Hubungan antara Sikap Siswa terhadap Pembelajaran Bahasa Indonesia dengan Kemampuan Memahami Bacaan


Ketercapaian pembangunan nasional merupakan salah satu indikator tingginya mutu pendidikan. Oleh karena itu, sektor pendidikan Indonesia sudah seharusnya dapat menghasilkan insan-insan Indonesia yang berkualitas dan juga memiliki kearifan kepribadian diri dalam bertindak dengan kata lain seimbang antara akal dan perilaku. Keberhasilan pembelajaran pada ranah kognitif dipengaruhi oleh kondisi afektif siswa. Ada lima karakteristik afektif yang mempengaruhi hasil belajar siswa, yaitu sikap, minat, konsep diri, nilai, dan moral. Dalam kegiatan belajar sikap siswa dalam kegiatan belajar merupakan bagian penting untuk diperhatikan, karena aktivitas belajar siswa selanjutnya banyak ditentukan oleh sikap siswa.

Sikap manusia terhadap suatu objek perlu diungkap. Hal ini dimaksudkan untuk mengetahui pengetahuan seseorang tentang suatu objek, perasaan seseorang dalam menanggapi objek, serta kecenderungan seseorang untuk berbuat terhadap objek. Sikap adalah sekelompok keyakinan dan perasaan yang melekat tentang objek tertentu dan kecenderungan untuk bertindak terhadap objek tersebut dengan cara tertentu. Oleh sebab itu, sikap selalu bermakna bila dihadapkan kepada objek tertentu (dalam penelitian ini objek tersebut adalah mata pelajaran Bahasa Indonesia).

Keluhan tentang rendahnya kemampuan membaca siswa di tingkat SMA tidak bisa dikatakan sebagai kelalaian seorang guru. Hal ini harus dikembalikan lagi kepada aktivitas siswa di dalam kelas. Bagaimana seorang siswa memiliki kemampuan memahami isi bacaan yang baik jika keaktifan siswa di dalam kelas masih kurang. Kenyataan yang ada saat ini menunjukkan soal-soal ujian anak Sekolah Menengah Atas (SMA) sebagian besar menuntut pemahaman siswa dalam mencari dan menentukan pikiran pokok, kalimat utama, membaca grafik/tabel, dan sebagainya. Tanpa memiliki kemampuan membaca yang tinggi, mustahil siswa dapat menjawab soal-soal tersebut. Di sinilah peran penting membaca pemahaman untuk menentukan jawaban yang benar. Belum lagi dengan adanya standar nilai yang tiap tahun dinaikkan menuntut guru mata pelajaran Bahasa indonesia untuk dapat mencapai target tersebut.

Mouly (dalam Nadhifah, 2012:5) mengungkapkan bahwa sikap sebagai cerminan dari kemampuan penalaran afektif yang dapat ditinjau dari tiga komponen dasar perkembangan psikologi yaitu: kognisi, afeksi dan konasi. Komponen kognisi meliputi persepsi, kepercayaan, dan pengetahuan yang dimiliki individu. Kompenen afeksi merupakan perasaan individu terhadap objek sikap dan perasaan yang menyangkut masalah emosional. Komponen konasi merupakan tendensi atau kecenderungan bertindak atau bereaksi terhadap sesuatu dengan cara-cara tertentu.

Djaali (2008:117) menegaskan bahwa sikap terhadap pembelajaran bukan saja sikap yang ditujukan kepada guru, melainkan juga kepada tujuan yang akan dicapai, materi pelajaran, tugas, dan lain-lain. Sikap siswa terhadap pembelajaran bahasa Indonesia akan terwujud dalam bentuk perasaan senang atau tidak senang, setuju atau tidak setuju, suka atau tidak suka terhadap komponen sikap. Sikap seperti ini akan berpengaruh terhadap proses dan hasil belajar yang dicapainya. Sesuatu yang menimbulkan rasa senang, cenderung akan diulang, demikian menurut hukum belajar law of effect yang dikemukakan oleh Thorndike. Slameto dalam Safrizal (2010:46) juga menambahkan bahwa rasa lebih suka dan rasa ketertarikan pada suatu hal akan mendorong siswa melakukan aktivitas belajar walaupun tidak ada yang menyuruh.

