melihat isi tempayan itu dan ada kepala anaknya di dala tempayan itu. “ Kita harus menyerang negeri raja kita jadikan luluh lantak,” Kata Ibu monyet itu. Lalu berangkatlah kedua monyet itu dengan perahu yang bocor, mereka berangkat dengan lesung sebagai tiang layar dan nyiru jadi layarnya. Berputar perahu mereka karena ditiup angin kencang. Bertanya burung pelatuk “ Mau kemana nek?” “Mau menyerbu negeri raja, mau jadikannya luluh lantak.” Jawab ibu monyet itu. “ Aku ikut ya nek?” Kata burung tekukur. “Iya, dari tadinya berdua menjadi bertiga,” Kata ibu monyet itu. Burung itu pun naik ke perahu dan berada di tiang layar, sambil mematuk tiang. Kemudian datang seekor kumbang dan bertanya “ Mau kemana nek?” “Mau ke negeri raja, mau menjadikannya luluh lantak,” Kata ibu monyet. “Bolehkah aku ikut nek?” Kata kumbang, “Boleh, tadinya bertiga menjadi berempat,” Kata ibu monyet. Lalu kumbang itu menumpang di perahu ibu monyet sambil melubangi perahunya. Lama-kelamaan kapal mereka pun tenggelam di laut karena banyak air yang sudah masuk ke dalam perahu, kumbang dan burung pelatuk pun terbang meninggalkan monyet itu.

2 thoughts on “Cerita Sambas (Putri Kepala Babi)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s