Keutuhan Wacana


KEUTUHAN WACANA

Wacana yang tersusun baik atau wacana yang semrawut akan kita ketahui waktu membacanya. Kita paham wacana yang baik dan mana pula yang tidak baik, seperti kita ketahui mana kalimat yang baik dan gramatikal dan mana pula yang tidak.

Koherensi adalah kekompakan hubungan antar kalimat yang terdapat pada wacana itu. waktu membaca kita merasakan bahwa sebuah kalimat berhubungan dengan kalimat sebelumnya dan demikian seterusnya samapai akhir kalimat.

Lihatlah contoh wacana yang baik itu:

Ada dua macam cara belajar membaca secara skimming itu. pertama kita dengan cepat menangkap kenyataan atau ide yang didapati dalam bacaan itu. kedua menangkap kesan kasar dari bacaan itu. kedua cara ini sanggat penting untuk membaca dengan baik, karena mungkin kita tidak punya waktu banyak, sehingga harus cepat menagkap ide apa yang kita bacakan dengan cepat.

Semua kalimat terjalin satu dengan lain dengan baik. Tapi coba perhatikan wacana ini.

Bahasa Melayu diakui jadi bahasa Kebangsaan pada tahun 1928 dan terus diganti namanya jdai bahasa Indonesia. Bahasa-bahasa daerah di Indonesia banyak seperti bahasa Jawa, Sunda, Aceh, Batak dan lain-lain. Ada bahasa ini mempunyai banyak pendukungnya seperti bahasa Jawa tapi ada juga yang sedikit sekali seperti bahasa-bahasa di Irian. Bahasa-bahasa di Indonesia termasuk bahasa aglutinasi.

Wacana ini tidak berhubungan satu dengan yang lain. Masing-masing kalimat berdiri sendiri. Kepaduan atau koherensi kalimat-kalimat tidak ada.

Aspek yang menjadikan sebuah wacana itu utuh ada bermacam-macam. Aspek semantis, leksikal, gramatikal, dan fonologi dan fonologi menjadi penentu utuh tidaknya sebuah wacana. Disini akan kita bicarakan aspek-aspek itu secara semantis saja.

Aspek Semantis

Hubungan-hubungan semantis antara kalimat-kalimat yang menyebabkan wacana itu memang banyak. Di antaranya ialah:

  1. Sebab-akibat
  2. Perbandingan
  3. Perafrastis
  4. Amplifikasi
  5. Aditif
  6. Identifikasi
  7. Generik- Spesifik
  8. Penunjukan (referensi)

Hubungan-hubungan antara kalimat-kalimat itu terjadi baik sebagai sebab pada kalimat pertama dan akibatnya pada kalimat kedua. Bisa juga dengan perbandingan pada kalimat pertama dan kedua. Ketiga dengan jalan parafrastis atau penjelasan pada kalimat kedua dan seterusnya. Yang dimaksud dengan amplifikasi ialah dengan cara pengamatan pada kalimat kedua dan seterusnya (ketiga, keemapat). Aditif adalah dengan penambahan berita pada kalimat pertama. Identifikasi adalah penjelasan atau memperkenalkan bagian kalimat pertama pada kalimat kedua. Dan yang terakhir Generik-Spesifik adalah hubungan hypernim dengan hyponemnya.

Dibawah ini akan dibicarakan satu-persatu.

  1. Sebab-akibat (Konjungsi)

Hubungan sebab-akibat yang menyebabkan keutuhan wacana itu adalah kalimat yang satu menjadi sebab dari satu kejadian dan kalimat lain menjadi akibatnya.

Sebenarnya dari segi lain yaitu segi gramatikal hal ini telah kita bicarakan yaitu ketika membicarakan kohesi (relasi yang erat) dan ini termasuk dalam komjungsi.

  1. Tidak ada yang lulus dalam ujian itu.

Soalnya terlalu sulit.

  1. Shoping Centre bermunculan di kota itu.

Banyak golongan lemah gulung tikar.