Menurut Walgito (dalam Puspasari, 2010:16), bahwa sikap mengandung tiga komponen yang membentuk struktur sikap, yaitu: kognitif (konseptual), afektif (emosional), dan konatif (perilaku atau action component). Komponen kognitif merupakan komponen yang berkaitan dengan keyakinan terhadap hal-hal yang berhubungan dengan persepsi terhadap objek. Komponen afektif merupakan komponen yang berhubungan dengan rasa senang atau tidak senang terhadap objek sikap. Sedangkan, komponen konatif merupakan komponen yang berhubungan dengan kecenderungan bertindak terhadap objek sikap.

Sikap memiliki pengaruh yang besar dalam pembelajaran Bahasa Indonesia. Sikap positif akan menunjang ketercapaian tujuan pembelajaran pembelajaran Bahasa Indonesia yang diharapkan oleh guru Bahasa Indonesia. Sikap yang cenderung negatif akan mempengaruhi tujuan pembelajaran yang diharapkan oleh seorang guru di dalam pembelajaran Bahasa Indonesia.

Kegiatan membaca khususnya membaca pemahaman sangat penting bagi setiap siswa dan tidak dapat ditawar-tawar lagi. Hal ini didasarkan pada suatu pemikiran sebagian besar pemerolehan ilmu dilakukan oleh siswa melalui aktivitas membaca. Tarigan (2008:58) mengungkapkan, bahwa membaca pemahaman ialah sejenis membaca yang bertujuan untuk memahami standar-standar atau norma-norma kesastraan, resensi kritis, drama tulis, pola-pola fiksi.

Membaca pemahaman bukanlah teknis atau membaca indah, melainkan membaca untuk mengenal atau menemukan ide baik yang tersirat maupun tersurat. Proses ini melibatkan faktor kecerdasan dan pengalaman pembaca, keterampilan berbahasa, dan penglihatan. Indikator kemampuan membaca pemahaman dapat dilihat dari kemampuan siswa dalam (1) menentukan ide pokok, kalimat utama, kalimat penjelas.; (2) menentukan isi paragraf yaitu fakta, opini, arti kata/istilah, jawaban pertanyaan sesuai dengan isi; (3) menentukan tujuan penulis/keberpihakan dalam teks bacaan; (4) menentukan kesimpulan; (5) menilai isi bacaan.

Hubungan antara sikap terhadap pembelajaran pembelajaran dengan kemampuan siswa memiliki hubungan yang positif dan signifikan. Hal ini didukung oleh hasil penelitian yang terdahulu, yaitu Rusgianto (2006) yang menyatakan bahwa sikap terhadap pembelajaran matematika memiliki hubungan yang positif dan signifikan dengan hasil belajar matematika.

Berdasarkan uraian di atas, peneliti tertarik melakukan penelitian tersebut dengan tujuan yaitu: (1) untuk mengetahui sikap siswa terhadap pembelajaran Bahasa Indonesia (2) untuk mengetahui kemampuan memahami bacaan pada siswa (3) untuk mencari hubungan antara sikap siswa terhadap pembelajaran Bahasa Indonesia dengan kemampuan memahami bacaan. Tanda-tanda yang menunjukkan keberhasilan penelitian akan ditunjukkan dengan tingginya hubungan antara sikap siswa terhadap pembelajaran Bahasa Indonesia dengan kemampuan memahami bacaan.

 

METODE

Metode penelitian yang digunakan adalah deskriptif dengan analisis korelasional. Populasi penelitian ini berjumlah 153 orang. Teknik pengambilan sampel yang digunakan adalah teknik Simple Random Sampling (sampel acak sederhana). Pengambilan sampel secara acak menggunakan kertas gulung yang berisikan nama-nama siswa yang berada di dalam populasi. Teknik pengumpulan data pada penelitian ini adalah teknik komunikasi tidak langsung berupa angket sikap dan teknik pengukuran berupa tes objektif instrumen penelitian divalidasi oleh dua orang dosen FKIP Untan. Berdasarkan hasil uji coba soal dan angket diperoleh kesahihan dan reliabilitas instrumen.

