Metode Pembelajaran Kontruktivisme


Metode Pembelajaran Konstruktivistik

Pembentukan pengetahuan menurut model konstruktivisme memandang subyek aktif menciptakan struktur-struktur kognitif dalam interaksinya dengan lingkungan. Dengan bantuan struktur kognitifnya ini, subyek menyusun pengertian realitasnya. Interaksi kognitif akan terjadi sejauh realitas tersebut disusun melalui struktur kognitif yang diciptakan oleh subyek itu sendiri. Struktur kognitif senantiasa harus diubah dan disesuaikan berdasarkan tuntutan lingkungan dan organisme yang sedang berubah. Proses penyesuaian diri terjadi secara terus menerus melalui proses rekonstruksi (Piaget,1988:60), yang terpenting dalam teori konstruktivisme adalah bahwa dalam proses pembelajaran siswalah yang harus mendapatkan penekanan. Merekalah yang harus aktif mengembangkan pengetahuan mereka, bukannya guru atau orang lain. Mereka yang harus bertanggung jawab terhadap hasil belajarnya. Penekanan belajar siswa secara aktif ini perlu dikembangkan. Kreativitas dan keaktifan siswa akan membantu mereka untuk berdiri sendiri dalam kehidupan kognitif siswa (Suparno, 1997 : 81).

Menurut paham konstruktivis pengetahuan merupakan konstruksi (bentukan) dari orang yang mengenal sesuatu (skemata). Pengetahuan tidak bisa ditransfer dari guru kepada orang lain, karena setiap orang mempunyai skema sendiri tentang apa yang diketahuinya. Pembentukan pengetahuan merupakan proses kognitif di mana terjadi proses asimilasi dan akomodasi untuk mencapai suatu keseimbangan sehingga terbentuk suatu skema (jamak: skemata) yang baru.  Seseorang yang belajar itu berarti membentuk pengertian atau pengetahuan secara aktif dan terus-menerus (Suparno, 1997). Salah satu teori atau pandangan yang sangat terkenal berkaitan dengan teori belajar konstruktivisme adalah teori perkembangan mental Piaget. Teori ini biasa juga disebut teori perkembangan intelektual atau teori perkembangan kognitif. Teori belajar tersebut berkenaan dengan kesiapan anak untuk belajar, yang dikemas dalam tahap perkembangan intelektual dari lahir hingga dewasa. Setiap tahap perkembangan intelektual yang dimaksud dilengkapi dengan ciri-ciri tertentu dalam mengkonstruksi ilmu pengetahuan. Misalnya, pada tahap sensori motor anak berpikir melalui gerakan atau perbuatan (Ruseffendi, 1988: 132).

Selanjutnya, Piaget yang dikenal sebagai konstruktivis pertama (Dahar, 1989: 159) menegaskan bahwa pengetahuan tersebut dibangun dalam pikiran anak melalui asimilasi dan akomodasi. Asimilasi adalah penyerapan informasi baru dalam pikiran. Sedangkan, akomodasi adalah menyusun kembali struktur pikiran karena adanya informasi baru, sehingga informasi tersebut mempunyai tempat (Ruseffendi 1988: 133). Pengertian tentang akomodasi yang lain adalah proses mental yang meliputi pembentukan skema baru yang cocok dengan ransangan baru atau memodifikasi skema yang sudah ada sehingga cocok dengan rangsangan itu (Suparno, 1996: 7). Lebih jauh Piaget mengemukakan bahwa pengetahuan tidak diperoleh secara pasif oleh seseorang, melainkan melalui tindakan. Bahkan, perkembangan kognitif anak bergantung pada seberapa jauh mereka aktif memanipulasi dan berinteraksi dengan lingkungannya. Sedangkan, perkembangan kognitif itu sendiri merupakan proses berkesinambungan tentang keadaan ketidak-seimbangan dan keadaan keseimbangan (Poedjiadi, 1999: 61).

Konsrtruktivistik dimulai dari masalah (sering muncul dari siswa sendiri) dan selanjutnya membantu siswa menyelesikan dan menemukan langkah-langkah pemecahan masalah tersebut. Metode konstruktivistik ditekankan pada siswa seharusnya diberi tugas-tugas komplek, sulit, dan realistis. Kemudian mereka diberi bantuan secukupnya untuk menyelesaikan tugas. Tugas kompleks itu misalnya proyek, simulasi, menulis untuk dipresentasikan.