  1. Ketekunan dalam latihan, disiplin sangat kurang pada diklat itu.

Tidak heran kita tidak mendapat nomor. Pemerintah mengadakan devaluasi uang kita.
Harga minyak yang jadi andalan kita merosot harganya.

  1. Sebagian mahasiswa hanya diizinkan mengambil 18 sks pada semester kedua.

IPnya Cuma 1,8.

Pada contoh-contoh yang lima buah kita lihat bahwa pada contoh (a), (d), (e), kalimat pertamanya adalah akibat dan kalimat kedua menjadi sebabnya.

Dengan contoh-contoh diatas bukanlah berarti bahwahanya dua buah kalimat saja yang dapat diikat oleh hubungan sebab akibat itu. Lebih dari dua buah kalimat dapat juga diikat oleh sebab akibat itu.

Lihatlah contoh dibawah ini:

  1. Semua petani masuk KUD.

Mereka dapat membeli dan menjadi keperluan dan hasil pertanian di situ.

Juga mereka dapat menjamin uang untuk keprluan pertaniannya.

  1. Tahun ini hujan tidak cukup turun.

Lagi pila tali air yang diharapkan itu belum selesai.

Akibatnya hasil pertanian petani jauh berkurang dari tahun yang lewat.

Pada contoh (f) kita lihat bahwa akibatnya terdapat pada kedua kalimat yaitu pada kalimat kedua dan ketiga.

Pada contoh (g) lita lihat bahwa sebabnya terdapat pada dua kalimat yaitu yang pertama dan kedua.

Juga dengan contoh ini tidak berarti bahwa dua kalimat saja yang dapat mengisi sebab atau akibatnya. Lebih dari itu pun tentu dapat.

  1. Perbandingan

Membandingkan sesuatu dengan yang lain adalah satu cara juga untuk mengutuhkan wacana.

  1. Murid-murid sudah siap semua.

Guru baru datang.

  1. Dia malas benar belajar.

Adiknya rajin benar.

  1. Mereka yang member tadi.

Kami hanya menerima.

  1. Rumahnya jauh dari sini.

Rumah saya dekat saja.

  1. Yang ini hanya Rp. 500,00

Yang itu lebih Rp.1000,00

  1. Kau tolak dari sana.

Kutarik darisini.

Kita lihat contoh-contoh diatas ini, perbandingan itu daoat dilakukan dengan kata benda seperti: murid – guru, memakai kata kerja seperti member-menerima, tolak-tarik, memakai sifat seperti: malas-rajin, jauh-dekat, dan juga memakai kata petunjuk seperti ini-itu.

Dalam perbandingan tidaklah selamanya yang bertentangan saja dapat dibandingkan : tetapi yang tidak bertentanngan pun dapat juga dibandingkan:

  1. Dikebun itu ditanam mawar.

Bunga melati ditanam juga.

  1. Majalah dan buku dijual dikios itu.

Surat kabar ada juga.

  1. Lima belas menit lagi kita berlatih.

Istirahat tidak kita lakukan lagi.

Antara:  mawar-melati, majalah-surat kabar dan berlatih-istirahat tidak terdapat pertentangan,tetapi disini dapat dibandingkan.

Perbandingan ini kalau kita perhatikan dengan saksama akan terlihat bahwa perbandingan ini sama denganreferensi komparatif yang telah kita bicarakan pada bagian relasi.

  1. Parafrastis Subsitusi

Yang kita maksud parafrastis adalah pengungkapan sebuah kalimat dengan cara yang lain.

  1. Dia selalu lulus ujian.

Tiap kali maju, lulus.

  1. Jalan Sibolga-Padangsidempuan putus

Terjadi longsor diantara kedua kota itu.

  1. Bersiap-siaplah berangkat

Cukupan alat-alat dan perkakas.

  1. Semuanya sudah beres

Ada rending, kalio, semur dan kari.