Jumlah populasi siswa kelas X SMA Negeri di kecamatan Paloh tahun pelajaran 2013/2014 adalah 153 orang. Sedangkan jumlah populasi yang diambil sebesar 25% dari populasi sebanyak 38 orang yang terdiri atas siswa kelas X SMA Negeri 1 Paloh sebanyak 29 orang dan siswa kelas X SMA Negeri 2 Paloh sebanyak 9 orang.

Variabel sikap diukur dalam bentuk skala Likert yang terdiri atas pernyataan-pernyataan lima alternatif jawaban: a = sangat setuju, b = setuju,           c = ragu-ragu, d = tidak setuju, dan e = sangat tidak setuju. Untuk pernyataan positif dan negatif mengacu pada pendapat Sugiyono (2010:87), sebagai berikut: Pernyataan positif: a = 4, b = 3, c = 2, d = 1, dan e = 0

Pernyataan negatif:     a = 0, b = 1, c = 2, d = 3, dan e = 4

Uji instrumen penelitian dilakukan di SMA Negeri 2 Teluk Keramat. Pada Uji validitas instrumen cara yang digunakan yaitu menggunakan analisis butir (Sugiyono, 2010:52). Setiap nilai yang ada pada setiap butir pertanyaan dikorelasikan dengan nilai total seluruh butir pertanyaan untuk suatu variabel dengan menggunakan rumus korelasi product moment. Syarat minimum untuk dianggap valid adalah r > 0,30.

rxy = .

 

Keterangan:

rxy        = Koefisien korelasi antara variabel X dan Y

N         = Banyaknya responden

X         = Variabel X

Y         = Variabel Y

xy         = Jumlah perkalian X dan Y

Uji reliabilitas instrumen dilakukan setelah uji validitas dilakukan pada setiap butir pertanyaan. Reliabilitas menunjuk pada suatu pengertian bahwa suatu instrumen cukup dapat dipercaya untuk digunakan sebagai alat pengumpul data karena instrumen tersebut sudah baik (Arikunto, 2010:178). Untuk mencari reliabilitas berupa angket, menggunakan rumus Spearman-Brown dengan rumus sebagai berikut.

r1.1 =

Keterangan:

r11               = reliabilitas instrumen

r1/21/2          = rxy yang disebutkan sebagai indeks korelasi antara dua belahan

instrumen.

Instrumen memiliki tingkat reliabilitas yang tinggi jika nilai koefisien yang diperoleh ≥ 0,60 (Imam Ghozali, 2002:133). Berdasarkan hasil perhitungan reliabilitas butir angket pada lampiran dengan menggunakan bantuan aplikasi program SPSS Versi 19, diperoleh hasil reliabilitas yang tinggi 0,78. Nilai r hitung lebih besar dibandingkan dengan r kritis yang bernilai 0,60, sehingga dapat disimpulkan bahwa instrumen angket tersebut reliabel atau dapat dipercaya.

Setelah semua data tersedia, langkah selanjutnya adalah menganalis data atau mengolah data. Analisis data merupakan hal yang sangat penting dalam setiap penelitian. Tanpa adanya suatu analisis, data yang telah diperoleh di lapangan atau dari informan yang lain tidak dapat dipahami oleh seseorang peneliti, apalagi orang lain. Adapun teknik analisis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah sebagai berikut.

Analisis Uji Prasyarat

Karakteristik data penelitian yang telah dikumpulkan sangat menentukan teknik analisis yang digunakan. Arikunto (2010:367) menjelaskan, bahwa sebelum dilakukan analisis data untuk kepentingan pengujian hipotesis, terlebih dahulu dilakukan pemeriksaan atau pengujian. Pengujian yang dilakukan menyangkut (1) pengujian normalitas dan (2) pengujian homogenitas. Uji normalitas pada penelitian ini dilakukan dengan menggunakan teknik statistik uji Kolmogorov-Smirnov (Uji K-S). Uji homogenitas pada penelitian ini dilakukan dengan menggunakan uji Levene. Data yang didapatkan diuji dan dianalisis dengan bantuan program komputer SPSS Versi 19.

