Teori Sikap


Pengertian Sikap

Pada dasarnya manusia tidak lepas dari aktivitas, baik yang berhubungan dengan fisik maupun psikis yang berusaha untuk menambah pengetahuan tersebut timbul kecenderungan untuk bertindak. Kecenderungan bertindak tersebut dapat mempengaruhi tingkah laku dari seluruh proses psikologi seperti belajar, minat, pemahaman dan sebagainya yang pada akhirnya akan menimbulkan sikap.

Triandis (dalam Basuki Suhardi,1996: 22), menyatakan bahwa sikap adalah suatu gagasan yang mengandung emosi yang mempengaruhi sekelompok tindakan terhadap sekelompok situasi sosial tertentu. Triandis mengisyaratkan bahwa sikap terdiri dari tiga komponen; kognitif, afektif, dan perilaku. Sebelum seseorang secara taat asas memberikan tanggapan terhadap suatu objek sikap, pertama dia harus terlebih dahulu mengetahui sesuatu tentang objek tersebut. Selanjutnya dia memberikan penilaian suka atau tidak suka terhadap objek tersebut. Akhirnya, pengetahuan dan rasa ini diikuti oleh kehendak untuk bertindak.

Mouly (dalam Nadhifah, 2012:5) menyatakan bahwa sikap sebagai cerminan dari kemampuan penalaran afektif dapat ditinjau dari tiga komponen dasar perkembangan psikologi yaitu kognisi, afeksi dan konasi. Komponen kognisi meliputi persepsi, kepercayaan, dan pengetahuan yang dimiliki individu. Kompenen afeksi merupakan perasaan individu terhadap objek sikap dan perasaan yang menyangkut masalah emosional. Komponen konasi merupakan tendensi atau kecenderungan bertindak atau bereaksi terhadap sesuatu dengan cara-cara tertentu.

Lois Thurston (dalam Azwar, 2013:5) memberikan definisi tentang sikap yang menurutnya “Suatu bentuk evaluasi atau reaksi perasaan”. Sikap seseorang terhadap objek adalah perasaan mendukung atau memihak (favorabel) ataupun perasaan tidak mendukung (tidak favorabel) terhadap objek yang dihadapi. Di lain pihak Calhoun dan Acocella (dalam Sobur, 2003:359) berpendapat bahwa sikap merupakan sekolompok keyakinan dan perasaan yang melekat tentang objek tertentu dan kecenderungan untuk bertindak terhadap objek tersebut dengan cara tertentu. Itulah sebabnya sikap berhubungan dengan pengetahuan dan perasaan seseorang terhadap objek. Sikap juga dapat dipandang sebagai kecenderungan seseorang untuk berprilaku.

Dari pendapat di atas dapat disimpulkan bahwa sikap adalah kecenderungan seseorang untuk memberikan penilaian, perasaan, dan respon positif atau negatif, terhadap objek sesuai dengan tingkat kognisi, afektif, dan konasinya. Tingkat kognisi mencakup tingkat pemahaman berbagai konsep yang menjadi objek sikap, penilaian yang melibatkan pemberian kualitas baik atau tidak baik, keyakinan terhadap bahasa yang menjadi objek sebagai sesuatu yang diperlukan atau tidak diperlukan, bermanfaat atau tidak bermanfaat. Tingkat afektif menyangkut perasaan tertentu terhadap objek sikap, seperti yang menyenangkan atau tidak menyenangkan, disukai atau tidak disukai. Tingkat konasi meliputi kesiapan atau kecenderungan perilaku untuk memberikan tanggapan positif atau negatif terhadap objek sikap.

Menurut Walgito (dalam Puspasari, 2010:16) sikap mengandung tiga komponen yang membentuk struktur sikap, yaitu: kognitif (konseptual), afektif (emosional), konatif (perilaku atau action component)

  1. Komponen kognitif merupakan komponen yang berkaitan dengan pengetahuan, pandangan, keyakinan, yaitu hal-hal yang berhubungan dengan bagaimana orang mempersepsikan terhadap objek.
  2. Komponen afektif merupakan komponen yang berhubungan dengan rasa senang atau tidak senang terhadap objek sikap.
  3. Komponen konatif merupakan komponen yang berhubungan dengan kecenderungan bertindak terhadap objek sikap.

 

Tingkatan Sikap

Sikap siswa dalam proses kegiatan belajar mengajar sangat besar pengaruhnya terhadap berhasil tidaknya proses pembelajaran tersebut. Menurut Silverius (dalam Riyono, 2005:11), sikap siswa dalam proses pembelajaran meliputi lima tingkat kemampuan, yaitu:

1)   Kemampuan Menerima (Receiving)

Tingkat ini berhubungan dengan kesediaan atau kemauan siswa untuk ikut dalam kegiatan pembelajaran di dalam kelas. Kata kerja operasional yang dapat digunakan untuk rumusan indikatornya adalah memilih, mempertanyakan, mengikuti, dan meminati..

2)   Kemampuan Menanggapi / Menjawab (Responding)

Pada tingkatan ini, siswa tidak hanya menghadiri suatu objek atau fenomena tetapi juga bereaksi terhadapnya. Kata kerja operasional yang dapat digunakan untuk rumusan indikatornya adalah menjawab, membantu, menyenangi, dan menyetujui.

3)   Kemampuan Menilai (Valuing)

Tingkat ini berkenaan dengan nilai yang dikenakan siswa terhadap sesuatu obyek atau fenomena tertentu. Kata kerja operasional yang dapat digunakan untuk rumusan indikator ini adalah meyakini, mengimani, dan mengundang.