Hakikat Pembelajaran Konstruktivisme

Sebagaimana telah dikemukakan bahwa menurut teori belajar konstruktivisme, pengetahuan tidak dapat dipindahkan begitu saja dari pikiran guru ke pikiran siswa. Artinya, bahwa siswa harus aktif secara mental membangun struktur pengetahuannya berdasarkan kematangan kognitif yang dimilikinya. Dengan kata lain, siswa tidak diharapkan sebagai botol-botol kecil yang siap diisi dengan berbagai ilmu pengetahuan sesuai dengan kehendak guru. Sehubungan dengan hal di atas, Tasker (1992: 30) mengemukakan tiga penekanan dalam teori belajar konstruktivisme sebagai berikut. Pertama adalah peran aktif siswa dalam mengkonstruksi pengetahuan secara bermakna. Kedua adalah pentingya membuat kaitan antara gagasan dalam pengkonstruksian secara bermakna. Ketiga adalah mengaitkan antara gagasan dengan informasi baru yang diterima.

Pembentukan pengetahuan menurut konstruktivistik memandang subyek aktif menciptakan struktur-struktur kognitif dalam interaksinya dengan lingkungan. Dengan bantuan struktur kognitifnya ini, subyek menyusun pengertian realitasnya. Interaksi kognitif akan terjadi sejauh realitas tersebut disusun melalui struktur kognitif yang diciptakan oleh subyek itu sendiri. Struktur kognitif senantiasa harus diubah dan disesuaikan berdasarkan tuntutan lingkungan dan organisme yang sedang berubah. Proses penyesuaian diri terjadi secara terus menerus melalui proses rekonstruksi, yang terpenting dalam teori konstruktivisme adalah bahwa dalam proses pembelajaran, si belajarlah yang harus mendapatkan penekanan. Merekalah yang harus aktif mengembangkan pengetahuan mereka, bukan pembelajar atau orang lain. Mereka yang harus bertanggung jawab terhadap hasil belajarnya. Belajar lebih diarahkan pada experimental learning yaitu merupakan adaptasi kemanusiaan berdasarkan pengalaman konkrit di laboratorium, diskusi dengan teman sekelas, yang kemudian dikontemplasikan dan dijadikan ide dan pengembangan konsep baru. Karenanya aksentuasi dari mendidik dan mengajar tidak terfokus pada si pendidik melainkan pada pebelajar.
Beberapa hal yang mendapat perhatian pembelajaran konstruktivistik, yaitu:

  1. mengutamakan pembelajaran yang bersifat nyata dalam konteks relevan,
  2. mengutamakan proses,
  3. menanamkan pembelajran dalam konteks pengalaman social,
  4. pembelajaran dilakukan dalam upaya mengkonstruksi pengalaman

Pandangan Konstruktivisme

Pandangan konstruktivisme sebagai filosofi pendidikan mutakhir menganggap semua peserta didik mulai dari usia taman kanak-kanak sampai dengan perguruan tinggi memiliki gagasan/pengetahuan tentang lingkungan dan peristiwa/gejala lingkungan sekitarnya, meskipun gagasan/pengetahuan ini seringkali naif. Mereka senantiasa mempertahankan gagasan/pengetahuan naif ini secara kokoh. Ini dipertahankan karena gagasan/pengetahuan ini terkait dengan gagasan/pengetahuan awal lainnya yang sudah dibangun dalam wujud ’’schemata’’(struktur kognitif). Beberapa bentuk kondisi belajar yang sesuai dengan filosofi konstrutivisme antara lain: diskusi yang menyediakan kesempatan agar semua peserta didik mau mengungkapkan gagasan, pengujian dan hasil penelitian sederhana, demonstrasi dan peragaan prosedur ilmiah, dan kegiatan praktis lain yang memberi peluang peserta didik untuk mempertajam gagasannya.

Prinsip-prinsip Pengajaran Konstruktivis

Prinsip-prinsip dalam pengajaran konstruktivis perlu diperhatikan, prinsip-prinsip tersebut diantaranya adalah:

  1. Anak-anak belajar dengan paling baik dengan menyelesaikan berbagai konflik kognitif (konflik dengan berbagai ide dan prakonsepsi lain) melalui pengalaman, refleksi, dan metakognisi {Beyer, 1985}.
  2. Bagi konstruktivis, belajar adalah pencarian makna. Murid secara aktif berusaha menginstruksikan makna. Dengan demikian guru mestinya berusaha mengkonstruksikan berbagai kegiatan belajar diseputar ide-ide besar dan eksplorasi yang memungkinkan murid untuk mengkonstruksikan makna.
  3. Konstruksi pengetahuan bukan sesuatu yang bersifata individual semata. Belajar juga dikonstruksikan secara sosial, melalui interaksi dengan teman sebaya, guru, orang tua dan sebagainya. Demikian, yang terbaik adalah mengkonstruksikan situasi belajar secara sosial, dengan mendorong kerja dan diskusi kelompok.
  4. Elemen lain yang berakar pada fakta bahwa murid secara individual dan kolektif mengkonstruksikan pengetahuan adalah bahwa agar efektif guru harus memiliki pengetahuan yang baik tentang perkembangan anak dan teori belajar, sehingga mereka dapat memilih secara lebih akurat belajar seperti apa yang dapat terjadi.
  5. Di samping itu belajar selalu dikonseptualisasikan. Kita tidak mempelajari fakta-fakta secara murni abstrak, tetapi selalu dalam hubungannya dengan apa yang telah kita ketahui. Kita juga belajar dalam kaitannya dengan prakonsepsi kita. Ini berarti bahwa kita dapat belajar dengan paling baik bila pembelajaran baru itu berhubungan secara eksplisit dengan apa yang telah kita ketahui.
  6. Belajar secara betul-betul mendalam berarti mengkostruksikan pengetahuan secara menyeluruh, dengan mengeksplorasi dan menengok kembali materi yang kita pelajari dan bukan dengan cepat pindah dari satu topik ke topik seperti pada pendekatan pengajaran langsung. Murid hanya dapat mengkonstruksikan makna bila mereka dapat terlihat keseluruhannya, bukan hanya bagian-bagiannya.
  7. Mengajar adalah tentang memberdayakan pelajar, dan memungkinkan pelajar untuk menemukan dan melakukan refleksi terhadap pengalaman-pengalaman realistis. Ini akan menghasilkan pembelajaran otentik/ asli dan pemahaman yang lebih dalam bila dibandingkan dengan memorisasi permukaan yang sering menjadi ciri pendekatan-pendekatan mengajar lainnya (Von Glasersfelt, 1989). Ini juga membuat kaum konstruktifis percaya bahwa lebih baik menggunakan bahan-bahan reel dari pada teks book.

Konstruktivisme Dalam Praktik

Mengaitkan ide-ide dengan pengetahuan sebelumnya dapat dilakukan pada awal sebuah topik baru, tetapi tidak boleh dibatasi pada bagian pelajaran yang itu saja. Guru akan perlu mencari tau apakah murud-muridnya tau tentang topik itu sebelum pembelajaran dimulai (Dejager, 2002). Modeling, aspek kunci lain dari pengajaran konstruktivis, guru melaksanakan sebuah tugas yang kompleks dan menunjukkan kepada murid proses-proses yang dibutuhkan untuk melaksanakan tugas itu; atau, guru dapat memberi tau murid tentang pikiran dan strateginya selama menyelesaikan sebuah soal. scaffolding, guru memberikan bantuan kepada murid untuk mencapai tugas-tugas yang belum dapat mereka kuasai sendiri, dan kemudian sedikit demi sedikit menarik dukungannya.

Coaching adalah proses memotivasi pelajar, menganalisis performa mereka dan memberikan umpan-balik tentang kinerja mereka. Guru membantu murid selama mereka melesaikan soal-soal secara mandiri atau di dalam kelompok, yang akan memotivasi dan mendukung murid.  Salah satu elemen pelajaran konstruktivis adalah artikulasi, yang mendorong murid untuk mengartikulasikan ide, pikiran dan solusi mereka. Murid mestinya tidak hanya diberi kesempatan untuk mengkonstrusikan makna dan mengembangkan pikiran mereka, tapi juga dapat memperdalam proses-proses ini melalui pengekspresian ide-idenya.

Refleksi terjadi bila murid membandingkan solusinya dengan solusi para ”pakar” atau murid-murid lain. Ini merupakan salah satu momen kunci belajar dan dapat didorong oleh guru yang memberikan contoh-contoh tandingan untuk berbagai pendapat yang dikemukakan oleh murid-murid lain, dan dengan membrikan kesempatan kepada murid untuk mendiskusikan temuan, dan strategi mereka (Duffi dan Jonassen, 1992).