Analisis Uji Hipotesis

Pengajuan hipotesis dilakukan setelah pengujian analisis atau uji prasyarat terpenuhi. Uji hipotesis ini bertujuan untuk menguji hipotesis yang telah ditentukan sebelumnya, yaitu membuktikan ada atau tidak hubungan antara sikap dengan kemampuan memahami bacaan. Hipotesis dalam penelitian ini dilakukan dengan korelasi product moment. Adapun rumus korelasi product moment yang digunakan penulis adalah sebagai berikut.

rxy = .

 

Keterangan:

rxy        = Koefisien korelasi antara variabel X dan Y

N         = Banyaknya responden

X         = Variabel X

Y         = Variabel Y

xy       = Jumlah perkalian X dan Y

Langkah selanjutnya adalah melakukan uji keberartian atau uji signifikansi nilai korelasi antara variabel sikap siswa terhadap pembelajaran bahasa Indonesia dengan kemampuan memahami bacaan. Uji signifikansi korelasi product moment secara praktis adalah dengan cara mengkonsultasikann harga r hitung dengan r tabel. Bila r hitung lebih kecil dari r tabel, maka Ho diterima dan Ha ditolak. Tetapi sebaliknya bila r hitung lebih besar dari r tabel (rh > r tabel) maka Ha diterima dan Ho ditolak. (Sugiyono, 2012:258)

Untuk mengetahui seberapa besar kontribusi variabel bebas terhadap variabel terikat ditentukan dengan rumus koefisien determinan. Dalam penelitian ini, perhitungan koefisien determinansi dihitung secara manual dengan rumus sebagai berikut.

 

KD = r2 x 100%.

Keterangan :

KD      = Koefisien Determinansi

r           = Koefisien korelasi

(Riduwan, 2004)

HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

 

Hasil Penelitian

Penelitian ini dilaksanakan pada siswa kelas X SMA Negeri di kecamatan Paloh. Melalui teknik pengambilan sampel yang digunakan, maka terpilihlah sampel-sampel yang tersebar di SMA Negeri 1 Paloh dan SMA Negeri 2 Paloh. Sampel penelitian berjumlah 38 siswa yang tersebar di dua sekolah yaitu sebanyak 29 siswa di SMA Negeri 1 Paloh dan 9 siswa di SMA Negeri 2 Paloh.

Dari hasil penelitian ini diperoleh dua kelompok data, yaitu data angket sikap siswa terhadap pembelajaran Bahasa Indonesia dan kemampuan memahami bacaan. Data dari hasil penelitian ini yaitu berupa hasil angket sikap siswa terhadap pembelajaran Bahasa Indonesia dengan 18 butir pernyataan yang telah disiapkan oleh peneliti. Skor tertinggi yang mungkin dicapai oleh siswa adalah 72 dan skor terendah yang mungkin dicapai oleh siswa adalah 0.

Berdasarkan tabel 2 terlihat bahwa terdapat 18 siswa dengan kategori sangat positif, 14 siswa dengan kategori positif, 6 siswa dengan kategori negatif, dan tidak ada siswa yang berkategori sangat negatif. Rata-rata siswa SMA Negeri di kecamatan Paloh yang diperoleh sebesar 56,5 dengan kategori positif. Jadi, berdasarkan interval sikap siswa pada tabel 2 dapat dikatakan bahwa secara keseluruhan sikap siswa terhadap pembelajaran Bahasa Indonesia berkategori positif. angket digunakan untuk mengungkapkan sikap siswa terhadap pembelajaran Bahasa Indonesia. Angket sikap terhadap pembelajaran ini berisi 18 pernyataan yang terdiri 9 pernyataan positif (favorable) dan 9 pernyataan negatif (unfavorable).

Untuk menentukan kategori sikap siswa berdasarkan hasil pengukuran tersebut, peneliti menggunakan distribusi normal. Skor ideal (SI) diperoleh bila siswa memilih sangat setuju (SS) untuk pernyataan positif dan sangat tidak setuju (STS) untuk pernyataan negatif. Skor ideal adalah skor tertinggi yang mungkin dicapai oleh siswa. Berdasarkan banyaknya butir pernyataan angket dan skor tertinggi alternatif jawaban dapat diketahui skor ideal (SI) adalah 72.