4)   Kemampuan Organisasi (Organization)

Hasil belajar pada tingkat ini berkenaan dengan organisasi suatu nilai (merencanakan suatu pekerjaan yang memenuhi, mengatur, menyusun, dan mempertahankan kebutuhannya). Kata kerja operasional yang dapat digunakan untuk rumusan indikatornya adalah membangun, mengelola, dan mengubah.

5)   Karakteristik

Hasil belajar pada tingkat ini penekanannya lebih besar diletakkan pada kenyataan bahwa tingkah laku itu menjadi ciri khas atau karakteristik siswa. Kata kerja operasional yang dapat digunakan untuk rumusan indikatornya adalah menunjukkan, membuktikan, dan mengubah perilaku.

Hal yang senada dikemukan juga dikemukakan oleh Krathwohl (dalam Sudjana, 2009:30) aspek afektif diklasifikasikan ke dalam lima jenjang, yaitu:

1)   Menerima (Receiving)

2)   Menanggapi (Responding)

3)   Menilai (Valuing)

4)   Mengorganisasi (Organization)

5)   Karakteristik (Characterization)

Tingkat ranah afektif ini merupakan keterpaduan semua nilai yang telah dimiliki seseorang yang mempengaruhi pola kepribadian dan tingkah lakunya. Pada tingkat ini peserta didik memiliki sistem nilai yang mengendalikan perilaku sampai pada waktu tertentu hingga terbentuk gaya hidup. Hasil pembelajaran pada tingkat ini berkaitan dengan pribadi, emosi, dan sosial.

Pengukuran Sikap

Satu di antara aspek penting dalam memahami sikap manusia adalah masalah pengukuran sikap. Berikut ini beberapa metode pengukuran sikapyang dikemukakan oleh Azwar (2013:90) yang biasa digunakan dalam penelitian, antara lain:

1)   Observasi prilaku

2)   Penanyaan langsung

3)   Pengungkapan langsung

4)   Skala sikap

5)   Pengukuran terselubung

 

Menurut Sugiyono (2012: 134) berbagai skala sikap yang dapat digunakan dalam pengukuran sikap untuk penelitian administrasi, pendidikan, dan sosial. Skala sikap tersebut adalah.

1)      Skala Likert

2)      Skala Guttman

3)      Skala Deferential

4)      Skala Scale

5)      Skala Thurstone

 

Peneliti akan menggunakan skala Likert pada penelitian ini sebagai alat pengumpul data. Skala sikap digunakan untuk mengukur sikap seseorang terhadap objek tertentu dalam hal ini sikap siswa terhadap pembelajaran bahasa Indonesia. Hasilnya berupa kategori sikap, yakni mendukung (positif) dan menolak (negatif). Sikap juga dapat diartikan reaksi seseorang terhadap suatu stimulus yang datang kepada dirinya.

Menurut Sugiyono, (2012:134) skala Likert digunakan untuk mengukur sikap, pendapat, dan persepsi seseorang atau sekelompok orang tentang kejadian atau gejala sosial. Dalam penelitian gejala sosial ini telah ditetapkan secara spesifik oleh peneliti, yang selanjutnya disebut sebagai variabel penelitian. Secara garis besar penyusunan skala Likert melalui langkah-langkah sebagai berikut:

1)             Tentukan objek yang dituju, kemudian tetapkan variabel yang akan diukur dengan skala tersebut.

2)             Tentukan subvariabel dari variabel yang akan diukur.

3)             Subvariabel yang akan diukur dijabarkan menjadi indikator.

4)             Susunlah pernyataan untuk masing-masing aspek tersebut dalam dua kategori, yakni pernyataan positif dan negatif secara seimbang.(Sudjana, 2009:81)

 

Djaali (dalam Herbiadi, 2013:18) menegaskan bahwa sikap terhadap pembelajaran bukan saja sikap yang ditujukan kepada guru, melainkan juga kepada tujuan yang akan dicapai, materi pelajaran, tugas dan lain-lain. Sikap belajar siswa akan terwujud dalam bentuk perasaan senang atau tidak senang, setuju atau tidak setuju, suka atau tidak suka terhadap komponen sikap belajar. Sikap seperti ini akan berpengaruh terhadap proses dan hasil belajar yang dicapainya. Sesuatu yang menimbulkan rasa senang, cenderung akan diulang, demikian menurut hukum belajar law of effect yang dikemukakan oleh Thorndike.

Berdasarkan kajian teoritik dan beberapa konsep yang dideskripsikan di atas, dapat disintesiskan suatu kesimpulan bahwa hakikat sikap terhadap pembelajaran bahasa Indonesia adalah kecenderungan seseorang (dalam hal ini siswa) untuk memberi respons (tanggapan) dan bertindak (berperilaku) secara positif atau negatif terhadap pembelajaran bahasa Indonesia.

Contoh indikator-indikator yang menunjuk pada dimensi atau variabel sikap siswa terhadap pembelajaran bahasa Indonesia adalah.

1)   Meyakini manfaat pembelajaran Bahasa Indonesia

2)   Menyenangi pembelajaran Bahasa Indonesia

3)   Mengikuti proses pembelajaran Bahasa Indonesia

4)   Membangun interaksi dengan guru Bahasa Indonesia

5)   Menunjukkan nilai santun berkomunikasi ke dalam proses belajar

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s