Dari contoh-contoh itu kelihatan kepada kita: selalu lulus, itu diparafrastiskan dengan ‘tiap maju lulus’, begitu juga ‘jalan putus’ itu diparafrastiskan dengan ‘tanahlongsor’. Pada contoh (3) bersiap-siap diparafrastiskan dengan kata cukupkan alat-alat dan perkakas. Dan terakhir (4) beres diparafrastiskan dengan adanya rendan, kalio, semur dan kari.

  1. Amplifikasi

Yang dimaksud amplifikasi ialah penguatan suatu bagian-bagian kaliamat dengan kalimat lain. Terkadang apa yang kita ucapkan kurang dipercayai oleh yang mendengar. Oleh sebab itu untuk memperkuat itu kita tambah kalimat yang lain atau kita amplikasi sehingga apa yang kita ucapkan jadi lebih dipercaya.

  1. Dia selalu lulus ujian

Nilainya selalu A

  1. Saya tetap hadir

Dari tadi sya sudah disini.

  1. Harganya Rp. 10.000,-sebuah

Sudah lama naik.

  1. Hal itu tak mungkin terjadi.

Dia dapt dipercaya.

Dari contoh-contoh ini kelihatan bahwa kalimat kedua memperkuat lulusnya si dia pada tiap-tiap ujian. Dari tadi saya sudah disini memperkuat kehadiran saya itu dan sudah lama naik memperkuat harga Rp. 10.000,- sebuah, dia dapat dipercaya memperkuat ketidak mungkinan terjadinya hal itu.

Amplikasi ini dapat diterangkan hubungannya secara sistematis karena kalimat kedua di sini jelas menguatkan kalimat pertama dan hubungan kedua kalimat itu tidak memakai relasi secara formal.

  1. Aditif (konjungsi)

Aditif maksudnya tambahan dan untuk ini selalu dipakai kata penghubung ‘dan’ dan terkadang tidak memakai apa-apa.

  1. Adiknya sudah lulus

Dia begitu juga.

  1. Si Badu sudah berangkat

Si Amat ikut serta.

  1. Gulai sudah masak

Nasi dari tadi sudah siap.

Dalam aditif ini kalimat kedua hanya tambahan kejadian pada kalimat pertama, dan tentu saja kalimat itu  bisa lebih dari sebuah.

  1. a. Ujian sudah dilakukan

b. Angka-angka sudah masuk.

c. Pengumuman sudah diadakan.

5.   a. Presiden jam 10.00 bakal datang.

b. Tamu-tamu sudah bersiap semua.

c. Panitia sibuk menyusun acara.

d. Wartawan pun sudah siap dengan tustelnya.

6.   a. Didepan sekali tuan menanti.

b. Tak gentar.

c. Lawan banyaknya seratus kali.

d. Pedang dikanan keris dikiri.

e. Berselempang semangat yang tak bisa mati.

Pada contoh-contoh yang ini aditif itu bukan terjadi dari sebuah kalimat saja tapi dua, tiga dan empat.

Begitu juga dengan ini:

Angin pulang mengejuk bumi

Menepuk telum mengempas-empas

Lari kegunung memuncak sunyi

Barayun-ayun diatas alas.

Semua aditif tanpa memakai kata penghubung sebuah pun, tetapi jelas konjungsinya disini tidak diucapkan.

  1. Identifikasi

Identifikasi adalah memperkenalkan sesuatu bagian dan kalimat pertama dengan kalimat yang kedua.

  1. Itu guru bahasa Indonesia.

Dia baru lulus sarjana.

Siapa guru bahasa Indonesia itu diidentifikasikan dengan kalimat ‘Dia baru lulus sarjana’.

  1. Mereka mahasiswa FPBS IKIP Medan

Semuanya tingkat IV.

Disini mahasiswa FPBS itu diidentifikasikan sebagai mahasiswa tingkat IV.

  1. Semua itu pemain bola kaki.

Mereka dari PSMS Medan.

Pemain bolakaki itu diidentifikasikan sebagai pemai dari PSMS.

  1. O, bukannya dalam kata yang rancak.

Kata yang pelik kebagusan sajak.

Kata yang rancak disini diidentifikasikan sebagai kat\a yang pelik kebagusan sajak.