Tabel 1

Kriteria Sikap

Skor Siswa Kategori Sikap
X ≥ 0,8 X SI Sangat positif atau sangat tinggi
0,7 X SI ≤ X ≤ 0,8 X SI Positif atau tinggi
0,5 X SI ≤ X ≤ 0,7 X SI Negatif atau rendah
X < 0,5 SI Sangat Negatif atau sangat rendah

 

Berdasarkan hasil perhitungan bobot pada angket motivasi belajar. distribusi frekuensi sikap siswa terhadap pembelajaran dapat disajikan pada tabel 3 berikut ini:

Tabel 2

Distribusi Frekuensi Sikap Siswa

Skor Siswa Kategori Sikap F Persentase
Di atas 57,6 Sangat positif 18 47%
50,4 Sampai 57,5 Positif 14 37%
36 Sampai 50,3 Negatif 6 16%
Di bawah < 36 Sangat Negatif 0 0%
Total 100%

Selanjutnya untuk menentukan sikap siswa secara keseluruhan adalah dengan cara menjumlahkan seluruh skor siswa (∑xi) kemudian membagi hasil penjumlahan dengan jumlah siswa (N) sehingga diperoleh skor rata-rata siswa . Berdasarkan angket sikap, diketahui jumlah seluruh skor siswa adalah 2.149 dan jumlah siswa (N) adalah 38.

X =

X =

X = 56,5

Keterangan:

X = Nilai kemampuan siswa berdasarkan keseluruhan aspek

Xi = jumlah total nilai siswa berdasarkan keseluruhan aspek

N = Jumlah sampel (Sudjana, 1989: 67)

 

Data dari hasil penelitian ini yaitu berupa hasil tes kemampuan memahami bacaan pada siswa yang terdiri dari 10 butir soal objektif dengan skor antara 0 sampai 10. Skor tertinggi yang mungkin dicapai oleh siswa adalah 10 dan skor terendah yang mungkin dicapai oleh siswa adalah 0. Hasil analisis kemampuan memahami bacaan dapat disajikan pada Tabel 3 berikut ini.

Tabel 3

Deskripsi Hasil Analisis Kemampuan Memahami Bacaan

Keterangan Nilai
Jumlah Skor 273
Rata-rata Skor 7,18
Skor Tertinggi 9
Skor Terendah 6
Jumlah Siswa 38

 

Untuk mengetahui kriteria kemampuan memahami bacaan pada siswa digunakan mean ideal (Mi) dan standar deviasi (SDi). Oleh karena itu, untuk mengetahui kecenderungan masing-masing skor variabel digunakan skor ideal dari subjek penelitian sebagai kriteria perbandingan. Pengidentifikasian kecenderungan variabel kemampuan memahami bacaan dikategorikan menjadi tiga. Ketiga kategori tersebut tinggi, sedang, dan rendah. Kategori rendah adalah nilai di bawah M – 1 SD, yang termasuk kategori sedang adalah nilai yang terletak antara M – 1 SD sampai M + 1 SD, dan yang termasuk kategori tinggi adalah nilai yang berada di atas M + 1 SD. Harga mean ideal (Mi) dan standar deviasi ideal (SDi) dihitung berdasarkan norma berikut ini.

Mi        = (skor tertinggi ideal + skor terendah ideal)

SDi      = (skor tertinggi ideal – skor terendah ideal)

(Nurkancana dan Sunarta dalam Suandi, 2003:35)

Berdasarkan tes kemampuan memahami bacaan diketahui skor tertinggi ideal 9 dan skor terendah ideal adalah 6. Selanjutnya dapat diketahui Mi dan SDi sebagai berikut. Mi = 7,5 dan SDi = 0,5. Setelah diketahui mean ideal dan standar deviasi ideal, dapat disusun kriteria sebagai berikut.

Tinggi              = X > 7,5 + 0,5 = X > 8

Sedang                        = (7,5 – 0,5) ≤ X ≤ (7,5 + 0,5) = ≤ 7 ̶ ̶̶ ≤8

Rendah            = X < 7,5 – 0,5 = X < 7

Berdasarkan data tersebut dapat dibuat distribusi kecenderungan sebagai berikut.