Elemen lain dalam pengajaran konstruktivis adalah kolaborasi. Ini jelas berasal dari sisi sosial gerakan konstruktivis, yang menekankan pada bagaimana anak – anak dapat belajar dari anak lain selama mereka berkolaborasi dengan sesamanya atau dengan guru. Kegiatan eksplorasi dan menyelesaikan – masalah adalah bagian – bagian kunci pelajaran konstruktivis. Keduanya memungkinkan murid untuk mengembangkan pemikiran dan pemaknaan (meaning making) mereka, dengan mengembangkan kombinasi – kombinasi ide baru dan dengan memikirkan tentang hasil – hasil hipotetik dari berbagai situasi dan kejadian yang dibayangkan (De Jager, 2002). pilihan dan opsi kepada murid. Murid diberi kesempatan untuk memilih tugas, proyek, atau pekerjaan yang mereka kerjakan. Alih – alih pelajaran dan tugas yang dirancang oleh guru, guru bekerja bersama murid untuk merancang berbagai proyek yang akan memfasilitasi belajar.
Fleksibilitas. Alih – alih memiliki rencana pelajaran yang pasti dan tidak bervariasi, guru – guru konstruktivis bersikap reaktif, dalam arti membiarkan murid mengarahkan pelajarannya (paling tidak sampai tingkat tertentu).
adaptif. Pembelajaran individual murid harus dipertimbangkan, bukan hanya dalam hubungannya dengan kemempuan akademik mereka, tetapi juga gaya belajarnya. Ini berarti bahwa mengajar perlu dibuat bervariasi, untuk memancing digunakannya cara – cara belajar murid yang berbeda. Multiple realities adalah cara yang baik untuk mengalihkan murid dari konsepsi bahwa selalu ada sebuah jawaban yang benar, dan akan membantu mereka menjadi lebih bijak dan terlibat di dalam pembelajaran yang lebih mendalam.

Format Pembelajaran Konstruktivis

  1. Fase Start

Guru mungkin ingin mulai dengan mengukur pengetahuan murid sebelumnya dan menetapkan berbagai kegiatan. Guru dapat mulai dengan pertanyaan umum terbuka (misalnya,”Menurut kalian biologi itu ilmu tentang apa?”) lalu mendorong murid untuk memberikan jawaban – jawaban terbuka dan mendiskusikan tentang subjek ini.

  1. Fase Eksplorasi

Murid sekarang mengerjakan kegiatan yang ditetapkan guru di fase 1. kegiatan ini biasanya bersifat eksploratik, melibatkan situasi atau bahan – bahan riil, dan memberikan kesempatan untuk kerja kelompok.

  1. Fase Refleksi

Selain fase ini, murid mungkin diminta untuk menengok kembali kegiatan itu dan menganalisis serta mendiskusikan apa yang telah mereka kerjakan, baik dengan kelompok – kelompok lain atau dengan guru.

  1. Fase Aplikasi dan Diskusi

Selain itu guru dapat meminta seluruh kelas untuk mendiskusikan berbagai temuan dan menarik kesimpulan. Langkah berikutnya dapat diidentifikasi oleh guru atau murid, dan poin-poin kunci direkap.

Contoh Metode Pembelajaran Konstruktivistik

Kelompok Belajar Kooperatif

Proses pembelajaran juga menerapkan prinsip belajar kooperatif, yaitu proses pembelajaran yang berbasis kerjasama. Kerjasama antar siapa? Tiada lain adalah kerjasama antar siswa dan antar komponen-komoponen lain di sekolah, termasuk kerjasama sekolah dengan orang tua siswa dan lembaga terkait. Kerjasama antarsiswa jelas terlihat pada saat kelas sudah memilih satu masalah untuk bahan kajian bersama.  Pembelajaran koperatif sesuai dengan fitrah manusia sebagai makhluk sosial yang penuh ketergantungan dengan orang lain, mempunyai tujuan dan tanggung jawab bersama, pembagian tugas, dan rasa senasib. Dengan memanfaatkan kenyatan itu, belajar berkelompok secara koperatif, siswa dilatih dan dibiasakan untuk saling berbagi (sharing) pengetahuan, pengalaman, tugas, tanggung jawab. Saling membantu dan berlatih beinteraksi-komunikasi-sosialisasi karena koperatif adalah miniature dari hidup bermasyarakat, dan belajar menyadari kekurangan dan kelebihan masing-masing. Jadi model pembelajaran koperatif adalah kegiatan pembelajaran dengan cara berkelompok untuk bekerja sama saling membantu mengkontruksi konsep, menyelesaikan persoalan, atau inkuiri. Menurut teori dan pengalaman agar kelompok kohesif (kompak-partisipatif), tiap anggota kelompok terdiri dari 4 – 5 orang, siswa heterogen (kemampuan, gender, karekter), ada control dan fasilitasi, dan meminta tanggung jawab hasil kelompok berupa laporan atau presentasi. Sintaks pembelajaran koperatif adalah informasi, pengarahan-strategi, membentuk kelompok heterogen, kerja kelompok, presentasi hasil kelompok, dan pelaporan.

3 thoughts on “Metode Pembelajaran Kontruktivisme

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s