  1. Seperti matahari mencinttai bumi.

Member sinar selama-lamanya.

Tidak menerima sesuatu kembali.

‘Mencintai’ di sini diidentifikasikan sebagai ‘yang memberi sinar’ dan ‘tidak menuntut sesuatu kembali’.

Seperti kelihatan pada contoh ini identifikasi dapat lebih dari sebuah kalimat.

Dengarlah kisah suatu riwayat

Raja di desa negeri Kembayat

Di karang fakir dijadikan hikayat

Di buatkan syair serta bermanfaat.

Riwayat pada kalimat pertama di terangkan atau diidentifikasikan sebagai riwayat raja di negeri Kembayat dan riwayat itu dikarang fakir dan di buat syair.

Begitu juga:

Adalah raja sebuah negeri

Sultan Agus Bijak bestari

Asalnya baginda raja yang bahari

Melupakan pada dagangan biaperi

Di sini raja itu adalh Sultan Agus yang berasal dari raja bahari dan yang melupakan pada dagang biaperi.

Dengan contoh-contoh ini kita ketahui bahwa penghubungnya di sini adalah referensi leksikal. Sama seperti pada relasi yang telah kita bicarakan di atas.

  1. Generik – Spesifik

Yang dimaksud dengan generic dan spesifik adalah hubungan antara atasan dan bawahan, anatara keseluruhan dan bagian-bagiannya (hypernim-hyponim).

  1. Mereka mahasiswa FPBSIKIP Medan

Si A, si B, si C dan si D.

Mahasiswa FPBS itu sebagai atasan (hypernim) dan si A, si B, si C dan si D adalah bawahan atau bagiannya.

Begitu juga:

  1. Ada mawar, melati, kamboja, dan dahlia

Semua bunga yang indah.

Mawar, melati, kamboja, dan dahlia adalah bagian atau hyponym bunga.

  1. Segala macam kendaraan silang siur di jalan itu.

Geronak, sedan, sudaco dan bemo

Tidak ketinggalan beca dan kereta beroda dua.

Kendaraan di sini adalah hypernim dari segala yang silang siur itu, yaitu gerobak, sedan, sudaco, bemo, beca, dan kereta beroda dua.

  1. Beribu-ribu buku ada diperpustakan itu.

Buku bahasa, ekonomi, hukum dan pertanian.

Juga buku-buku teknik, kimia, kedokteran dan lain-lain.

Buku-buku yang banyak adalah hyponym dari beribu-ribu buku itu. hubungan ini adalah sama dengan relasi leksikal yang telah kita bicarakan di atas.

Demikianlah hubungan secara semantic yang bersifat eksplisit dan implisit telah kita terangkan satu persatu, dengan catatan bahwa masih banyak lagi hubungan-hubungan semantic yang belum tercakup dalam pembicaraan ini, karena hubungan itu begitu banyak ragamnya. Begitu juga hubungan secara referensi sudah dibicarakan di atas pada Bab II.

Aspek-aspek lain seperti aspek leksikon yaitu pengulangan, antonym juga aspek gramatikal tidak lagi kita bicarakan karena semuanya telah tercakup pada bagian Bab II yaitu pada relasi yang erat.

Tentu saja keutuhan wacana itu dapat juga terjadi dengan berbagai aspek dan tidak melulu karena satu aspek saja apalagi kalau wacana itu terdiri dari lebih dua kalimat. Mungkin saja aspek semantis yang menghubungkan kalimat pertama dengan kalimat kedua dan aspek leksikal yang menghubungkan kalimat kedua dengan ketiga dan mungkin juga aspek pengulangan menghubungkan kalimat ketiga ini dengan kalimat keempat. Atau mugkin juga bahwa kalimat pertama itu berhubungan bukan saja dengan kalimat kedua tetapi juga dengan kalimat ketiga, keempat, kelima dan seterusnya. Begitu juga kalimat kedua dapat berhubungan dengan kalimat ketiga, keempat, kelima dan seterusnya.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s