Tabel 4

Distribusi Frekuensi Kemampuan Memahami Bacaan

Interval Kategori Frekuensi
Di atas 8 Tinggi 1
7 sampai 8 Sedang 29
Di bawah 7 Rendah 8
Total 38

Hipotesis yang menyatakan bahwa terdapat hubungan yang signifikan antara sikap siswa terhadap pembelajaran bahasa Indonesia dengan kemampuan memahami bacaan bisa diuji menggunakan perhitungan korelasi Product Moment. Dari perhitungan menggunakan program komputer SPSS versi 19 diperoleh rxy = 0,645. Meskipun telah diperoleh nilai koefisien korelasi dari perhitungan, namun keberartian (signifikansi) nilai tersebut perlu diuji. Langkah terakhir ini adalah melakukan uji keberartian atau uji signifikansi nilai korelasi antara variabel sikap siswa terhadap pembelajaran Bahasa Indonesia dengan kemampuan memahami bacaan. Penghitungan uji signifikansi korelasi product moment adalah dengan mengkonsultasikann harga r hitung dengan r tabel. Bila r hitung lebih kecil dari r tabel, maka Ho diterima dan Ha ditolak. Tetapi sebaliknya bila r hitung lebih besar dari r tabel (rh > r tabel) maka Ha diterima dan Ho ditolak. Berdasarkan penghitungan dengan program komputer SPSS versi 19 diperoleh r hitung sebesar 0,645 dengan jumlah responden (N) sebanyak 38 orang. Jika r hitung dikonsultasikan dengan r tabel pada taraf signifikansi 5% dengan N = 38 diperoleh r tabel sebesar 0,320.

Koefisien determinan sikap terhadap pembelajaran Bahasa Indonesia dengan kemampuan memahami bacaan sebesar 41,6 (diperoleh dari harga koefisien korelasi dikuadratkan lalu dikalikan 100). Hal ini berarti sekitar 41,6% variansi kemampuan memahami bacaan dapat dijelaskan oleh sikap terhadap pembelajaran Bahasa Indonesia. Dengan kata lain, variabel sikap terhadap pembelajaran Bahasa Indonesia memberi kontribusi (sumbangan) terhadap kemampuan memahami bacaan sebesar 41,6%.

Pembahasan

Dalam penelitian ini fokus penelitian ini adalah sikap siswa terhadap pembelajaran Bahasa Indonesia dengan kemampuan memahami bacaan pada siswa kelas X SMA Negeri di kecamatan Paloh tajun pelajaran 2013/2014. Sehubungan dengan itu, pengambilan data menggunakan angket dan tes kemampuan membaca yang dilakukan pada siswa kelas X SMA Negeri dikecamatan Paloh dengan jumlah responden sebanyak 38 orang.

Hasil analisis deskriptif variabel pertama menunjukkan bahwa sikap siswa terhadap pembelajaran Bahasa Indonesia adalah positif. Hal ini berdasarkan tabel 13 yang menjelaskan sikap tiap siswa terhadap pembelajaran bahasa Indonesia tersebar pada kategori sikap sangat positif sebanyak 18 siswa (47%), sikap positif sebanyak 14 siswa (37%), sikap negatif sebanyak 6 orang (16%), dan sikap negatif tidak ada (0%). Secara keseluruhan rata-rata sikap responden terhadap pembelajaran Bahasa Indonesia adalah 56,5. Berdasarkan perhitungan rata-rata tersebut, sikap siswa secara keseluruhan terhadap pembelajaran Bahasa Indonesia adalah positif. Hal ini ditunjukkan oleh rata-rata skor siswa sebesar 56,55 berada dalam interval 50,4 sampai 57,5 yang merupakan batas interval sikap positif. Ini berarti secara keseluruhan responden mendukung (favorable) pembelajaran bahasa Indonesia.

Hasil analisis deskriptif kedua yaitu kemampuan memahami bacaan siswa kelas X SMA Negeri di kecamatan Paloh menunjukkan bahwa kemampuan memahami bacaan mereka adalah sedang. Hal ini berdasarkan tabel 14 yang menjelaskan bahwa siswa yang memiliki kemampuan memahami bacaan dengan kategori tinggi sebanyak 1 siswa (2,63%), siswa yang memiliki kemampuan memahami bacaan dengan kategori sedang sebanyak 29 siswa (76,42%), dan siswa yang memiliki kemampuan memahami bacaan dengan kategori rendah sebanyak 8 siswa (21,05%). Dengan demikian dapat ditarik kesimpulan bahwa kemampuan memahami bacaan siswa SMA Negeri di kecamatan Paloh tahun pelajaran 2013/2014 berdasarkan distribusi frekuensi berada pada kategori sedang sebanyak 29 orang (76,32 %).

Hasil analisis korelasional antarvariabel menunjukkan bahwa sikap siswa terhadap pembelajaran Bahasa Indonesia memiliki hubungan positif dan signifikan dengan kemampuan memahami bacaan. Hubungan positif ini mengisyaratkan bahwa sikap siswa terhadap pembelajaran Bahasa Indonesia berjalan seiring dengan kemampuan memahami bacaan. Artinya, meningkatkan sikap siswa terhadap pembelajaran Bahasa Indonesia senantiasa diikuti dengan meningkatnya kemampuan memahami bacaan pada siswa, demikian pula dengan menurunnya aspek tersebut (sikap siswa terhadap pembelajaran Bahasa Indonesia) juga akan diikuti menurunnya kemampuan memahami bacaan pada siswa. Sifat hubungan yang demikian melahirkan pemikiran bahwa sikap siswa terhadap pembelajaran Bahasa Indonesia dapat ditelusuri, dijelaskan, atau bahkan diramalkan melalui kemampuan memahami bacaan.

Hal yang dipersoalkan adalah seberapa kuat hubungan antara sikap siswa terhadap pembelajaran Bahasa Indonesia selaku variabel bebas (predicator) dengan kemampuan memahami bacaan selaku variabel terikat (respon). Cukup kuatkah hubungan antara variabel bebas (predicator) dengan variabel terikat (respon) sehingga variabel bebas dapat dijadikan sebagai landasan berpijak yang kuat untuk menjelaskan dan meramalkan terjadinya respon. Pertanyaan ini dapat dijawab dengan melihat besarnya sumbangan (koefisien determinan) variabel bebas terhadap variabel terikat dan besarnya koefisien korelasi.

Pada bagian pengujian hipotesis telah dipaparkan bahwa koefisien korelasi antara sikap siswa terhadap pembelajaran Bahasa Indonesia dengan kemampuan memahami bacaan sebesar 0,645. Dari koefisien korelasi ini dapat diperoleh besar sumbangan variabel bebas (predicator) terhadap variabel terikat (respons), yaitu dengan menguadratkan koefisien korelasi tersebut (sehingga didapat koefisien determinan) kemudian mengkalikannya dengan 100 persen. Dengan demikian, akan dihasilkan nilai sumbangan variabel bebas (predicator) dengan variabel terikat (respons).

Berdasarkan hasil perhitungan korelasi antara sikap siswa terhadap pembelajaran Bahasa Indonesia dengan kemampuan memahami bacaan sebesar 0,645 diperoleh koefisien determinan sebesar 41,6%. Hal ini berarti 41,6% variasi kemampuan memahami bacaan pada siswa kelas X SMA Negeri di kecamatan Paloh tahun pelajaran 2013/2014 dapat dijelaskan oleh sikap siswa terhadap pembelajaran Bahasa Indonesia. Dengan kata lain, sikap siswa terhadap pembelajaran Bahaa Indonesia memberikan kontribusi sebesar 41,6% kepada keterampilan memahami bacaan.

Dari uraian di atas tampak bahwa hipotesis nol yang menyatakan “Tidak ada hubungan antara sikap siswa terhadap pembelajaran Bahasa Indonesia dengan kemampuan memahami bacaan” ditolak dan hipotesis alternatif atau hipotesis kerja yang menyatakan “Terdapat hubungan antara sikap siswa terhadap pembelajaran Bahasa Indonesia dengan kemampuan memahamai bacaan” diterima. Temuan ini mengandung makna bahwa secara umum, terdapat hubungan antara sikap siswa terhadap pembelajaran Bahasa Indonesia dengan kemampuan memahami bacaan siswa kelas X SMA Negeri di kecamatan Paloh tahun pelajaran 2013/2014.

SIMPULAN DAN SARAN

Simpulan

Berdasarkan hasil analisis statistik yang telah dilakukan menggunakan aplikasi komputer SPSS versi 19, disimpulkan bahwa secara keseluruhan sikap siswa kelas X SMA Negeri di kecamatan Paloh tahun pelajaran 2013/2014 terhadap pembelajaran bahasa Indonesia berkategori positif. Artinya secara keseluruhan responden mendukung pembelajaran bahasa Indonesia, dalam hal ini siswa cenderung untuk menyenangi, mendekati, menerima, bahkan mengharapkan keberadaan pembelajaran Bahasa Indonesia. Hal ini ditunjukkan oleh rata-rata skor keseluruhan responden sebesar 56,5 terletak pada interval antara 50,4 sampai 57,5 yang merupakan batas skor positif. Tingkat kemampuan memahami bacaan siswa SMA Negeri kelas X di kecamatan Paloh tahun pelajaran 2013/2014 berkategori sedang . Hal ini ditunjukkan oleh tabel distribusi frekuensi 76,32% terletak pada interval 7 sampai 8 yang merupakan batas skor untuk kategori sedang. Terdapat hubungan yang positif dan signifikan antara sikap siswa terhadap pembelajaran Bahasa Indonesia dengan kemampuan memahami bacaan. Artinya, makin baik sikap siswa terhadap pembelajaran Bahasa Indonesia, makin baik pula kemampuan memahami bacaan pada siswa. Sebaliknya makin turun sikap siswa terhadap pembelajaran Bahasa Indonesia, makin turun pula kemampuan memahami bacaan pada siswa. Kontribusi sikap terhadap kemampuan memahami bacaan dilihat dari koefisien determinan sebesar 41,6%. Hal ini berarti variabel bebas memberikan kontribusi yang besar terhadap perubahan pada variabel terikat, sedangkan 58,4% (100% – 41,6%) dipengaruhi variabel lain.

Saran

Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan, serta beberapa kesimpulan yang ada, penulis mengemukakan beberapa saran yang dapat dijadikan sebagai bahan masukan dan pertimbangan sebagai berikut: (1) berdasarkan hasil penelitian yang diperoleh sikap siswa SMA Negeri di kecamatan Paloh berkategori positif atau tinggi. Oleh karena itu, guru Bahasa Indonesia harus berusaha mengembangkan sikap positif siswa terhadap pembelajaran Bahasa Indonesia dan mempertahankan sikap mereka yang sudah sangat positif atau sangat tinggi. (2) siswa harus meningkatkan kembali kemampuan mereka pada keterampilan memahami bacaan dan meningkatkan kembali sikap positif mereka terhadap pembelajaran Bahasa Indonesia. Jika sikap siswa terhadap pembelajaran Bahasa Indonesia sangat positif maka untuk kemampuan memahami bacaan, mereka tidak akan mengalami kesulitan yang berarti. (3) bagi peneliti lain yang ingin mengkaji penelitian ini lebih lanjut, sebaiknya memperhatikan beberapa faktor yang mempengaruhi sikap siswa terhadap pembelajaran bahasa Indonesia saja.

DAFTAR RUJUKAN

Arikunto, Suharsimi. 2010. Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktik. Jakarta: Rineka Cipta

Azwar, Saifuddin. 2013. Sikap Manusia Teori dan Pengukurannya. Yogyakarta: Pustaka Belajar

Djaali. 2008. Psikologi Pendidikan. Jakarta: Bumi Aksara.

Riduwan. 2004. Metode dan Teknik Menyusun Tesis. Bandung: Alfabeta

Santoso, Singgih. 2012. SPSS Statistik Non Parametrik. Jakarta: Elex Media Komputindo

Sobur, Alex. 2003. Psikologi Umum dalam Lintasan Sejarah. Bandung: Pustaka Setia

Sugiyono. 2012. Metode Penelitian Pendidikan. Bandung: Alfabeta

Tampubolon, DP. 2008. Kemampuan Membaca: Teknik Membaca Efektif dan Efisien. Bandung: Angkasa

Tarigan, Henry Guntur. 2008. Membaca Sebagai Suatu Keterampilan Berbahasa. Bandung: Angkasa

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s